Because Baby

Because Baby
Part 70



*


*


Devan masih enggan merubah posisinya, dia masih setia menenggelamkan wajahnya di dada Delima, padahal matahari sudah menampakkan sinarnya.


"Bangun Dev! Ini sudah pagi."


"Nggak mau!" jawab Devan dengan suara teredam di dada Delima.


Delima terkekeh lalu mengeratkan pelukannya. "Kamu nggak ke kantor hari ini?"


"Besok aja, masih capek." jawab Devan masih dengan suara seperti tadi.


"Jelas capek lah, kamu baru pulang dari luar kota langsung kesini terus tadi malem kamu mainannya ganas udah gitu nambah terus."


Devan mendongak untuk menatap Delima. "Kan aku sudah bilang kalau aku merindukanmu."


"Iya ya."


Seperti itulah Devan dulu dia hanya bermain sekali saja dengan wanita bayarannya, namun berbeda dengan Delima, dalam semalam Devan bisa melakukannya berkali-kali.


Devan meraih kalung di leher Delima lalu mengusap liontinnya. "Kamu tau kenapa aku milih liontin berhuruf D?"


"Karena huruf nama depanku."


"Bukan cuma itu, liontin ini hanya memiliki satu huruf tapi memiliki dua nama D Devan dan Delima semoga kita kelak kita bisa bersatu menjadi satu dalam sebuah ikatan, dua nama menjadi satu seperti liontin ini."


Delima mencubit pipi Devan dengan gemas. "Kok udah pandai ngegombal sih? Padahal baru tadi malem loh latihannya."


Devan menatap Delima intens. "Aku tidak sedang menggombal! Ayolah Delima, pergi bersamaku kita bisa hidup bersama dan tidak ada pria lain yang berani menyentuhmu kecuali aku."


Delima menggeleng. "Aku tidak bisa Dev, aku tidak mau menyakiti istrimu kita sama-sama wanita."


"Aku tidak mencintainya."


"Meskipun kamu tidak mencintainya tapi tidak seharusnya kamu menyakitinya!"


Devan menangkup wajah Delima. "Aku hanya mencintaimu Delima." bisik Devan.


Delima tidak merespon ungkapan Devan.


Devan mengecup bibir Delima singkat lalu memeluk pinggang Delima posesif serta menenggelamkan wajahnya kembali seperti semalam.


Devan memejamkan matanya meskipun tidak tidur namun ia masih enggan pulang, Devan masih ingin bersama Delima rasa rindunya yang ia tahan rasanya belum terobati.


Delima memainkan rambut Devan, dirinya juga masih enggan untuk beranjak dari ranjang untuk membersihkan diri.


Deringan handphone Devan membuat Devan mau tidak mau melepas Delima.


"Iya pih." sahut Devan setelah menerima panggilan tersebut.


"Kamu dimana Dev? Leo sudah masuk kantor itu berarti kamu juga sudah pulang, tapi kenapa kamu tidak masuk kantor?"


"Devan sedang ada urusan sama temen, besok baru masuk kantor."


"Kalau urusannya sudah selesai jangan lupa mampir ke rumah, mami kamu nungguin kamu tuh."


"Iya..." jawab Devan lalu panggilannya di putus dari seberang sana.


"Delimaaa......" Devan menahan tangan Delima yang sedang beringsut mau menuruni ranjang.


"Aku mau mandi Dev, ini sudah pagi."


"Nggak boleh mandi!!!" Devan menarik Delima kemudian memeluk Delima serta menenggelamkan wajahnya lagi. "Aku masih kangen kamu Delima, aku masih pengen meluk kamu."


Delima terkekeh, Devan kalau sudah begini seperti bayi besar yang ingin nemplok terus sama ibunya. "Kita butuh makan Dev."


"Aku nggak laper."


"Tapi aku laper."


Akhirnya Devan melepas pelukannya. "Ya udah kita mandi dulu, habis itu aku beliin makanan buat kita."


"Nggak usah keluar, aku akan ambil sarapan di ruangan Reno."


"Oke.."


Akhirnya mereka mandi, setelah itu Delima ke ruangan Reno untuk mengambil jatah sarapannya kemudian membawanya ke kamar untuk di makan bersama Devan.


