
*
*
🌴🌴🌴
*
Delisha masih di dalam bersama Aisyah,
Devan dan Alvin masih menunggu di luar, mereka duduk di kursi depan kamar.
Devan duduk membungkuk, sikunya berada di atas lutut dan kedua tangannya menutupi wajahnya, sebenarnya ada kekhawatiran yang teramat sangat yang ia rasakan, takut jika pengobatan itu gagal dan dia akan kehilangan Delimanya, bagaimana dengan Delvin jika itu sampai terjadi? Belum lagi efek yang akan di rasakan Delimanya nanti, dirinya pasti tidak akan tega melihat penderitaan Delimanya, matanya terasa memanas ada cairan yang memaksa ingin keluar namun Devan menahannya, dirinya harus kuat untuk menguatkan Delimanya wanita yang ia cintainya sepenuh hati, satu-satunya ratu di hatinya.
Semenjak Devan bertemu dengan Delimanya, Devan memang sudah menyerahkan seluruh hatinya pada wanita itu, tidak ada sedikitpun niat Devan untuk bercinta dengan wanita lain, yang dia mau hanyalah Delima dan Delima.
Tangan Alvin terangkat untuk mengusap bahu sahabatnya, ia sangat mengerti perasaan sahabatnya saat ini. "Lo harus kuat Dev! Supaya Delisha juga kuat, jangan tunjukkin kelemahan lo di depan dia. Yang di butuhkan Delisha saat ini adalah penanganan yang tepat, dukungan dari orang-orang terdekatnya dan do'a, gue sarankan dekatkan diri lo pada Tuhan, mintalah pertolongannya. Sehebat apapun dokternya jika Tuhan sudah berkehendak maka seorang pasien tidak akan tertolong dan begitu pun sebaliknya, mintalah mukjizat nya, Tuhan itu maha pengasih, jika lo meminta dengan hati yang tulus maka ia pasti akan mengabulkannya apalagi jika lo mendekatkan diri padanya." usapan Alvin berhenti dan berakhir menepuk-nepuk bahu Devan beberapa kali lalu menurunkan tangannya dari bahu sahabatnya.
Devan mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Alvin, Alvin benar selama ini dirinya memang jauh dari Tuhan, bahkan melaksanakan kewajibannya sebagai umatnya pun bisa di hitung dengan jari.
"Dulu Delisha juga kayak lo, tapi sekarang dia dekat dengan Tuhan. Kenapa lo nggak mengikuti jejaknya?" Alvin menatap lurus kedepan dia teringat masa sulit Delisha, di saat dia terpisah dengan Devan dan hidup seorang diri dalam keadaan hamil, dulu Alvin menguatkan Delisha dengan cara menasehatinya supaya mendekatkan diri pada Tuhan. "Dulu Delisha lebih parah, untuk masuk ke Mushola aja dia nggak mau katanya jijik dengan dirinya sendiri, tapi gue memberi pemahaman pada dia dan lama-lama dia mengerti lalu mulai mendekat pada Tuhan."
Devan masih mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Alvin, Devan merasa beruntung sekali mempunyai sahabat seperti Alvin.
Pintu terbuka dari dalam lalu muncullah Aisyah dari balik pintu, Devan langsung beranjak dari kursi lalu melangkah sampai di dekat Aisyah. "Udah selesai?" tanya Devan.
"Sudah, tapi Delisha harus di rawat dulu beberapa hari disini untuk memantau efek yang akan timbul setelah itu boleh pulang dan begitu seterusnya, nanti aku akan kasih jadwal kemoterapinya."
"Terima kasih." kata Devan lalu membuka pintu.
"Satu lagi." suara Aisyah menghentikan Devan. "Delisha harus rutin melakukan tes darah untuk memantau ginjalnya."
"Lakukan yang terbaik."
"Tentu." jawab Aisyah lalu ikut duduk bersama Alvin.
Devan memasuki ruangan tersebut lalu duduk di kursi samping ranjang, Devan bisa melihat Delisha yang masih baik-baik saja mungkin karena efek dari kemo belum muncul.
"Dev."
"Iya sayang, ada apa? kamu mau apa?"
Delisha menggeser tubuhnya lalu menepuk sisi sebelahnya. "Sini!"
Ranjang yang di tempati Delisha memang tidak lebar namun muat untuk berdua meskipun sempit.
Devan beranjak dari kursi lalu duduk di sebelah Delisha. "Ada apa sih?"
"Pengen deket kamu aja." jawab Delisha.
