Because Baby

Because Baby
Part 47



*Anggaplah mereka nanti berbicara pakai bahasa jawa ya, sampai Devan protes barulah mereka berbicara pakai bahasa Indonesia. Author males kalau harus menterjemahkan hehe. Kan ribet ngetik dua kali*


*


*


🌴🌴🌴


*


Devan Delisha dan Delvin sudah sampai dirumah Bambang Sutowijoyo adiknya Ayah Delisha. Begitu sampai di Bandara mereka langsung memesan Taxi online lalu menuju rumah pak lek.


"Assalamualaikum Pak lek." Delisha terus mengetuk pintu kayu berwarna cokelat itu, sudah beberapa kali Delisha mengetuknya namun tidak ada tanda-tanda jawaban dari dalam rumah tersebut.


"Mbak Delisha?" seorang gadis seumuran dengan Delisha terlihat kaget dengan kedatangan Delisha.


Delisha pun menoleh ke belakang. "Lestari?"


"Ya Allah... ini beneran Mbak Delisha?" gadis itu langsung berjalan cepat lalu memeluk Delisha dan mereka saling berpelukan melepas rindu.


Delisha melepas pelukan mereka. "Kamu darimana Tari? Aku sudah mengetuk pintu berulang kali namun tidak ada sahutan dari dalam."


Lestari hanya memperlihatkan tas mukena yang dibawanya lalu Delisha mengangguk paham. "Pak lek kemana?" tanya Delisha.


"Bapak masih di mushola paling sebentar lagi sampai rumah, ayo masuk dulu." jawab Lestari, lalu Lestari menatap Devan dan Delvin, dan Devan hanya membalasnya dengan senyum tipis, Devan juga tidak paham dengan apa yang di bicarakan kedua wanita itu.


Pintu terbuka mereka segera masuk lalu duduk di ruang tamu, Devan duduk terlebih dahulu bersama Delvin.


Sebelum Delisha duduk, Lestari lebih dulu menarik lengan Delisha menuju dapur. "Mereka siapa Mbak?"


Delisha menggeleng. "Jawabnya nanti saja kalau pak lek sudah datang." jawab Delisha lalu meninggalkan Lestari yang masih membuat minuman untuk mereka.


Delisha duduk di kursi panjang bersama Devan dan Delvin. Devan mencondongkan tubuhnya. "Wanita tadi siapa?" tanya Devan berbisik, takutnya terdengar oleh orangnya.


"Dia Lestari anaknya pak lek." jawab Delisha.


"Sekilas dia mirip kamu ya, cuma beda dikit, kulit kamu lebih putih dan hidung kamu lebih mancung dan--." Devan menjeda kalimatnya lalu lebih mendekatkan bibirnya di telinga Delisha. "Dan kamu lebih sexy." bisik Devan lagi dan di balas tatapan tajam dari Delisha.


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikumsalam, Pak lek?" Delisha langsung berdiri saat Bambang memasuki rumah sembari mengucap salam.


"Kamu Delisha?" tanya Bambang seakan tidak percaya, karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu.


Delisha berjalan ke arah Bambang lalu mencium punggung tangannya. "Iya pak lek ini Delisha." jawab Delisha.


Bambang mengusap bahu Delisha. "Kamu kemana saja nduk? Sudah lama kamu tidak mengunjungi pak lek, pak lek kerumah kamu yang dulu tapi katanya rumah itu sudah di jual."


"Ceritanya panjang pak lek, nanti Delisha ceritakan." jawab Delisha lalu dia kembali duduk di kursi di sebelah Devan.


"Itu mase dan tole siapa?" tanya Bambang sembari menatap Devan dan Delvin.


Devan tersenyum geli sendiri saat dirinya di panggil 'Mas' oleh Bambang, membuat Delisha memiringkan kepalanya. "Kenapa senyum-senyum?" bisik Delisha.


"Di panggil mas membuat aku teringat waktu kita awal-awal bertemu, kamu juga manggil aku dengan sebutan itu." jawab Devan juga berbisik.


