Because Baby

Because Baby
Part 22



*


*


๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด


Aleza sudah mengambil rambut Delvin sebagai sampel.


Devan juga sudah menyerahkannya pada pihak Rumah sakit.


Mereka tinggal menunggu hasilnya keluar.


Devan dan Aleza sepakat merahasiakannya dari Delisha maupun Alvin, entah apa yang mereka rencanakan kedepannya.


"Mami sudah tidak sabar ingin segera mengetahui yang sebenarnya Dev?" ujar Aleza antusias.


Aleza tidak menyangka kalau bocah yang selama ini di sayang-sayangnya ternyata adalah cucunya sendiri. Jika hasilnya positif.


"Devan juga sudah tidak sabar Mih, tapi sebenarnya tidak usah tes aja Devan sudah yakin, tapi biar lebih akuratnya memang kita harus tes." ujar Devan sembari menghempaskan tubuhnya di sofa. Devan baru pulang dari rumah sakit setelah menyerahkan sampel rambutnya dan rambut Delvin.


"Terus apa yang akan kamu lakukan jika hasilnya benar-benar positif Delvin anak kamu?" tanya Aleza sembari menyerahkan segelas air putih pada Devan.


Devan meraih gelas berisi air putih dari Aleza lalu meminumnya hingga separuh. "Devan juga belum tau Mih, ini pasti akan rumit. Tapi yang Devan fikirkan saat ini adalah Delvin dulu, meskipun sebenarnya Devan juga sangat menginginkan Ibunya Delvin."


"Ada hati yang akan tersakiti jika kamu dan Delisha bersatu, tapi jika kalian tidak bersatu Mami juga kasian sama Delvin, dia harus hidup dalam keluarga yang tidak lengkap." ujar Aleza.


"Devan akan mengikuti alur yang di tentukan Tuhan saja Mih." ujar Devan pasrah.


Aleza mengusap bahu anaknya. "Kamu betul, sebaiknya-baiknya rencana manusia, tetap ketentuan Tuhan lah yang paling baik."


Devan tersenyum. "Terima kasih Mih."


Aleza beranjak dari sofa. "Mami ke kamar dulu."


"Devan juga mau ke kamar Mih, capek."


Devan dan Aleza ke kamar masing-masing lalu beristirahat.


*


*


๐ŸŒด๐ŸŒด๐ŸŒด


Alvin merebahkan tubuhnya di sofa, dia sedang menunggu Delisha yang sedang menidurkan Delvin di kamarnya.


Ada sesuatu yang ingin dia sampaikan hingga Alvin harus menunggu Delvin sampai tidur.


"Delvin sudah bobo Sha?" tanya Alvin pada Delisha setelah melihat Delisha keluar dari kamarnya.


"Sudah." jawab Delisha sembari berjalan menuju sofa.


Alvin menegakkan tubuhnya lalu menarik tangan Delisha hingga terduduk di pangkuannya.


Delisha bergerak-gerak hendak melepaskan diri dari dekapan Alvin. "Aku duduk di sebelah kamu aja Vin, nanti kalau Delvin lihat kita gimana?"


Alvin tidak melepas Delisha malah menempelkan dagunya di bahu Delisha. "Delvin kan sedang bobo. Aku mau ngomong sesuatu sama kamu Sha."


Delisha menoleh. "Ngomong apa?"


'Cup' Alvin mengecup pipi Delisha sebelum mulai buka suara. "Aku mau kita segera menikah." ujar Alvin.


Delisha melepaskan diri dari pangkuan Alvin lalu duduk di sebelahnya. "Bukankah Papamu belum bisa menerima aku dan Delvin?"


Alvin menatap Delisha. "Bukankah seorang pria bisa menikah tanpa wali?"


"Bukankah restu orang tua itu adalah restu Tuhan?" Delisha balik bertanya.


"Tapi kita harus menunggu sampai kapan Sha? Umurku semakin hari semakin bertambah. Aku juga mau seperti orang lain, menikah, punya anak dan mempunyai keluarga kecil sendiri, aku, kamu, Delvin dan anak-anak kita nantinya." ujar Alvin sembari menggenggam jemari Delisha.


"Aku ngikut kamu." ujar Delisha pasrah.


Alvin melepas genggamannya lalu beralih memeluk Delisha. "Aku akan segera mengurus semuanya."


"Kamu yakin kita mau nekat?" tanya Delisha dengan suara teredam di dada Alvin.


Alvin melonggarkan pelukannya lalu menunduk menatap Delisha. "Sangat yakin."


*


*


Nah loh, Alvin gercep kan???


Jangan lupa budayakan klik jempol setelah membaca๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰ Author mau update setiap hari kalau jempolnya buanyakkkk ๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช