Because Baby

Because Baby
Part 63



*


*


Devan beranjak dari kursi kemudian meninju tembok di sebelah kursinya beberapa kali hingga tangannya memar. Devan frustasi dengan keadaan ini, dia tidak tau bagaimana cara meluapkan apa yang ia rasakan saat ini.


"Devan!!!" jerit Aleza.


Alvin segera menghentikan aksi Devan, kalau tidak Devan bisa melukai dirinya sendiri, Alvin menahan tangan Devan yang hendak meninju lagi. "Stop Dev!!! Lo tidak boleh begini! Lo harus kuat untuk menguatkan Delisha."


Devan menyandarkan tubuhnya di tembok yang ia tinju tadi. "Delima sudah lama tidak bekerja seperti itu, kenapa penyakit itu sekarang malah datang?"


Alvin melepas tangan Devan kemudian kembali duduk di kursinya. "Justru yang di alami Delisha itu terlalu cepat Dev, virus itu biasanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh tahun untuk berubah menjadi sel kanker. Ini baru 8 tahun Dev."


Perlahan tubuh Devan luruh ke lantai. "Ya Tuhan.. kenapa harus Delima yang sakit? Kenapa bukan aku? Aku yang bersalah disini, aku yang berdosa. Hukum aku Tuhan jangan hukum Delima." lirihnya.


Alvin membantu Devan berdiri kemudian memapah Devan ke kursi lagi. "Duduk dulu, tenangin diri lo."


Devan menunduk meletakkan kedua sikunya di atas lutut dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Alvin mengusap bahu Devan. "Yang sabar."


Devan menegakkan tubuhnya lalu menoleh ke arah Alvin. "Elo dokter Vin, lo pasti tau cara nyembuhin penyakit Delima."


Alvin menghela napas pelan. "Gue bukan dokter spesialis kanker Dev, yang di butuhkan Delisha saat ini dokter spesialis kanker supaya Delisha mendapat penanganan yang tepat."


Aleza beringsut mendekati Devan. "Kamu harus kuat Dev, supaya Delisha juga kuat melawan penyakitnya."


"Betul kata tante Leza, jangan tunjukkin kesedihan lo di depan Delisha, dukungan dari orang-orang terdekatnya sangat di butuhkan Delisha saat ini." Alvin menimpali.


"Sana masuk dulu! Delisha sudah menunggu kamu dari tadi." ujar Aleza.


Devan menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan kemudian beranjak dari kursinya.


Alvin juga beranjak dari kursi namun Aleza segera menahannya. "Kita disini dulu Vin, nanti kita nyusul." ujar Aleza dan di angguki oleh Alvin, dan Alvin kembali duduk di tempatnya.


Devan membuka pintu rawat Delisha dengan pelan lalu menutupnya juga pelan, Devan bisa melihat istrinya sedang berbaring membelakangi dirinya, menatap lurus ke arah jendela kamar tersebut.


Devan melangkah dengan pelan mendekati ranjang kemudian duduk di tepi ranjang.


Delisha membalikkan tubuhnya saat merasakan ada beban lain di ranjangnya. "Devan?" Delisha segera beringsut duduk.


Devan menarik tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya, wanita yang sangat ia rindukan dalam satu bulan ini tidak ditemuinya. "Aku sangat merindukanmu Delima."


Delisha langsung terisak di pelukan Devan, saat ini Delisha memang membutuhkan sandaran dan Devan lah orang yang tepat untuk dirinya bersandar. "Dev, aku takut."


Devan terus memeluk Delisha bahkan semakin erat. "Tidak usah takut." kata Devan untuk menenangkan Delisha, padahal dirinya sendiri lebih takut. "Kita akan cari pengobatan yang terbaik buat kamu kalau perlu kita keluar Negeri, dan kamu harus kuat untuk melawan penyakit itu demi Delvin dan demi aku."


Delisha mendongak untuk menatap Devan. "Kalau aku tidak sembuh bagaimana?"


Devan menunduk kemudian menghapus air mata di pipi Delisha lalu mengecup kedua mata Delisha. "Kamu harus yakin kalau kamu bisa sembuh. Kita belum beli mobil yang kamu mau itu kan? Jadi kamu harus sembuh terus kita beli mobilnya."


Delisha menggeleng lesu. "Aku sudah tidak menginginkan mobil itu lagi."


"Kenapa?"


"Yang aku mau saat ini adalah sembuh dari penyakit ini, aku ingin merawat anak kita sampai dewasa."


Devan kembali mengeratkan pelukannya. "Kamu pasti sembuh sayang."