"Kita makan berdua ya?" ujar Delima sembari meletakkan makanan yang ia bawa di meja.


"Nggak usah aku duduk di meja aja."


Di kamar Delima memang hanya ada satu kursi, satu meja kecil, satu lemari dan kamar mandi.


Delima duduk di atas meja dan makanan yang ia bawa tadi di sampingnya, Devan duduk di kursi menanti Delima menyuapi dirinya.


Delima mulai menyendok makanan lalu memasukkannya ke dalam mulut Devan setelah itu barulah ia menyendok untuk dirinya sendiri.


"Nanti sebelum pulang aku akan belikan makanan dulu buat kamu." ujar Devan sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


"Kalau makan tuh nggak boleh sambil ngomong!!"


"Itu kamu barusan ngomong."


Delima mendelik dirinya ngomong kan hanya untuk menegur Devan.


"Awas matanya jatoh loh." celetuk Devan.


Delima meletakkan sendoknya dengan kasar. "Bisa diem nggak sih??!!" protes Delima sambil mengerucutkan bibirnya.


"Bibirnya nggak usah di maju-majuin gitu! Minta di cium?"


"Devan!!!" Delima beringsut menuruni meja, dengan cepat Devan menarik Delima ke pangkuannya.


Devan mengambil alih sendok yang diletakkan Delima lalu mulai menyendok makanan tersebut kemudian mengarahkannya di depan bibir Delima yang masih mengerucut. "Aaak..."


Delima masih cemberut lalu menatap Devan, dengan ragu-ragu ia membuka mulutnya namun Devan hanya mengerjainya makanan itu masuk ke dalam mulut Devan.


"DEVAN!!!!" Delima langsung turun dari pangkuan Devan lalu melangkah menuju ranjang sambil menghentak-hentakkan kakinya.


Devan langsung tergelak melihat ekspresi wajah Delima yang lucu, lalu beranjak dari kursi menyusul Delima di ranjang. "Sekarang beneran."


Delima membuang muka ke samping.


Devan kembali menyendok makanan lagi lalu mengecup singkat bibir Delima. "Buka mulutnya." ucapnya lembut.


Delima akhirnya membuka mulutnya dan Devan mulai menyuapinya sampai habis, Devan hanya memakan sedikit makanan itu.


Devan meletakkan bekas makanan itu di atas meja. "Mau di belikan makanan apa? Aku akan belikan sekarang setelah itu aku akan pulang."


"Nggak usah." tolak Delima.


"Bener?"


"Iya.."


Devan merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan sesuatu. "Aku lupa kalau aku bawa ini dari sana." ucapnya sembari meletakkan permen jelly di tangan Delima.


Delima menatap permen di tangannya lalu beralih menatap Devan. "Permen jelly?"


"Waktu itu aku berkunjung di pabrik permen itu terus saat mau pulang mereka memberinya sebagai oleh-oleh, banyak sih sebenarnya tapi aku males bawa banyak-banyak jadi aku cuma bawa segitu."


Delima mulai membuka permen itu dan memakannya. "Enak."


"Habisin, besok kalau aku kesini aku bawa lagi di apartemen masih banyak." ujar Devan lalu beranjak dari tempatnya. "Aku pulang dulu besok kesini lagi."


"Hati-hati."


Devan kembali merogoh saku jaketnya lalu mengeluarkan uang untuk tambahan Delima.


"Tidak usah Dev, kamu kan udah ngasih kalung ini."


"Kalung itu hadiah buat kamu." kata Devan lalu memagut bibir Delima sesaat kemudian melangkah keluar dari kamar Delima.


Mereka menjalani hubungan itu sampai dua tahun lebih, hampir tiga tahun.


Setiap Devan sedang keluar kota pasti ada pria lain yang menyewa Delima, tapi kalau Devan di rumah pasti Devan yang akan menyewanya.


Sampai pada akhirnya Devan keluar kota dan saat kembali Delima sudah tidak ada di gedung itu lagi, ternyata Delima pergi dari gedung itu dengan keadaan sedang mengandung anaknya.


Pada saat itu Reno melepas Delima juga karena sedang hamil.


*


*


Flashback End