Because Baby

Because Baby
Part 30



*


*


Devan menciumi pipi Delvin lalu membaringkan tubuhnya di sebelah Delvin, dia memang sengaja tidak membaringkan tubuhnya di sebelah Delisha karena Devan tau kalau dekat dengan Delisha, Devan tidak akan bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Devan mulai memejamkan matanya, dia juga capek, ngantuk, dari semalam Devan memang belum tidur.


Mereka bertiga tertidur hingga berjam-jam sampai Devan tidak sengaja menyenggol sebuah mobil-mobilan hingga menimbulkan suara yang cukup keras membuat Devan dan Delisha terbangun.


Delisha membulatkan matanya, rasa kantuknya menguap entah kemana saat melihat ada Devan di sebelah Delvin. "Dev kamu ngapain disini?" tanya Delisha dengan nada rendah bahkan hampir tidak terdengar.


"Aku juga ngantuk Delima, dari semalam aku belum tidur karena nyariin kamu." jawab Devan juga berbisik.


Delisha melotot tajam pada Devan. "Kan kamu bisa tidur di kamar kamu sendiri, kenapa harus disini?"


"Aku juga pengen tidur di samping anakku." jawab Devan santai.


"Pintar sekali beralasan." cibir Delisha.


Devan beringsut duduk. "Itu bukan alasan Delima, lebih tepatnya aku ingin bersama Delvin dan juga kamu."


Delisha menatap Devan. "Tapi aku akan menikah dengan Alvin."


Devan beranjak dari tempatnya lalu berjalan beberapa langkah dan duduk di sebelah Delisha. "Secepat itukah?"


Delisha juga ikut beringsut duduk. "Ini tidak cepat Devan, Alvin sudah lama ingin menikah denganku."


Devan menangkup wajah Delisha dengan kedua tangannya. "Katakan Delima, apa yang harus aku lakukan agar aku bisa bersama kamu dan anak kita tanpa harus melukai hati Alvin?"


"Aku juga tidak tau Dev." lirih Delisha.


'Hening' mereka sama-sama terdiam dan tatapan mereka saling bertemu, perlahan wajah mereka semakin mendekat.


Devan meraup bibir Delisha sesaat. "Bibirmu manis, sama seperti dulu." bisik Devan.


"Itu karena aku sering memakan permen jelly darimu." jawab Delisha nyeleneh, membuat mereka berdua terkikik.


Tangan Devan terangkat, jari telunjuknya menelusuri setiap lekuk wajah Delisha dari dahi turun ke hidung lalu turun lagi ke bibir. "Kamu cantik Delima." bisik Devan. "I love you so much."



Delisha hanya tersenyum tipis.


Devan mengecup kening Delisha dan berlama-lama disitu, Delisha memejamkan matanya menikmati rasa nyaman yang Devan salurkan untuk dirinya.


Devan melepas kecupan panjangnya lalu beralih di kedua pipi Delisha bergantian lalu ke hidung dan berakhir di bibir, Devan hanya mengecupnya singkat lalu memeluk tubuh Delisha. "Tidak adakah jalan untuk kita bersama Delima?"


Delisha melingkarkan kedua tangannya di pinggang Devan. "Aku sudah bilang berulang-ulang, kalau aku tidak tau."


Devan mengecup puncak kepala Delisha.


Tok.. Tok.. Tok.. "Sha."


"Itu Alvin, Dev." ujar Delisha panik.


Devan melepas pelukannya. "Kita harus gimana Delima?"


Delisha menegakkan tubuhnya lalu berdiri. "Kamu harus ngumpet!!"


"Hah?" Devan terkejut, masa iya dirinya harus ngumpet.


Delisha berjalan mondar-mandir. "Cepetan Devan! Kamu harus ngumpet sekarang juga!"


Devan melihat sekelilingnya. "Aku ngumpet dimana?"


"Mana aku tau, ini kan rumah kamu."


Devan memutar otaknya, harus bersembunyi dimana dirinya. Di kamar ini tidak ada lemari, ranjang ataupun sofa.


Tiba-tiba Delisha mendorong tubuh Devan. "Kamu bersembunyi di toilet saja!"


Mau tidak mau Devan menurutinya, memang tidak ada tempat persembunyian selain toilet.


Devan masuk toilet lalu Delisha berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu. "Alvin?"


"Lama banget sih Sha buka pintunya?" tanya Alvin.


Delisha pura-pura menguap. "Aku tadi tidur Vin."


"Bundaa.." Delvin terbangun saat mendengar percakapan Delisha dan Alvin.


Delisha segera mendekati Delvin lalu mengangkat tubuh Delvin. "Kita turun yuk."


Alvin membuka pintu lebar-lebar lalu melangkah masuk. "Kalian duluan, aku mau ke toilet sebentar."


Delisha langsung menarik pergelangan tangan Alvin.


Alvin mengernyit. "Kenapa Sha?"


Delisha berfikir sejenak. "Em, kata Tante Leza toilet di kamar ini rusak."


Alvin membalikkan tubuhnya. "O ya? Kalau gitu aku ke toilet bawah dekat dapur saja."


"Ya udah, yuk kita turun." ujar Delisha sembari menggiring Alvin keluar dari kamar tersebut.


"Huh.." Devan membuang napas kasar. "Ini gila!! Gue berasa jadi maling di rumah gue sendiri?!" gumam Devan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


*


*


Bingung nih mau ngomong apa🤣🤣


Jangan lupa klik jempol, komentar dan votenya😘😘 biar senyum Author makin melebar.