Terdengar suara langkah kaki seseorang yang memasuki kamar tersebut membuat Devan dan Delisha melepas pelukan mereka kemudian menoleh ke arah pintu, Aleza dan Alvin memasuki kamar tersebut. Aleza duduk di sofa dan Alvin duduk di kursi samping ranjang.


"Apa kata dokter Sha? Sudah memasuki stadium berapa?" tanya Alvin to the point.


"Stadium 2A." jawab Aleza dari sofa.


Alvin berfikir sejenak. "Aku tau dokter spesialis kanker terbaik di kota ini."


"Siapa Vin?" tanya Devan antusias.


"Aisyah, dia adalah dokter spesialis kanker, dia pasti bisa membantu kalian."


"Kamu yakin?" tanya Delisha.


"Kenapa tidak? Dia sudah menyelamatkan banyak pasien kanker dan dia juga baik tidak usah khawatir. Kalau kalian mau kita bisa langsung membuat janji dengannya."


"Disini aja dulu, kalau di luar Negeri bagaimana dengan Delvin."


"Delvin akan baik-baik saja Sha, tidak usah khawatir." jawab Aleza.


"Tapi aku mau disini dulu, kita lihat cara penanganannya barulah kita bisa buat keputusan."


"Ya sudah, kita buat janji dengan Aisyah secepatnya."


*


🌴🌴🌴


*


Hari ini adalah jadwalnya Delisha bertemu dengan Aisyah, untuk konsultasi terlebih dahulu barulah setelahnya Delisha akan mengambil keputusan, apakah akan menjalani pengobatan disini atau keluar Negeri.


Devan memasuki ruangan Aisyah beserta Delisha disampingnya. "Selamat siang dok."


"Silahkan duduk." titah Aisyah.


Devan dan Delisha berjalan menuju kursi kemudian duduk di kursi tersebut.


"Alvin sudah cerita tentang penyakit kamu." ujar Aisyah to the point. "Kita langsung mulai saja pembahasannya."


"Baik dok." jawab Delisha membuat Aisyah terkekeh. "Panggil Aisyah aja tidak usah formal begitu, anggap aku teman kamu sama seperti Alvin."


"Baiklah, Aisyah." jawab Devan.


Aisyah membenarkan posisi duduknya kemudian membuka map hasil tes Delisha waktu itu dan menelitinya secara seksama. "Perkembangan sel kanker kamu baru memasuki stadium 2A, aku rasa kalian tidak perlu keluar Negeri."


"Terus?" tanya Devan.


"Ada dua cara yang menjadi pilihan dan kalian bisa memilih salah satunya. Yang pertama adalah kemoterapi, aku rasa kalian pasti tau tentang kemoterapi dan efek dari kemoterapi."


"Tolong jelaskan mendetail." pinta Delisha.


"Efek dari kemoterapi adalah, rambut rontok, mual, kehilangan nafsu makan, imun tubuh menurun, sariawan dan yang paling parah efek kemoterapi bisa merusak fungsi ginjal."


"Yang kedua?" tanya Devan.


"Histerektomi." jawab Aisyah.


Devan dan Delisha saling tatap, nama itu masih asing di telinga mereka.


"Histerektomi atau bisa di bilang pengangkatan rahim, itu lebih di sarankan. Karena kita bisa langsung membuang penyakit itu tanpa proses yang melelahkan dan menyiksa seperti kemoterapi."


Devan dan Delisha kembali saling tatap.


"Pilih yang mana?" tanya Aisyah.


"Yang pertama." jawab Delisha.


"Yang kedua." sahut Devan.


Aisyah menatap Delisha dan Devan bergantian. "Silahkan di bahas dirumah dulu dan kalian bisa datang kesini jika sudah punya keputusannya."


Devan memutar tubuhnya menghadap Delisha. "Kita pilih yang kedua aja."


"Aku maunya yang pertama." kekeh Delisha. "Aku masih ingin hamil Dev."


"Kalian bisa bicarakan dulu dirumah, dan untuk pilihan yang pertama, bukan hanya kemoterapi saja tapi di tambah radioterapi dan efek dari radioterapi tersebut adalah, kelelahan, kulit terasa panas seperti terbakar, dan yang paling parah adalah mengurangi tingkat kesuburan. Maka dari itu kami sangat menyarankan untuk pilihan yang kedua."


*


*


Maaf ya jika ada yang salah dari penjelasan dari Dokternya, karena Author bukan dokter jadi Author tidak tau secara mendetail, ini aja hasil baca di google. 🀭🀭🀭


Sembuh atau tidak nih?? Kalau mau sembuh like komen dan vote yang banyak dulu, baru Author mau sembuhin Delisha. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Author mah bebas. 🀣🀣🀣