
*
*
π΄π΄π΄
*
Alvin tersenyum sendiri saat menoleh dan melihat beberapa paper bag di kursi penumpang, paper bag itu berisi mobil-mobilan untuk Delvin, Alvin memesan mainan itu beberapa hari yang lalu dan baru datang tadi.
Mobil-mobilan sesuai pesanan Delvin pada Devan waktu Devan sedang di luar kota bersama dirinya.
Alvin melajukan mobilnya menuju rumah Devan untuk menemui bocah gembul itu serta mengantar mainan kesukaan Delvin. "Delvino." gumamnya lalu terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, mengingat nama Delvin membuatnya teringat saat dirinya yang memberi nama itu pada bayi mungilnya Delisha dan sekarang sudah tumbuh menjadi bocah gembul yang lucu dan menggemaskan.
Alvin tidak menyangka kalau Delvin adalah anak sahabatnya, padahal Alvin ikut andil dalam merawat bocah itu sejak bayi bahkan saat bocah itu masih di dalam kandungan ibunya.
Alvin tidak terlalu memperhatikan bentuk wajah Delvin yang mirip Devan, mungkin karena kulit Delvin yang putih dan mata bulatnya berbeda dengan Devan.
Alvin telah sampai di rumah Devan lalu turun dari mobilnya beserta beberapa paper bag di tangannya. 'Ting tong' Alvin menunggu beberapa saat kemudian pintu terbuka dari dalam. "Alvin?" sapa Aleza.
"Delvin dimana tante?" tanya Alvin sembari melangkah memasuki rumah.
"Biasa, di atas sedang bermain."
"Alvin langsung ke atas ya tante."
"Iya." jawab Aleza lalu melangkah menuju dapur untuk menyiapkan kue yang telah ia buat tadi, beserta buah-buahan.
Aleza memang membuat kue untuk Delisha, rencananya nanti dia akan ke rumah sakit untuk menjenguk menantunya mumpung Delvin ada yang menemani di rumah.
Alvin membuka pintu kamar bermain.
"Ayaaahh...." teriak Delvin girang lalu meletakkan mainan yang sedari tadi di pegangnya kemudian lari ke arah Alvin.
Alvin meletakkan paper bag di tangannya lalu menangkap bocah gembul itu kemudian menggendongnya. "Ayah bawa mainan loh buat Delvin."
"Itu?" tanya Delvin sambil menengok ke bawah dimana paper bag itu berada.
"Betul." jawab Alvin.
Delvin langsung merosotkan tubuhnya dari gendongan Alvin lalu membuka paper bag itu. "Asikkk..." Delvin bersorak gembira saat mengetahui mobil-mobilan yang di inginkannya telah ia miliki, tangan mungil itu terangkat untuk memberi kode pada Alvin supaya membungkuk, setelah Alvin membungkuk Delvin mengalungkan kedua tangannya di leher Alvin. "Makasih ayah." ucapnya setelah mencium pipi Alvin.
Alvin terkekeh lalu mengacak rambut Delvin, Alvin selalu gemas dengan tingkah Delvin, Alvin sudah menduga kalau Delvin pasti akan suka dengan mainan yang ia bawa.
Lestari keluar dari toilet lalu tersenyum tipis saat melihat interaksi antara Alvin dan Delvin yang begitu manis.
"Lestari??" Alvin sedikit terkejut dengan keberadaan Lestari di kamar bermainnya Delvin.
Lestari melangkah lalu mengulurkan tangannya. "Mas Alvin apa kabar?"
Alvin menerima uluran tangan Lestari. "Baik, kok kamu disini?" tanya Alvin bingung, Alvin tau kalau Lestari adalah saudaranya Delisha, yang membuat Alvin bingung, Delisha kan tidak ada di rumah ini tapi kenapa Lestari disini tidak kerumah sakit saja?
Lestari melepas jabatan tanganya pada Alvin. "Aku disuruh tante Leza buat jagain Delvin, katanya tante Leza dan om Ezra mau kerumah sakit, mumpung om Ezra hari ini libur."
"Kamu sendiri nggak ke rumah sakit?"
"Gantian, setelah tante Leza pulang aku yang ke rumah sakit."
"Nanti bareng aku aja ke rumah sakitnya."
"Mas Alvin juga mau jenguk mbak Delisha?"
"Kerja." jawab Alvin singkat.
Lestari mengernyit. "Kerja? Mas Alvin kerja dimana?"
Alvin terkekeh "Nanti juga tau kalau sudah sampai disana." jawab Alvin lalu pandangan Alvin turun ke bawah dimana Delvin sedang memainkan mainan yang ia bawa tadi.
Bocah polos dan lucu tapi nasib bocah itu membuat Alvin iba, sejak bayi dia tidak mengenal ayahnya dan sekarang setelah bertemu dengan ayahnya, nyawa ibunya terancam dengan adanya penyakit mematikan itu.
