Because Baby

Because Baby
Part 21



*


*


"Kalau gitu kita harus bagi tugas Mih, Mami yang ngambil rambut Delvin. Selebihnya biar Devan yang ngurus." ujar Devan pada Aleza.


Aleza mengacungkan ibu jarinya. "Gampang itu mah, hasil tesnya keluar berapa hari Dev?"


"Satu sampai dua minggu Mih." jawab Devan.


"Lama banget, apa tidak ada yang lebih cepat?"


"Kalau mau yang lebih cepat pakai darah Mih, satu sampai dua hari sudah keluar hasilnya, tapi kan Delvin masih terlalu kecil, kita tidak mungkin mengambil darah Delvin. Tidak apa-apa lah kita nunggu satu sampai dua minggu, pakai rambut aja yang tidak menyakiti Delvin."


"Oke, besok Mami akan ke rumah Delisha lag--."


"--Delima Mih." potong Devan.


"Delisha!!!" sahut Aleza.


"Terserah Mami." ujar Devan pasrah. "Papi mau sampai kapan di California?"


"Belum tau, enam bulan sampai satu tahun mungkin."


"Giliran anaknya pulang Papi malah pergi, lama banget lagi." ujar Devan.


Aleza mencubit lengan Devan. "Mendingan Papi di luar Negeri hanya enam bulan sampai satu tahun, lah kamu, di luar kota aja sampai tiga tahun."


"Aduh... sakit Mih." Devan mengusap lengannya bekas cubitan tadi. "Tapi Devan kan pindah-pindah Mih, tidak hanya satu kota saja."


Aleza beranjak dari ranjang. "Sudah. Mami mau tidur."


"Jangan balik lagi Mih!" ujar Devan dan di balas pelototan tajam dari Aleza. Devan hanya terkekeh.


Devan kembali mencari posisi ternyaman untuk beristirahat, pandangannya tertuju pada langit-langit kamarnya, senyumnya mengembang saat mengingat jika Delvin benar-benar darah dagingnya.


Perlahan matanya terpejam dan Devan memasuki alam mimpi.


*


*


🌴🌴🌴


*


Devan tersentak kaget saat membuka mata ternyata ada Delima disisinya. "Delima? Kok kamu bisa di kamarku?" tanyanya bingung.


Delima memainkan kancing piyama milik Devan. "Aku juga merindukanmu Devan."


Devan melepas tangan Delima yang memainkan kancing piyamanya. "Jangan memancingku Delima! Kamu tau kan kalau aku selalu tidak bisa menahan diriku saat bersamamu?"


Delima beralih memainkan jemarinya di wajah Devan. "Sungguh, aku merindukanmu Devan."


Devan membulatkan matanya. "Apa tadi kamu bilang? Coba ulangi!"


"Benarkah Delima?" tanya Devan antusias.


"Aku merindukanmu." bisik Delima di telinga Devan.


Devan langsung memeluk tubuh Delima erat. "Aku bahkan lebih merindukanmu Delima, sangat sangat merindukanmu, aku sudah lama mencarimu."


Delima mendongak untuk menatap Devan. "Benarkah kamu mencariku?"


Devan mengecup kening Delima sebelum menjawab pertanyaan Delima. "Sungguh, aku mencarimu bahkan sampai keluar kota."


Jemari Delima menyentuh bibir Devan. "Sekarang kita sudah bertemu, bisakah kita saling melepas rindu?"


"Tentu." jawab Devan mantap.


Devan menatap lekat-lekat wajah Delima, wajah cantik yang selama ini ia rindukan kini berada di hadapannya.


Devan mulai menciumi setiap inci wajah Delima tanpa terlewat sedikit pun.


Kedua tangan Devan yang tadinya di pinggang Delima kini beralih untuk menangkup wajah Delima, Devan meraup bibir Delima serta menghisapnya lembut atas bawah bergantian penuh perasaan.


Ciuman Devan mulai turun ke leher jenjang Delima, mencium, menghisap serta menggigit kecil-kecil membuat Delima mendesah antara nikmat dan geli.


Devan menghentikan aktivitasnya lalu menatap Delima dalam. "I love you Delima." bisik Devan.


"I love you too Devan." balas Delima juga berbisik.


Devan kembali memulai ciumannya, ciuman yang lebih menuntut, tangan Devan membuka kancing piyama Delima satu persatu hingga terlepas semuanya. Devan menatap kedua buah dada Delima dengan mata berbinar dan takjub. " Delima, punyamu masih sama seperti yang dulu."


"Oh, ya? Padahal aku sudah punya anak loh."


Devan terkekeh. "Anak kamu kan anak aku juga Delima."


"Ini kapan kita mulainya kalau ngobrol terus." rajuk Delima dengan bibir mengerucut lucu, di mata Devan.


Devan mengecup bibir Delima yang mengerucut lucu itu, tanganya melingkar ke punggung Delima untuk melepas pengait bra milik Delima.


"Bundaaaa..!!!" teriakan Delvin dari ambang pintu membuat keduanya tersentak kaget.


Refleks Delima mendorong tubuh Devan hingga terjungkal ke bawah.


"Aduuhh..." Devan mengusap-ngusap bokongnya untuk meredakan rasa sakitnya.


Untuk beberapa saat Devan melupakan Delima namun detik berikutnya Devan teringat Delima, Devan langsung beranjak mencari Delima dan Delvin. "Delima... Delvin..." Devan celingukan mencari mereka berdua, namun nihil pintu kamar masih tertutup rapat.


Devan terdiam sejenak untuk mengingat-ingat kejadian barusan, lalu Devan mendesah kecewa karena semua itu tadi hanya mimpi.


"Aku merindukanmu Delima, Delvin. Aku merindukan kalian." gumam Devan.


*


*


Author nya lagi songong🤣🤣🤣