
*
*
🌴🌴🌴
*
Sejak Alvin dan Lestari pacaran, Avlin sering mendatangi rumah Delisha yang dulu, karena Lestari tinggal disana.
Dan hari ini Alvin datang lagi sebelum berangkat kerja ia mampir dulu, biasanya Alvin jika datang di pagi hari untuk membawakan susu segar buat Delvin tapi berbeda kali ini, kali ini Alvin datang membawa sesuatu untuk Lestari.
Alvin memarkirkan mobilnya di ujung jalan dekat gang masuk rumah Delisha yang dulu, kemudian ia berjalan kaki memasukkan gang tersebut sampai di depan pintu.
Tok tok "Tari..."
Lestari menghentikan kegiatannya ketika mendengar suara ketukan pintu, ia mematikan kompornya kemudian melangkah menuju pintu depan dan membukanya. "Mas Alvin, ayo masuk."
Lestari membuka pintu lebar-lebar dan Alvin melangkah masuk.
"Aku bikinin teh hangat dulu ya mas."
Alvin langsung menahan lengan Lestari yang hendak melangkah menuju dapur. "Bisa kita bicara sebentar?"
Lestari menatap Alvin lalu mengangguk kemudian mereka duduk di sofa.
"Ada apa mas?"
Alvin meraih tangan Lestari kemungkinan menggenggamnya. "Aku tau ini terlalu cepat tapi aku sudah yakin dengan dirimu Tari."
Lestari menatap Alvin dengan dahi yang berkerut. "Maksudnya?"
Tangan kiri Alvin tetap menggenggam tangan Lestari sedangkan tangan kanannya merogoh sesuatu dari dalam saku celananya setelah itu ia melepas tangan kirinya sesaat untuk membuka kotak beludru tersebut.
Alvin membuka kotak beludru tersebut tepat di hadapan Lestari. "Lestari Kusuma Wardhani maukah engkau menghabiskan sisa hidupmu bersamaku? Mendampingiku, berbagi susah maupun senang denganku, merajut masa depan bersamaku dan anak-anak kita nantinya."
Lestari menutup mulutnya, matanya tiba-tiba terasa memanas ada cairan yang memaksa ingin keluar dari pelupuk matanya, sampai ia belum bisa berkata apa-apa.
"Maukah Tari?" tanya Alvin lagi.
Air mata haru mengalir di pipi Lestari. "Dari aku pribadi, aku mau mas tapi bapakku dan papanya mas Alvin kan belum tau tentang hubungan kita."
Alvin menghapus air mata di pipi Lestari lalu memasangkan cincin tersebut di jari manis Lestari kemudian mengecupnya. "Lusa aku akan ajak kamu ke rumah untuk menemui papa dan minggu depan kita ke Jogja bertemu dengan bapak kamu."
Lestari berhambur ke pelukkan Alvin. "Aku sayang padamu mas.."
Alvin membalas pelukan Lestari tak kalah erat. "Aku juga sayang padamu Tari..."
*
🌴🌴🌴
*
"Dev, Mini Cooper aku mana?"
Delisha sedang bergelayut manja di lengan Devan padahal Devan sedang mengerjakan kerjaan kantor, ia duduk berselonjor di karpet bulu dan bersandar di dinding dan Delisha di sampingnya, mereka sedang menemani Delvin yang sedang bermain.
"Loh, katanya nggak jadi pengen?"
Bibir Delisha langsung mencebik maju. "Ah kamu mah gitu!! Aku mau mobil itu buat antar jemput Delvin ke sekolah."
Devan mengangkat laptop dari pangkuannya lalu meletakkannya ke samping kemudian menangkup wajah Delisha. "Kita selesaikan pengobatan kamu dulu ya? Setelah pengobatan kamu selesai dan kamu sembuh, aku pasti belikan mobil yang kamu mau."
"Aku udah sembuh."
"Belum sayang... masih beberapa kali lagi."
Bibir Delisha semakin mencebik maju membuat Devan gemas. "Hobi banget sih majuin bibirnya?" bisik Devan lalu mengecup singkat bibir Delisha.
Delisha memalingkan wajahnya. "Devan!! Ada Delvin loh."
"Dia nggak liat."
