Because Baby

Because Baby
Part 84



*


*


🌴🌴🌴


*


Delisha membuka matanya yang terasa berat, kepalanya pusing serta tubuhnya terasa sakit, ia mengerjab beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya, setelah kesadarannya terkumpul sepenuhnya ia melihat di sekelilingnya, ia merasa berada di kamar asing tapi bukan di rumah sakit.


Delisha beringsut duduk, ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelumnya namun yang berhasil ia ingat hanyalah saat mobilnya di hadang oleh mobil hitam dan ia turun dari mobil untuk menemui sang pengemudi mobil tersebut.


Delisha ingat ia sempat melihat pria berpakaian serba hitam dan setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.


Tangan Delisha menelusuri setiap sisi ranjang untuk mencari handphonenya, namun ia tidak menemukan keberadaan benda pipih itu bahkan di bawah bantal pun tidak ada, Delisha beranjak dari ranjang untuk meneruskan pencariannya ia membuka setiap laci yang ada di nakas namun ia belum juga menemukannya.


Delisha melangkah menuju jendela, ia menatap ke bawah jendela kaca itu, tangannya terangkat untuk menutup mulutnya sendiri, ia berada di gedung yang tinggi entah ia berada di lantai berada ia tidak mengetahuinya, ia tidak mungkin bisa kabur lewat jendela itu, Delisha tidak mau mati konyol.


Delisha mendesah kecewa lalu duduk di tepi ranjang, ia memikirkan bagaimana caranya ia keluar dari kamar tersebut. "Siapa yang membawaku kemari?" tanyanya dalam hati.


Delisha menaikkan kedua kakinya, ia memeluk lututnya, ia teringat dengan kejadian di saat ayah tirinya menyeretnya dan membawanya pergi, Delisha menggeleng lemah napasnya tercekat di tenggorokan, air matanya mengalir, ia mulai ketakutan, takut jika ayah tirinya akan menjualnya lagi. "Dev... tolongin aku, aku nggak mau di jual lagi." gumamnya di sertai isak tangisnya.


Pinta kamar terbuka dan muncullah seorang pria berbadan jangkung dari balik pintu, pria yang tidak asing bagi Delisha. "Jeri." batin Delisha, ia akan tetap berpura-pura tidak mengenal siapa Jericho.


Jericho menutup pintu serta menguncinya, ia melangkah sampai di depan Delisha. "Delima..."


Delisha memalingkan wajahnya. "Aku bukan Delima."


Jericho mendengkus, ia tersenyum miring. "Aku sudah mengetahui semuanya, kamu tidak bisa mengelak lagi." Jericho menarik pipi Delisha serta menolehkannya paksa supaya menatap dirinya. "Namamu memang bukan Delima, namamu Delisha Maharani, tetapi kamu adalah Delima wanita malam yang menggairahkan." ucapnya di iringi seringai yang mengerikan bagi Delisha.


"AKU BUKAN WANITA MALAM!!!!" teriak Delisha, sungguh ia benci sebutan itu, sebutan itu mengingatkannya pada masa suram yang pernah ia lalui.


Jericho merengkuh paksa tubuh Delisha.


Delisha memberontak. "LEPASKAN!!!!"


Jericho tidak menggubris Delisha yang memberontak, ia menarik kaos yang di kenakan Delisha sampai terlihatlah punggung Delisha dan Jericho bisa melihat dua tahi lalat berjejer yang menghiasi punggung mulus itu, tidak semua orang bisa melihat tahi lalat itu karena terletak di bagian agak atas jadi jika Delisha tidak menyibak pakaiannya ke atas maka tahi lalat itu tidak terlihat.


Jericho menyentuh tahi lalat tersebut. "Ini apa Delima? Kamu tidak bisa mengelak lagi! Aku juga masih ingat dengan aroma tubuhmu Delima."


Delisha menggigit bahu Jericho, refleks Jericho melepaskan Delisha, dengan cepat Delisha mendorong tubuh Jericho sampai terhuyung ke belakang.


"Kamu ingin bermain-main denganku cantik?" tanya Jericho membuat Delisha bergidik ngeri. "Puaskan aku, aku sudah lama tidak menikmati tubuhmu."


Delisha beringsut mundur. "Tolong jangan lakukan itu Jer!"


Jericho kembali tersenyum miring. "Kamu sudah mengakui kalau kamu adalah Delima?! Buktinya kamu memanggil namaku."


"Jer, tolong lepaskan aku! Carilah wanita lain!" pinta Delisha dengan wajah memelasnya, berharap kalau Jericho akan luluh.


"Aku hanya menginginkan dirimu Delima."


"AKU TIDAK PEDULI!!"


"Apa yang membuat kamu menginginkan diriku Jer? Sedangkan di luar sana banyak wanita yang lebih cantik dari aku, lebih muda, lebih seksi dan masih lajang."


Jericho mendekatkan dahinya di dahi Delisha. "Tapi tubuhmu candu bagiku." bisik Jericho dan semakin mendekati Delisha dan mendorong tubuhnya sampai Delisha terbaring paksa di bawahnya.


"LEPASIN!!!" Delisha memberontak dengan sekuat tenaga.


"TIDAK AKAN!!" Jericho mencengkram kuat tangan Delisha.


"JERI!!! LEPAS!!! TOLOOOONG....." Delisha terus memberontak di bawah Jericho, namun itu tidak membuat Jericho kewalahan dengan tenaga Delisha yang tidak seberapa baginya.


"Tidak akan ada yang menolongmu Delima!"


"Arrghhhh...." Delisha berhenti memberontak saat merasakan kram di perutnya, ia terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk memberontak, ia stress, takut dan banyak yang bersarang di pikirannya.


"Kamu kenapa Delima?" tanya Jericho panik, ia melepas cengkramannya dan menegakkan tubuhnya, biar bagaimanapun ia mencintai wanita di bawahnya ini, ia tidak mungkin membiarkan Delima kesakitan.


Tangan Delisha terlepas dari cengkeraman Jericho, ia meringkuk dan memegangi perutnya yang kram.


"Delima, kamu kenapa? Sakit perut?" tanya Jericho lagi.


"Aku sedang hamil Jer, dan perbuatanmu membuat perutku menjadi kram, sakit!"


Jericho mengeraskan rahangnya. "Tidak! Kamu tidak boleh hamil anak laki-laki itu!"


"Dia suamiku!"


"Kamu harus hamil anakku!"


"KAMU GILA JER!!"


"Aku gila karenamu. Anak itu harus keluar dari perutmu, kamu tidak boleh hamil karenanya! Kamu hanya boleh hamil karenaku."


Jericho mengangkat tubuh Delisha dan Delisha kembali memberontak ia mengabaikan rasa kram di perutnya.


"Diam Delima! Atau aku akan membiusmu lagi?!" ancam Jericho.


"Kamu mau bawa aku kemana Jer?!!"


"Dokter pribadiku."


"ENGGAK!!! TURUNKAN AKU JER!!!" teriak Delisha, namun tidak di hiraukan oleh Jericho, ia tetap melangkah keluar dari kamar tersebut.


*


*


Jangan ngamuk ye... aku jadi takut πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