Because Baby

Because Baby
Part 16



*


*


"Woi!!! diem aja?" Teriak Alvin, karena sedari tadi dia sudah merentangkan kedua tangannya untuk menyambut sahabatnya, namun Devan malah diam seperti patung.


Devan tersadar dan segera memeluk sesaat sahabatnya serta menepuk-nepuk punggungnya. "Gimana kabar lo?"


"Seperti yang lo lihat baik, baik banget malah." Jawab Alvin.


Devan melepas pelukan sahabatnya dan menatap anak kecil tadi. "Dia siapa?"


Alvin lantas menoleh ke arah Delvin. "Vin, sini nak kenalan dulu sama teman Ayah." Ujar Alvin pada Delvin.


Devan mengernyit. "Ayah?"


"Dia anaknya Delisha cewek gue." Ucap Alvin menjawab kebingungan Devan.


Delvin mengulurkan tangan mungilnya. "Namaku Apin Om."


Devan menyambut tangan mungil Delvin. "Hai Apin. Nama Om, Devan."


Alvin terkekeh. "Namanya Delvin tapi dia selalu memanggil namanya sendiri dengan Apin, karena dia masih cadel."


"Oh." Devan manggut-manggut.


"Yah, Apin mau pipis." Ujar Delvin dengan suara cadelnya.


"Sini!" Dengan telaten Alvin melepas celana Delvin dan mengantarnya ke toilet.


Devan geleng-geleng. "Sekarang lo jadi baby sitter?" Canda Devan setelah Alvin mengantar Delvin ke toilet dan sekarang sedang memakaikan celana Delvin lagi.


"Demi Bundanya yang cantik." Jawab Alvin enteng.


"Gue jadi penasaran sama Delisha, kok lo bisa sampai segituny--."


"--Dia cantik buanget Dev, baik pula." Sahut Aleza sembari berjalan mendekati mereka dan ikut bergabung dengan mereka.


"Kenapa sampai sekarang lo belum nikah dengan tuh cewek?" Tanya Devan.


"Nikah kan butuh dua mempelai bukan satu mempelai doang." Jawab Alvin.


Devan mencondongkan tubuhnya supaya lebih dekat dengan Alvin. "Nggak usah berbelit-belit! Maksudnya apaan?"


"Gue belum bisa nikah karena Bundanya Delvin belum siap nikah sama gue."


Devan menyemburkan tawanya. "Selama bertahun-tahun lo ngapain aja Vin? Sampai sekarang belum bisa merebut hati wanita itu."


Alvin memukul lengan Devan. "Elo juga selama bertahun-tahun ngapain Dev? Sampai sekarang belum nemuin cewek lo itu."


Devan juga membalas pukulan Alvin. "Sialan lo!"


Candaan dua orang dewasa itu membuat Delvin tidak nyaman dia turun dari pangkuan Alvin lalu berpindah pada Aleza. "Omaaa..." Delvin bergelayut manja di kaki Aleza.


Aleza mengangkat tubuh gembul Delvin lalu memangkunya.


Dahi Devan berkerut. "Ini kenapa pada deket sama anak kecil itu sih?" Batin Devan.


"Nggak usah heran gitu Dev, salah kamu sendiri ninggalin Mami lama-lama jadi Mami cari hiburan deh, sering main ke rumah Delvin." Ujar Aleza sembari mencubit pipi gembul Delvin.


Detik berikutnya Aleza mengamati wajah Devan dan Delvin bergantian. "Kok Delvin cenderung mirip Devan?" Batin Aleza.


Devan sedang memakan makanannya namun matanya tak lepas dari Delvin, sungguh Devan penasaran dengan bocah gembul itu. Dari bentuk wajah, hidung, bibir, dagu, sungguh bocah itu seperti foto copy dirinya cuma mata bulat dan kulit putihnya yang berbeda, tapi mata itu mengingatkannya pada seseorang namun siapa? Devan sendiri belum ingat dengan jelas siapa pemilik mata bulat itu.


"Uhuk... Uhuk..." Devan sampai tersedak makanan karena dia tidak fokus dengan makanannya. Wajah Devan sampai memerah.


"Nih om." tangan mungil Delvin menyodorkan beberapa lembar tisu saat melihat mulut Devan kotor.


Senyum Devan mengembang dan menerima tisu tersebut. "Terima kasih Apin."


Delvin hanya menjawab dengan senyum manis dan menampilkan sedikit gigi susunya yang tertata rapih, membuat Devan terpana dan rasa hangat menjalari aliran darahnya.


"Semuanya maaf." Ujar Alvin sembari beranjak dari kursi untuk menjawab telepon dari pihak rumah sakit.


Setelah beberapa menit Alvin kembali ke ruang makan untuk berpamitan pada Devan beserta Maminya.


"Vin, ayo kita pulang. Ayah mau kerja." Ujar Alvin sembari merentangkan kedua tangannya hendak menggendong Delvin.


Delvin geleng-geleng.


Alvin kini jongkok di depan Aleza yang sedang memangku Delvin. "Kok nggak mau? Ayah mau kerja loh."


Delvin malah mengalungkan kedua tangannya di leher Aleza.


"Nanti biar gue yang nganter Delvin pulang." Sahut Devan.


"Iya, nanti biar tante dan Devan yang nganter Delvin." Aleza menimpali.


"Tapi jangan lama-lama, kasian nanti kalau Bundanya pulang kerja terus tidak ada Delvin, kesepian di rumah." Ujar Alvin pasrah.


Alvin mengecup pipi Delvin. "Ayah kerja dulu, tidak boleh nakal, oke Boy!"


Delvin menjawab dengan mengacungkan ibu jarinya.


Alvin terkekeh serta mengacak puncak kepala Delvin, lalu dia keluar dari rumah Devan.


Setelah Alvin pulang Aleza beranjak dari tempat duduknya sembari membopong Delvin. "Kita main di kamar atas yuk, disana ada tempat bermain loh punya Om Devan waktu masih kecil."


"Apin mau Oma." Jawab Delvin antusias.


Aleza menaiki tangga beserta Delvin di gendongannya. Devan hanya mengekorinya dari belakang serta menoel-noel pipi Delvin. "Om yang gendong Apin ya?"


Delvin menggeleng serta mengeratkan pelukannya pada Aleza.


Aleza terkekeh melihat raut kecewa Devan. "Makanya bikin sendiri!"


Devan melebarkan matanya. "Apa? Bikin? Kayak bikin mainan aja, bikin manusia loh Mi, tidak segampang itu." Dengus Devan.


"Gampanglah, kamu juga pasti suka bikinnya." Ujar Aleza sambil terkikik.


"Bikin sama siapa Mi, istri aja belum punya."


"Makanya cari! Ingat umur." Ujar Aleza sembari membuka pintu kamar bermain bekas Devan.


Mereka asik bermain hingga tak terasa hari sudah gelap, waktunya mengantar Delvin pulang. Delvin juga sudah kelelahan karena semua permainan yang ada di dalam kamar itu di cobanya.


Mereka menuruni tangga dan menuju garasi, Devan yang menyetir dan Aleza duduk di samping jok kemudi beserta Delvin di pangkuannya yang sedang tertidur.


"Masih jauh nggak Mi?" Tanya Devan tanpa menoleh tatapannya lurus kedepan.


"Sebentar lagi, itu di depan tinggal belok ke kiri sudah sampai." Ujar Aleza sembari membenarkan posisi Delvin yang sedang tidur di pangkuannya.


*


*


Tolong budayakan setelah membaca klik jempol ya! Supaya Author semangat 💪💪