
*
*
π΄π΄π΄
*
Aleza sudah membawa Delisha ke rumah sakit untuk melakukan tes lanjutan seperti yang dokter pribadinya sarankan beberapa hari yang lalu dan hari hasil tes itu keluar. Delisha di dampingi oleh Aleza sedangkan Delvin dirumah bersama pembantu mereka. Ezra? Jangan di tanya lagi, sudah pasti dia sedang sibuk di kantor karena saat ini dirinya yang mengurus kantor sendirian, Devan belum kembali jadilah Ezra yang keteteran seperti Devan waktu di tinggalkan oleh dirinya ke California.
Delisha memasuki ruang dokter dengan ragu, rasa takut hinggap di hatinya semua pikiran buruk bersarang di otaknya, Delisha menggenggam erat tangan Aleza untuk mencari kekuatan disana.
Aleza berhenti melangkah kemudian tersenyum tipis. "Tidak usah takut, berdo'a lah semoga semua baik-baik saja." ucapnya lalu sedikit menarik tangan Delisha menuju kursi.
"Mari silahkan duduk." titah dokter.
Aleza menarik kursi untuk duduk Delisha kemudian dia menarik kursi lagi untuk dirinya duduk.
"Nyonya Delisha?" tanya dokter memastikan.
"Iya dok." jawab Delisha.
Dokter meraih map di meja kerjanya kemudian membukanya serta meneliti setiap huruf yang tercetak di kertas dalam map tersebut. "Ibu Delisha." ucap dokter membuat Delisha menatap dokter tersebut. "Iya dok." jawab Delisha lagi.
Dokter menghela napas pelan. "Begini bu Delisha, hasil tes yang anda lakukan beberapa hari yang lalu menyatakan bahwa anda--." dokter menjeda kalimatnya seakan tidak tega untuk menyampaikan hasil tes itu, kemudian dia menatap Delisha. "Dengan berat hati saya menyampaikan bahwa saat ini anda mengidap kanker serviks stadium 2A."
"Enggak!!!! Delisha nggak mau!!!" jerit Delisha, nafasnya seakan berhenti beberapa saat kemudian nafasnya tersengal-sengal di sertai luruhnya air mata. "Dokter bohong kan??" tanyanya seakan tidak percaya.
Aleza beranjak dari kursi kemudian berdiri di sebelah Delisha serta mengusap punggungnya. "Kamu tenang dulu Sha, kita dengar dulu penjelasan dari dok-- DELISHAA..." belum sempat Aleza menyelesaikan kalimatnya Delisha sudah pingsan di kursinya.
Dokter segera beranjak dari kursinya kemudian membantu Aleza memindahkan Delisha ke ranjang di ruang dokter tersebut. Dokter segera memeriksa kondisi Delisha, butuh waktu beberapa saat sampai dokter selesai memeriksa Delisha.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Aleza.
"Bu Delisha hanya shock sebaiknya kita pindahkan dia ke ruang rawat, tidak perlu di infus hanya saja biarkan dia beristirahat sampai bu Delisha sadar dan kita bisa memantau kondisinya." jawab dokter.
"Baik dok."
Delisha di pindahkan ke ruang rawat dan Aleza segera menghubungi Devan, biar bagaimanapun Devan harus tau kondisi istrinya. Delisha membutuhkan Devan di sampingnya untuk menguatkannya.
*
π΄π΄π΄
*
Devan membereskan meja kerjanya karena ini sudah waktunya makan siang. "Kita makan siang dulu." ujar Devan pada Alvin dan Leo, mereka memang berada di dalam satu ruangan.
Alvin dan Leo segera membereskan meja mereka masing-masing.
"Huhh..." Alvin mendesah lega. "Akhirnya hampir selesai dan kita bisa segera pulang." ujar Alvin sembari beranjak dari kursinya, kemudian berjalan mendekati Leo. "Ayo."
Leo beranjak dari kursi, kemudian berjalan beriringan dengan Alvin menuju pintu menyusul Devan yang telah lebih dulu keluar dari ruangan tersebut.
"Dev, tungguin!" teriak Alvin dari belakang.
Devan langsung berhenti namun dia berhenti bukan untuk menunggu Alvin, Devan berhenti untuk menjawab telepon yang masuk.
"Hallo mih." jawab Devan setelah menggeser icon hijau.
"Dev, kamu harus pulang sekarang! istri kamu sakit." jawab Aleza dari seberang telepon dan terdengar nada khawatir disana.
Devan belum bisa menjawab apa-apa, dunianya seakan runtuh saat itu juga.