"Bunda... bobo." rengek Delvin karena ini memang sudah waktunya ia bobo siang.
Delisha bangkit dari posisinya hendak menggendong Delvin, namun Devan segera menahannya. "Biar aku aja yang gendong Delvin."
"Mau sama bunda." jawab bocah gembul itu.
Delisha membuka pintu kamar anaknya lalu Devan melangkah masuk dan di ikuti Delisha di belakangnya setelah menutup pintu lagi.
Dengan hati-hati Devan menurunkan tubuh anaknya di ranjang kemudian dirinya juga menaiki ranjang dan di susul Delisha, Delvin berada di tengah-tengah di antara kedua orang tuanya.
"Biar aku yang nemenin Delvin Dev, kamu lanjutin kerjaan kamu aja."
Devan bangkit dari posisinya kemudian mencium pipi Delvin. "Ya udah, aku ke ruang kerja dulu."
Devan melangkah menuju pintu keluar, ia akan melanjutkan pekerjaannya.
Seperti biasa sebelum tidur Delvin memainkan rambut bundanya dan Delisha menepuk-nepuk pelan bokongnya Delvin sampai bocah gembul itu terlelap.
Setelah Delvin terlelap, Delisha mencium pipi anaknya lalu bangkit dari posisinya kemudian menuruni ranjang, ia berjalan keluar dari kamar anaknya menuju dapur, Delisha akan membuatkan jus buah untuk Devan.
"Kamu ngapain Sha?"
Delisha menoleh ke arah sumber suara. "Bikin jus mih." jawabnya lalu memencet tombol ON pada blender nya.
Aleza mendekati Delisha yang sedang menunggu potongan buahnya hancur menjadi jus. "Kenapa nggak nyuruh bibi aja?"
Delisha menekan tombol OFF pada blender nya lalu menuangkan jus nya ke dalam gelas. "Nggak apa-apa mih, cuma bikin jus doang."
"Ya sudah."
"Aku ke ruang kerja Devan ya mih." Delisha membawa jus nya ke ruang kerja Devan.
"Delvin sudah bobo kan?"
"Sudah." jawab Delisha sedikit berteriak karena jarak mereka sudah agak jauh.
"Daddy..." panggil Delisha setelah membuka pintu ruang kerja Devan.
Devan menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah sumber suara. "Kok nggak ikut Delvin bobo?"
Delisha melangkah sampai di sebelah Devan. "Aku tidak ngantuk, nih aku buatin jus buat kamu."
Devan mendongak untuk menatap Delisha yang berdiri di sebelahnya. "Nggak perlu repot-repot sayang."
"Nggak repot kok, aku yang pengen buat."
Devan mengambil alih jus di tangan Delisha kemudian meminumnya hingga tinggal separuh lalu mengembalikan lagi pada Delisha. "Kamu juga minum dong!"
Delisha menatap gelas berisi jus yang tinggal separuh itu kemudian menatap Devan. "Nggak usah, kamu habisin aja."
Devan menarik pinggang Delisha sampai duduk di pangkuannya kemudian menyodorkan gelas tersebut di depan mulut Delisha. "Dikit aja."
Delisha meminumnya sedikit lalu Devan meminumnya lagi sampai habis kemudian meletakkan gelas kosongnya di atas meja.
"Besok ke rumah sakit jam berapa?"
Tangan kiri Devan terangkat untuk menyelipkan rambut Delisha yang berantakan. "Siang aja ya? Aku mau meeting sebentar di ballroom hotel, paling sekitar satu jam dan kamu bisa menunggu aku di resto nya sambil makan siang."
"Kenapa aku nggak di antar ke rumah sakit aja dulu terus kamu tinggal meeting?"
"Nggak boleh! Aku mau tau perkembangan kesembuhan kamu."
"Kan nanti aku bisa kasih tau kalau udah sampai rumah."
"Nggak boleh!!" kekeuh Devan.
Delisha menghela napas pelan. "Ya sudah." ujar Delisha pasrah.
Devan menoel hidung Delisha. "Nah... gitu dong."
Delisha mendengkus pelan.
*
*
Sampai pada lupa kali ya sama cerita ini? Saking lamanya nggak update ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤
Hehe maaf aku khilaf keterusan mantengin drama mulu🤣🤣🤣