Because Baby

Because Baby
Part 20



*


*


Devan menghembuskan nafasnya berat. "Apa kamu mencintai Alvin?" tanya Devan.


Delisha menggeleng. "Aku tidak tau, tapi yang pasti aku tidak akan menyakiti Alvin, dia terlalu baik."


Devan meraih jemari Delisha. "Lalu bagaimana dengan diriku?"


Delisha melepas tangan Devan. "Kamu bisa mencari wanita lain Dev. wanita yang lebih cantik, lebih muda, lebih sek---."


"---Tapi aku hanya mau dirimu!" potong Devan cepat.


"Aku tidak bisa! Tolong, mengertilah!"


Devan merentangkan kedua tangannya. "Kita hentikan perdebatan ini, sekarang aku ingin memelukmu karena aku sangat merindukanmu Delima."


Delisha menggeleng. "Aku tidak bisa."


'Greb' Devan memeluk tubuh Delisha tanpa persetujuan Delisha. "Tolong jangan di lepas dulu, biarkan seperti ini sebentar saja."


Delisha hanya diam di pelukan Devan.


"Kenapa diam Delima? Peluk aku! Aku tau kamu juga merindukan aku."


Perlahan tangan Delisha terangkat dan membalas pelukan Devan.


Devan tersenyum puas dan semakin mengeratkan pelukannya, cukup lama mereka dalam posisi seperti itu.


"Ehemm."


Suara deheman Aleza mengagetkan keduanya lalu saling melepas pelukan mereka.


"Bundaa..." Delvin turun dari gendongan Aleza lalu berlari ke arah Bundanya.


Delisha merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan anaknya.


Devan kembali menatap lekat-lekat bocah itu. "Wajah Delvin mirip aku. Apakah mungkin Delvin anakku? Tapi dulu aku selalu memakai pengaman saat berhubungan dengan Delima." batin Devan.


Aleza menatap Devan yang sedang memperhatikan Delvin. "Devan, ayo kita pulang."


Devan tersentak kaget, dia terlalu fokus pada Delvin. "Eh, iya Mih."


Devan mencondongkan tubuhnya hendak mencium Delvin, namun dengan cepat bocah itu memalingkan wajahnya. Rupanya bocah itu masih mengingat kejadian tadi, kejadian saat Bundanya di bawah kungkungan Devan.


Raut wajah kecewa terlihat jelas di wajah Devan, lalu Devan hanya mengusap puncak kepala bocah itu.


Devan beranjak dari tempatnya namun langkahnya terhenti saat melihat Alvin sudah di ambang pintu.


"Ayaahh.." Delvin segera turun dari pangkuan Bundanya lalu lari menyambut kedatangan Alvin dengan antusias.


Alvin langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya hendak menangkap Delvin yang sedang lari ke arahnya.


Sungguh pemandangan yang membuat Devan merasa cemburu.


Alvin berjalan ke arah sofa beserta Delvin di gendongannya hendak menyusul Delisha yang sedang duduk. "Lo sudah dari tadi Dev?"


"Iya, ini sudah mau balik." Jawab Devan sembari menepuk pelan bahu Alvin lalu melanjutkan langkahnya.


Alvin memicingkan matanya lalu menarik pergelangan tangan Devan. "Bibir lo kenapa?"


"Oh, ini tadi gue--" Devan terdiam dia bingung mencari alasan.


"Tadi kena pintu mobil karena tante buka pintu nggak lihat kalau Devan ada di sebelahnya." sahut Aleza.


"Oh, mau gue obatin dulu?" tawar Alvin.


"Tidak usah nanti dirumah aja, gue cabut." Tolak Devan lalu melanjutkan langkahnya bersama Aleza di sebelahnya.


'Cup'


Devan menghentikan langkahnya lalu memejamkan matanya sesaat saat mendengar suara kecupan, namun Aleza segera menarik pergelangan tangannya dan menuntunnya keluar dari rumah Delisha.


Alvin duduk di sebelah Delisha setelah mengecup pipinya tadi. "Kamu kenal Devan? kayaknya tadi dia akrab sama kamu, padahal biasanya Devan itu dingin tapi tadi aku lihat dia hangat sama kamu."


"Kenal dong." jawab Delisha santai.


Alvin menatap Delisha. "Oya?"