"Ada apa?" tanya Alvin yang sudah berada di sebelah Devan dan melihat raut wajah Devan yang sedang terkejut. "Ada apa Dev?" tanya Alvin lagi, kali ini di sertai dengan menepuk bahu Devan dan membuat Devan tersadar dari keterkejutannya. "Gue harus pulang sekarang." jawab Devan sembari berlalu dari hadapan Alvin kemudian kembali melanjutkan panggilan maminya.
Devan mengembalikan handphonenya kedalam saku celana, karena dia telah selesai berbicara dengan maminya. "Istri gue sakit dan dia butuh gue saat ini."
"Gue ikut." jawab Alvin kemudian menoleh kearah Leo. "Leo kamu urus semuanya sampai selesai!"
"Baik." jawab Leo di sertai sedikit membungkuk.
Devan dan Alvin segera kembali ke apartemen kemudian mengemasi barang-barang mereka, setelah semua sudah beres mereka ke Bandara.
*
π΄π΄π΄
*
Delisha membuka matanya kemudian menoleh kesamping dimana mertuanya berada.
Aleza beranjak dari kursinya kemudian duduk di tepi ranjang. "Kamu sudah sadar, gimana keadaan kamu Sha? Sudah baikan? Mana yang sakit?"
Delisha beringsut duduk kemudian meraih tangan Aleza. "Mih, tolong telfon Devan!" pintanya, bahkan Delisha tidak menjawab satu pun pertanyaan dari Aleza. Air mata langsung menggenang di pelupuk matanya. "Delisha mau Devan, Delisha mau Devan disini mih."
Aleza mengusap tangan Delisha lembut. "Kamu tenang dulu Sha, mami sudah menelfon Devan beberapa jam yang lalu mungkin sebentar lagi Devan sampai."
Delisha langsung memeluk Aleza. "Makasih mih. Delvin? Kita pulang aja mih kasihan Delvin."
"Delvin dirumah tidak usah khawatir, dia baik-baik saja." jawab Aleza. "Mami keluar sebentar ya? Mau telfon Devan siapa tau dia sudah hampir sampai."
Delisha melepas pelukannya kemudian mengangguk.
Aleza meninggalkan Delisha di kamar rawatnya, kemudian duduk dikursi tunggu di luar kamar, ibu jarinya bergerak di layar handphone dan tatapan matanya tertuju di setiap chat yang masuk dan berharap itu dari anaknya, namun nihil semua pesan yang masuk bukan dari Devan.
Aleza menyandarkan tubuhnya di punggung kursi sembari memejamkan matanya seolah mencari kekuatan disana, cukup lama Aleza dalam posisi seperti itu sampai Devan muncul bersama Alvin.
"Bagaimana kondisi Delisha mih?" tanya Devan tidak sabaran.
Aleza menggeser tubuhnya. "Duduk dulu."
Devan duduk beserta Alvin di sebelahnya.
Aleza mengusap punggung Devan lembut. "Kamu yang kuat ya." pesan Aleza.
Devan dan Alvin kompak mencondongkan tubuhnya serta menatap Aleza menanti lanjutan kalimat Aleza.
Aleza menatap anaknya, sebenarnya dia tidak tega menyampaikan penyakit Delisha pada anaknya. "Delisha terkena---." Aleza terdiam sesaat sembari menghela napas pelan. "Kanker serviks." lanjutnya.
Devan langsung meraih kedua pundak Aleza. "Mami ngomong apa?" tanyanya seakan tidak percaya.
"Delisha sakit kanker Dev." jawab Aleza di sertai luruhnya air mata, dirinya tidak tega dengan apa yang di alami anaknya. Devan sudah mencari Delisha bertahun-tahun dan kini mereka telah bertemu dan bersatu tapi takdir seolah sedang mempermainkan mereka berdua dengan hadirnya penyakit Delisha.
Devan terdiam tidak mampu berkata apa-apa, ini sungguh mengejutkan bagi dirinya, bukan hanya dunianya yang runtuh tetapi hatinya juga hancur, Devan tidak bisa membayangkan jika dia harus kehilangan Delimanya untuk yang kedua kali ditambah sekarang sudah ada anaknya, Devan tidak akan rela anaknya kehilangan ibunya di usianya yang masih kecil.
Delisha sakit sedikit saja Devan sangat khawatir, sekarang malah ada penyakit mematikan yang bersarang di tubuh Delisha. "Delima." lirih Devan. "Kamu harus sembuh, aku tidak mau kehilanganmu lagi." lanjutnya.
*
*
Maaf di larang protes!!! π€«π€«π€«
Memang seperti ini alurnya.
Kita bisa mengambil pelajaran dari penyakitnya Delisha, yaitu : Jangan gonta-ganti pasangan dan setialah pada satu pasangan. πππ