Alvin tidak bisa membayangkan jika bocah sekecil itu kehilangan ibunya, bagaimana nasibnya?
Alvin membungkuk lalu menciumi pipi gembulnya Delvin. "Suka mainannya?"
Delvin mengangguk cepat. "Suka." jawabnya girang.
Alvin mengusap rambutnya Delvin lalu menegakkan tubuhnya. "Kita tunggu disana aja." ucapnya pada Lestari sembari menunjuk karpet bulu di pojok ruangan.
"Iya mas." jawab Lestari lalu melangkah menuju karpet bulu yang di tunjuk Alvin dan Alvin mengikutinya dari belakang.
Mereka duduk di karpet sambil ngobrol dan mengawasi Delvin bermain.
Pintu terbuka dari luar, Aleza dan Ezra memasuki kamar tersebut. "Alvin, Lestari kami tinggal dulu, nitip Delvin ya."
"Iya tante."
"Iya om."
"Kompak ya kalian." kata Aleza.
Ezra mendekati cucunya yang sedang asik dengan mainan barunya. "Opa pergi dulu ya, Delvin di rumah sama ayah dan bulek."
"Iya opa." jawab Delvin tanpa menoleh, ia masih fokus dengan mainannya.
Ezra mencium pipi Delvin. "Jangan nakal!"
"Siap boss."
Ezra berdiri lalu gantian Aleza yang mendekatinya cucunya serta menciuminya. "Oma berangkat ya, jangan menyusahkan ayah dan bulek."
Delvin mengangguk. "Iya oma."
Ezra dan Aleza meninggalkan Delvin, Alvin dan Lestari di kamar itu.
*
π΄π΄π΄
*
"Aku bisa sendiri Dev."
"Nggak apa-apa biar aku aja." Devan sedang membantu Delisha memakai baju pasiennya setelah tadi Devan membantu membersihkan tubuh Delisha. "Selesai." Devan telah selesai mengancingkan baju seragam pasien di tubuh Delisha.
"Sini aku kasih hadiah." Delisha menarik tengkuk Devan dengan satu tangannya yang tidak terpasang infus kemudian mencium kedua pipi Devan bergantian, Devan pun membalasnya dengan satu kecupan di kening Delisha.
Devan duduk di sebelah Delisha lalu menatap kalung yang melingkar di leher Delisha. "Kalungnya cantik ya mbak?"
"Iya mas, ini yang ngasih penggemarku loh."
"Wah kalung murahan itu mbak, penggemar mbaknya kere ya?"
"Hus!!! Kalau ngomong tuh hati-hati!"
Ruangan itu langsung terisi dengan suara gelak tawa Devan dan Delisha.
"Sekarang jadi kenyataan kan dua D menjadi satu, tiga D malah." Devan berujar setelah berhasil menghentikan gelak tawanya.
"Aku maunya empat D atau lima D sekalian."
Devan beringsut mendekat pada Delisha kemudian menggenggam tangannya. "Semoga keinginan kita bisa terwujud."
"Aamiin.."
"Biar kayak keluarga Anang dan Ashanty gitu, semua anggota keluarganya A semua." Delisha masih melanjutkan candaan mereka.
"Anaknya Anang tuh empat loh, kamu mau hamil tiga kali lagi?"
"Nanti gantian lah sama kamu."
"Emang bisa? Ya udah kamu yang hamilin aku aja."
"Devan ih!" Delisha memukul pelan lengan Devan. "Eh, emang kalung ini harganya berapa?" tanya Delisha sembari menyentuh kalung di lehernya.
"Kalung murahan itu."
"Murah kan ada harganya."
"Cuma sembilan angka."
"Hah??" Delisha tercengang. "Sembilan angka?"
"Udah, nggak usah di bahas!"
"Kamu ngasih aku hadiah semahal itu padahal waktu itu kita tidak ada hubungan apa-apa?"
"Di bilangin nggak usah di bahas!"
"Kamu kalau sama wanita lain kayak gitu nggak?" pertanyaan dari Delisha membuat Devan menatap Delisha sebal, jelas-jelas dirinya tidak bisa bersikap manis pada wanita lain hanya pada Delisha lah Devan bisa bersikap manis dan hangat.
Kalau bermain-main dengan wanita Devan akui itu, tapi Devan tidak pernah melibatkan hati pada wanita-wanita yang pernah ia tiduri, apalagi sampai memberi sebuah hadiah pada wanita-wanita itu.
Hanya pada Delisha lah Devan melibatkan hatinya ketika bercinta.
*
*
Ini kapan end nya ya?
Hahaha kayaknya nggak jadi end deh. π€π€π€
Author nya masih pengen up kayaknya.