"Mau aku panggil mas lagi?"


"Devan ih! Kamu tuh y--."


"Ehemm."


Suara deheman dari Bambang menghentikan kalimat Delisha.


"Mase dan tole siapa nduk?" tanya Bambang lagi.


Devan menyenggol lengan Delisha. "Ngomongnya pakai bahasa Indonesia Mom, aku tidak paham kalian ngomong apa."


Delisha tersenyum lalu menatap Bambang. "Kita ngomongnya pakai bahasa Indonesia saja pak lek, Mase tidak paham."


"Iya." jawab Bambang singkat.


"Kenalkan dia Devan calon suami Delisha, dan kami kesini untuk meminta pak lek menjadi wali nikah Delisha."


Bambang mengangguk paham. "Lalu tole siapa?" tanya Bambang lagi, karena pertanyaanya dua baru di jawab satu oleh Delisha.


"Dia Delvin anak Delisha." jawab Delisha lirih sambil menunduk.


'BRAKK!!' Bambang menggebrak meja keras, untung mejanya terbuat dari kayu kalau terbuat dari kaca mungkin sudah hancur berkeping-keping. "KALIAN BELUM MENIKAH TAPI SUDAH PUNYA ANAK???!! SELAMA INI KALIAN ZINA??!!" Bambang langsung tersulut emosi dan suasana berubah menjadi tegang.


Delvin sampai berjengkit kaget. "Bundaaaa... Apin takut."


Delisha segera beranjak dari kursi lalu menuju dapur dan hendak menyerahkan Delvin pada Lestari, bocah sekecil Delvin belum pantas melihat perdebatan orang dewasa. "Tari tolong bawa Delvin keluar sebentar."


"Nggak mau." tolak Delvin lalu semakin mengeratkan pelukannya pada Bundanya.


"Delvin, Bulek punya boneka Dinosaurus besar loh, mau nggak?" rayu Lestari.


Delvin menatap Lestari.


"Boneka Beruang juga punya." lanjut Lestari sambil tersenyum. "Ayo." Lestari merentangkan kedua tangannya hendak mengambil alih Delvin dari gendongan Bundanya.


Akhirnya Delvin mau pergi bersama Lestari dan Delisha kembali ke ruang tamu menemani Devan menghadapi Bambang.


"Maaf." satu kata yang mampu keluar dari mulut Devan.


Bambang berjalan mendekati Devan. "ANAK KALIAN SUDAH SEBESAR ITU DAN KALIAN BARU MAU MENIKAH??!! KALIAN BERZINA SELAMA BERTAHUN-TAHUN???!! DIMANA OTAK KALIAN??? KALIAN TIDAK TAKUT HUKUMAN DARI TUHAN??!!!" Bambang masih terselimuti emosi karena keponakannya salah jalan. 'PLAKK' satu tamparan mendarat di pipi Devan lagi.


Delisha menutup mulutnya saat melihat Devan di tampar Bambang, air matanya langsung menggenang di pelupuk matanya.


"Ya Tuhan apa lagi ini? Sesulit inikah memperjuangkan cinta?" batin Devan.


Dulu Devan hanya tinggal membayar lalu bisa bersenang-senang dengan Delimanya sampai puas. Tapi sekarang? Untuk memiliki Delimanya seutuhnya Devan harus mendapat pukulan dan tamparan dari tiga pria, Alvin Ezra dan Bambang.


*


*


Maaf bukan maksud Author berbelit-belit, tapi cinta memang butuh perjuangan dan pengorbanan kan?? Ini adalah salah satu bentuk perjuangan dan pengorbanan Devan untuk memiliki Delimanya, lagi pula Devan juga sudah mendapat bonus dari hubungan mereka yaitu Delvin.


*


Yang sabar ya Devan, semakin sulit kita berusaha mendapatkan sesuatu maka semakin sulit pula sesuatu itu terlepas dari tangan kita. Eaahhh... πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