Devan mencondongkan tubuhnya lalu mengecup kening Delisha. "Istirahatlah kamu butuh banyak istirahat." ucapnya setelah melepas kecupan di kening Delisha.
"Ini belum malam, aku belum ngantuk." tolak Delisha. "Aku harus di rawat disini berapa lama? Belum sehari tapi aku sudah merindukan Delvin, bagaimana dengan Delvin?"
Devan merubah posisinya, dia ikut menaiki ranjang lalu duduk bersandar di dinding. "Anak kita baik-baik saja, kan ada opa dan oma nya yang merawat dia. Tunggu beberapa hari lagi setelah itu kita pulang dan bertemu Delvin."
Delisha beringsut duduk kemudian menatap Devan. "Nanti kalau efek itu muncul dan aku jadi jelek bagaimana? Nanti kamu nggak cinta lagi sama aku."
Devan menangkup kedua sisi wajah Delisha. "Apapun yang terjadi kamu akan selalu cantik di mataku. Tidak akan ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku, jadi jangan pernah punya pikiran seperti itu."
"Janji?"
Satu tangan Delisha yang tidak terpasang jarum infus terangkat untuk menarik wajah Devan lalu mengecup singkat bibirnya. "Aku juga cinta kamu Dev. Sangat mencintaimu."
Devan terkekeh. "Kenapa jadi gombal-gombalan gini sih?"
"Kamu yang mulai!"
"Aku akan selalu mendampingimu menghadapi resiko yang akan muncul, kalau perlu aku tidak akan masuk kantor selama kamu menjalani masa kemoterapi."
"Kasian papi kalau kamu nggak bantu dia di kantor."
"Aku bisa bantu dikit-dikit dari rumah."
Terdengar suara azan Maghrib membuat Devan teringat pesan Alvin tadi, Devan menuruni ranjang. "Aku keluar sebentar ya, tidak apa-apa kan?"
"Tidak apa-apa."
Devan melangkah keluar dari kamar Delisha menuju Mushola.
Sebelum masuk Mushola Devan terdiam sejenak seolah ragu untuk ke ruangan itu, sampai ada seorang pria yang di sebelahnya. "Mari mas." ucap seorang pria tadi, saat melihat Devan tidak melangkah masuk.
Devan hanya tersenyum, membuat pria tadi menghentikan langkahnya lalu menatap Devan bingung. "Kenapa anda belum masuk? Nanti telat loh."
Devan masih bungkam hanya senyum tipis sebagai jawaban untuk pria tadi.
Pria tadi akhirnya mengajak Devan duduk sebentar di kursi tunggu. "Sepertinya anda ragu?"
Lagi-lagi Devan hanya tersenyum tipis.
"Mantapkan hati anda, hidup yang anda jalani akan terasa lebih tenang dan damai jika anda dekat dengan Tuhan."
Devan menatap pria di sebelahnya.
"Ibadah bukan hanya sekedar mencari bekal ke surga tetapi juga penghapus dosa, saya paham kenapa anda ragu, pasti anda masih merasa punya banyak dosa. Maaf bukan maksud saya untuk menceramahi anda tapi jadikanlah ibadah anda sebagai penghapus dosa di masa lampau, hanya itu yang bisa saya sampaikan untuk saat ini karena waktunya sudah mepet. Mari silahkan masuk." kata pria tadi lalu beranjak dari kursi menuju Mushola.
Devan mengikuti pria itu memasuki Mushola.
***
Setelah kepergian Devan, Delisha meraih handphonenya di meja sebelah ranjangnya lalu membuka layarnya untuk melihat foto-foto Delvin, belum genap satu hari Delisha di rumah sakit namun dia sudah merindukan bocah gembulnya.
Tak berapa lama kemudian pintu kamar terbuka seorang suster masuk beserta mukena di tangannya. "Waktunya sholat bu."
Delisha meletakkan handphonenya di tempat semula. "Baik sus." jawab Delisha.
Rumah sakit yang di pilihkan Alvin memang rumah sakit Islam, yang menyediakan seorang suster membantu pasiennya untuk beribadah.
Suster mulai mengajari Delisha cara bertayamum setelah itu memakaikan mukena pada Delisha dan mengajarinya sholat dengan posisi duduk.
Setelah selesai suster melepas mukena yang di pakai Delisha lalu membawanya keluar lagi.
*
*
Maaf ya lama hehe...
Kemarin harus revisi dulu hot-hotnya di hapus terus di ganti yang tidak hot, supaya pembaca tidak seperti cacing kepanasan. 🤣🤣🤣