
๐ด๐ด๐ด
Leo masuk ke ruang kerja Devan dengan membawa data wanita bernama Delima sesuai permintaan Devan.
"Ini tuan, data yang anda minta." ucap Leo sembari meletakkan Map berisi beberapa lembar kertas berisi data wanita bernama Delima.
Devan segera membuka Map tersebut, dia menajamkan pandangannya meneliti satu persatu data yang tertera di kertas itu, namun sampai di lembar terakhir Devan tidak menemukan Delima yang dia cari.
"Arrghhhh!!!!" Devan melempar kertas-kertas tersebut hingga berserakan di lantai. "Kamu dimana Delima?" lirihnya frustasi.
"Apa anda punya fotonya tuan? dengan menggunakan fotonya kita akan lebih mudah mencarinya."
Devan menggeleng. Devan sama sekali tidak mempunyai foto Delima, selama ini Devan tidak pernah kepikiran untuk memotret Delima, karena dia tidak menyangka akan kehilangan jejak Delima.
Devan melempar seisi meja kerjanya hingga membuat Leo berjengkit kaget, bahkan Ezra juga masuk ruangan Devan saat mendengar kekacauan di dalam ruangan putranya.
"Ada apa ini?" tanya Ezra dari ambang pintu.
Tidak ada yang menjawab, selanjutnya Ezra menatap Leo seakan bertanya apa yang terjadi, dan Leo hanya menggeleng sebagai jawaban.
Ezra mendekati Devan. "Devano! kamu jangan childish begitu, kalau ada masalah selesaikan baik-baik, cari jalan keluarnya!"
Devan mengeraskan rahangnya. Apa tadi yang papinya bilang 'childish'? Devan hanya meluapkan emosi, dia sedang frustasi.
Devan hendak keluar ruangan karena tidak mau menjadi tambah emosi dengan kehadiran papinya, namun langkahnya terhenti saat handphone di saku celananya berdering.
"Karin?" gumamnya, Devan menatap sesaat layar handphonenya kemudian menggeser tombol hijau dengan malas.
"Ada apa Karin?"
"Katanya kamu sudah pulang, kenapa tidak kerumah?" jawab Karin dari seberang telefon.
"Proses perceraian kita sedang berjalan, jadi jangan minta yang tidak-tidak! apalagi memintaku ke rumah"
"Tapi sampai saat ini statusku masih istrimu Devan!!" teriak Karin dari seberang.
"Lebih tepatnya calon mantan istri."
Leo dan Ezra yang menyaksikan itu hanya saling lirik.
Detik selanjutnya Ezra mendekati Devan dan mengusap bahunya. "Devan, sebenarnya ada masalah apa? sampai kamu seperti ini." tanya Ezra dengan nada lebih lembut.
Devan menghembuskan nafasnya berat. "Delima pi, Devan kehilangan Delima."
Ezra menaikkan satu alisnya. "Delima? siapa Delima?"
"Arrghhhh!!" Devan kembali frustasi, dia tidak mungkin menceritakan siapa Delima sebenarnya.
Ezra memungut salah satu kertas yang berserakan di lantai dan membaca isinya, kemudian dia menatap Leo dengan tatapan tajamnya, Leo hanya menunduk dia sendiri juga tidak tau siapa Delima yang sedang di cari Atasannya itu.
Ezra meletakkan kertas tersebut di atas meja. "Leo, keruangan saya sekarang!" titah Ezra sembari berjalan keluar dari ruangan Devan.
Leo mengangguk dan mengekori Ezra menuju ruangannya.
"Tutup pintunya!" titah Ezra sembari duduk di kursi kebesarannya.
Leo kembali mengangguk dan menutup pintu.
"Leo, siapa Delima? kenapa Devan sampai seperti itu."
"Saya juga tidak tau tuan, saya hanya di suruh tuan Devan mencari data wanita bernama Delima di kota ini." jawab Leo jujur.
"Dan kamu tidak berhasil menemukannya?" tanya Ezra, dia heran kenapa sampai tidak ketemu atau mungkin wanita itu berasal dari luar kota?
"Semua data yang saya dapatkan tidak sesuai dengan Delima yang sedang di cari tuan Devan."
"Ya sudah, kembalilah ke ruangan Devan dan bereskan barang-barang Devan yang rusak!"
Ya jelas **tidak ketemu lah!!
Jangan lupa selalu kasih support buat Author supaya semangat untuk melanjutkan cerita ini๐๐**