Because Baby

Because Baby
Part 32



*


*


🌴🌴🌴


Delisha menjalani rutinitas seperti biasa, setiap hari Delisha akan ke butik bersama Delvin, berangkat pagi pulang sore kadang juga malam.


Seharian Delisha di butik, hari sudah mulai gelap Delisha sudah bersiap-siap pulang, sebelum pulang Delisha membereskan beberapa baju yang berantakan.


"Selamat sore." sapa seorang pria paruh baya sembari berjalan masuk ke dalam butik.


Delisha menghentikan kegiatannya lalu menoleh ke arah sumber suara. Delisha membeku di tempatnya, rasa takut dan gugup hinggap di hatinya saat sudah mengetahui siapa yang datang ke butiknya.


Delisha memberanikan diri untuk tersenyum. "Selamat sore pak."


Pria paruh baya itu masuk dan di ikuti seorang wanita cantik di belakangnya.


"Aisyah, pilihlah baju mana yang kamu suka untuk pertemuan keluarga besok malam." ujar pria paruh baya itu lalu di angguki oleh wanita cantik tadi. "Om tunggu disini." lanjut pria paruh baya itu.


Pria paruh baya itu berdiri di belakang Delisha. "Delisha, kamu lihat wanita itu. Dia cantik, anggun, tutur katanya halus, berpendidikan tinggi, dan berasal dari keluarga yang terpandang."


Delisha menoleh menatap pria paruh baya tadi.


"Lihatlah dirimu!" pria paruh baya tadi menatap Delisha dari atas sampai bawah. "Kamu tidak ada apa-apanya di bandingkan wanita pilihan saya. Saya heran kenapa anak saya bisa tergila-gila sama kamu."


Delisha masih membisu, meskipun tidak ada kata kasar ataupun nada tinggi namun semua perkataan pria paruh baya itu mampu menghancurkan hati Delisha hingga berkeping-keping.


"Bundaa." Delvin mendekati Bundanya. "Ayo pulang."


Delisha mengangkat tubuh Delvin lalu melangkah menuju pintu keluar, namun langkahnya terhenti saat pria paruh baya tadi kembali bersuara.


"Sampai kapanpun saya tidak akan merestui hubungan kamu dengan Alvin!"


Delisha kembali melanjutkan langkahnya, namun lagi-lagi terhenti, pria paruh baya itu masih meneruskan kalimatnya.


"Berkacalah! Apa dirimu pantas untuk anak saya? Mantan wanita malam mempunyai anak haram pula!"


Delisha sudah tak mampu lagi menahan air matanya saat mendengar kata terakhir pria paruh baya tadi 'anak haram' sungguh Delisha tidak rela jika anaknya dihina seperti itu.


Hinaan Papanya Alvin membuat Delisha teringat masa lalunya yang kelam, Delisha kembali merasa jijik pada dirinya sendiri.


"Om Reza aku mau mencoba dulu, tidak apa-apa kan kalau Om Reza menunggu sebentar?" tanya Aisyah dari jarak agak jauh sembari membawa beberapa potong pakaian di tangannya.


"Cobalah sepuasnya." jawab Reza.


Aisyah memasuki ruang ganti lalu Reza mendekati Delisha. "Apa yang Alvin harapkan dari wanita seperti kamu?"


Delisha memutar tubuhnya menghadap Reza Bimantara. "Seharusnya anda menanyakannya pada anak anda, bukan pada saya."


Delisha kembali memutar tubuhnya lalu melangkah mendekati Indah. "Ndah, kamu urus pelanggan kita! Aku mau pulang kuncinya kamu bawa pulang saja."


Indah mengusap bahu Delisha. "Kamu yang sabar Sha."


"Terima kasih." Delisha segera melangkah keluar dari butik berserta Delvin dalam gendongannya. Delisha berjalan cepat sambil sesekali menyeka air matanya yang tumpah.


"Bundaa." tangan mungil Delvin menghapus air mata Bundanya. "Bunda sakit?" tanya Delvin dengan suara cadelnya.


Delisha menggeleng lalu memeluk erat tubuh Delvin.


Tok tok "Sha."


"Pergi Vin!" sahut Delisha dari dalam rumah.


"Aku ada salah sama kamu?"


"......" Delisha tidak menjawab pertanyaan Alvin.


"Kalau aku punya salah, aku minta maaf. Katakan salahku dimana agar aku bisa memperbaikinya."


"......" Delisha masih membisu.


Alvin kembali mengetuk pintu. "Buka pintunya Sha! Kita bicarakan baik-baik."


"Ayaahh.." suara isakan Delvin dari dalam rumah.


Alvin semakin keras mengetuk pintu. "Sha, ada apa? Tolong jangan bikin aku panik. Tolong buka pintunya kasian Delvin."


"PERGI VIN!! AKU KOTOR AKU HINA." Delisha berteriak di sertai isak tangis.


"Ada apa Vin? Kenapa Mommynya Delvin berkata seperti itu?" tanya Devan yang baru saja sampai namun bisa mendengarkan teriakan Delisha.


Alvin menggeleng. "Gue juga tidak tau, dari tadi Delisha belum membuka pintu. Lo ngapain kesini?"


Devan menunjukkan paper bag di tangannya. "Gue mau ngasih ini buat Delvin."


Alvin belum menyerah dia kembali mengetuk pintu. "Buka pintunya Sha! Aku mohon."


"Pergi Vin!! Aku tidak pantas buat kamu. Seharusnya kamu bersama wanita pilihan Papamu, dia jauh lebih baik daripada aku Vin."


"Jadi kamu tadi bertemu dengan Papaku dan Aisyah?"


"...." Delisha kembali diam tidak menjawab pertanyaan Alvin.


"Apa kita bisa menentukan pada siapa kita akan jatuh cinta? Aku hanya cinta sama kamu Sha. Aku tidak punya perasaan apa-apa pada Aisyah, aku menganggapnya hanya sekedar teman tidak lebih."


Devan hanya mendengarkan percakapan Delisha dan Alvin. "Sedalam itukah cinta Alvin pada Delima?" batin Devan.


"Aku tidak pantas buat kamu Vin, mengertilah!"


*


*


Apa yang akan di lakukan Devan dan Alvin??


Siapa yang bisa menenangkan Delisha??