"Barusan." Lanjut Delisha sambil meringis.


"Oh, kirain sudah kenal lama."


"Kamu sudah makan?" Tanya Delisha untuk mengalihkan pembicaraan.


"Belum." jawab Alvin singkat.


Delisha beranjak dari tempat duduknya. "Aku siapin makan dulu."


Delisha ikut menyentuh bibirnya sendiri. "Masa sih? Oh ini tadi ada nyamuk yang gigit bibir aku."


"Nakal banget nyamuknya! Aku aja nggak pernah sampai disitu."


Delisha terkekeh. "Kamu cemburu sama nyamuk?"


"Iya dong, aku aja nggak boleh sampai si--."


"Bunda Apin mau mimik." Kalimat Alvin terpotong rengekan Delvin.


"Aku pulang ya, ini sudah malam aku cuma mampir sebentar pengen ketemu kamu dan Delvin." Ujar Alvin.


"Iya, hati-hati."


Alvin kembali mengecup pipi Delisha dan Delvin bergantian lalu berjalan keluar dari rumah Delisha menuju rumahnya.


"Ayo kita ambil minum di dapur." Delisha mengangkat tubuh gembul Delvin lalu membopongnya menuju dapur.


*


*


🌴🌴🌴


*


"Jadi Delisha itu adalah Delima yang kamu cari selama ini Dev?" Tanya Aleza pada Devan.


Saat ini Aleza berada di kamar Devan, dia masih penasaran, antara Devan dan Delima. Alvino dan Delisha, padahal hanya ada satu wanita di antara mereka.


"Iya Mih." jawab Devan singkat.


"Pesan Mami, kalian jangan sampai menyakiti hati Alvin! Alvin terlalu baik pada Delisha dan juga Delvin." ujar Aleza.


"Devan juga tidak ada niat buat nyakitin hati Alvin Mih, Alvin sahabatnya Devan."


"Dan jangan sampai persahabatan kalian hancur!" ujar Aleza lagi lalu beranjak dari ranjang Devan. "Mami mau istirahat sudah malam."


"Hmm." Devan hanya menjawab dengan deheman.


Mami keluar kamar. Devan menatap langit-langit kamarnya, pikiran melayang entah kemana. Devan sedang memikirkan Delima, Delisha, Delvin dan juga Alvino. Rasanya akan sulit untuk mencari titik terang dalam masalah ini, ini terlalu rumit.


Dari Delima menghilang lalu muncul dengan nama Delisha beserta Delvin yang mirip dirinya, dan yang terberat dalam masalah ini adalah Alvin sahabatnya, Devan tidak akan tega menyakiti sahabatnya, apalagi selama ini sahabatnya sudah banyak membantu Delima.


Entah sampai kapan benang kusut ini akan terurai.


Belum sempat Devan memejamkan matanya namun Aleza kembali lagi masuk kamarnya.


Devan mengernyit. "Ada apa lagi Mih?"


"Ada yang mau Mami tanyakan sama kamu." ujar Aleza sembari duduk di tepi ranjang.


Devan beringsut duduk lalu bersandar di kepala ranjang. "Tanya apa Mih?"


"Kamu dan Delisha pernah melakukan 'itu'?" Tanya Aleza hati-hati.


"Sering." jawab Devan santai namun mampu memancing amarah Aleza.


Aleza memukul lengan anaknya. "Siapa yang ngajarin kamu melakukan hal itu di luar nikah? Hah!!!"


Devan langsung menjauhi Aleza menghindari amukan Maminya. "Maaf Mih, Devan khilaf."


"Brarti dugaan Mami ada benarnya."


Devan mendekati Maminya lagi. "Maksud Mami?"


"Kemungkinan Delvin itu anak kamu!"


Devan duduk di tepi ranjang dengan hati-hati siap siaga jika sewaktu-waktu Maminya mukul lagi Devan bisa dengan cepat menghindar. "Devan juga berfikir seperti itu Mih?"


Aleza dan Devan saling tatap.


"Kalau gitu kita harus cari tau."


"Kalau gitu kita harus cari tau."


Ujar Aleza dan Devan bersamaan.


*


*


Satu persatu semua akan terungkap tinggal menunggu Author ngetik 🤣🤣🤣🤣🤣


kasih semangat dong buat Author supaya tidak malas ngetik😘😘