Because Baby

Because Baby
Part 52



*


*


🌴🌴🌴


*


*


Setelah dari rumah Bambang, keluarga Devan tidak langsung pulang kerumahnya karena hari sudah gelap, mereka masih menginap di hotel dan baru akan pulang besok pagi.


Sedangkan Alvin sudah keluar kota lagi, setelah jalan-jalan bersama Lestari dan Delvin, Alvin langsung berpamitan.


Devan dan keluarga sedang berjalan menelusuri lorong hotel, mereka hendak menuju kamar masing-masing. Devan dan Delisha berjalan sembari menuntun Delvin menuju kamar mereka, sedangkan Aleza dan Ezra berjalan di belakangnya.


Devan telah sampai di depan kamarnya, kamar yang semalam ia tiduri bersama Alvin, kini akan ia tiduri bersama anak dan istrinya.


"Delvin bobo bareng opa dan oma ya?"


Suara Ezra menghentikan gerakan Devan yang hendak membuka pintu lalu menoleh ke belakang. "Asiiikkkk." batin Devan.


"Tidak usah, biar Delvin tidur bersama kami." tolak Delisha halus.


Aleza kemudian berjongkok, menyamakan tinggi badannya dengan badan Delvin yang sedang berdiri. "Delvin mau bobo sama oma atau sama bunda?"


Delvin nampak bingung mau tidur bersama siapa malam ini.


"Opa bawa mobil-mobilan loh." ujar Ezra membuat mata Delvin langsung berbinar dan senyumnya mengembang.


"Mau bobo sama opa." jawab Delvin.


"Yes!! Yes!! Yes!!!" batin Devan lagi.


Ezra segera mengangkat tubuh Delvin lalu kembali berjalan menuju kamarnya bersama Aleza di sebelahnya.


Devan memasuki kamarnya bersama Delisha di sebelahnya.


Delisha melepas jaketnya lalu menaruhnya di lengan sofa kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa lalu melepas sepatunya, setelah sepasang sepatunya terlepas Delisha berselonjor dan bersandar di lengan sofa tersebut.


Hari yang melelahkan bagi Delisha namun juga hari membahagiakan.


Devan juga telah melepas jaket dan sepatunya kemudian duduk di sebelah kaki Delisha. "Capek?" tanyanya.


Delisha tersenyum tipis. "Capek tapi bahagia."


Devan beringsut hingga duduk di sebelah Delisha, tangannya terangkat untuk mengambil beberapa helai anak rambut Delisha yang menutupi dahinya lalu menyelipkannya di balik telinga kemudian mengecup keningnya dan berakhir mengelus pipi Delisha dengan punggung tangannya. "Kamu cantik dan akan selalu cantik dimataku."


Delisha meraih tangan Devan yang sedang mengelus pipinya lalu mengecupnya kemudian menatap mata Devan. "Hari ini aku sangat bahagia, penderitaanku selama bertahun-tahun akhirnya berakhir, aku telah menemukan siapa ayah dari anakku, ternyata dia adalah pria yang kucintai dan karena anak kita sekarang kita bisa bersatu."


Tatapan mata yang saling bertemu dan sebuah senyuman terbit di bibir masing-masing. "Aku mau jatahku sekarang." Devan memiringkan kepalanya lalu memagut bibir Delisha namun Delisha segera melepas pagutan mereka. "Nanti kalau Delvin terbangun seperti waktu itu gimana?"


Devan berdiri lalu meletakkan tangan kanannya di belakang lutut Delisha dan tangan kirinya di bawah ketiak, dalam hitungan detik Devan telah mengangkat tubuh Delisha. "Tidak akan, jika terbangun pasti Papi Mami akan menenangkannya." jawab Devan sembari berjalan lalu membaringkan tubuh Delisha di ranjang kemudian dirinya ikut menaiki ranjang. "Aku akan membuatmu sampai tidak bisa berjalan besok."


Delisha bergidik ngeri lalu beringsut duduk. "Jangan sadis gitu! Aku jadi takut tau!"


"Itu bukan kemauanku, itu kemauan si Emprit, dia terlalu lama kedinginan di luar jadi kalau nanti dia merasakan kehangatan di dalam sarangnya dia pasti enggan keluar lagi, pengennya di dalam terus."


"Itu mah akal-akalan kamu!" Dengus Delisha. "Kenapa dari dulu namanya nggak di ganti sih? Si Emprit mulu, dia gede loh."


Devan tergelak kencang. "Segede-gedenya si Emprit tetep gede tubuhku. Iya kan?"


"Si Emprit burung yang nakal suka berpetualang berpindah-pindah sarang untuk mencari kehangatan, namun sarang milik Delima lah yang paling hangat dan yang paling nyaman bagi si Emprit." batin Devan lalu tertawa dalam hati.


Devan kembali memagut bibir Delisha dengan agresif menghisapnya atas bawah bergantian sampai bibir mungil itu bengkak karena ulahnya, tangan kekarnya menelusup kedalam kaos yang di kenakan istrinya lalu bermain di dalam sana.


Cukup lama mereka berciuman hingga Devan melepas pagutannya lalu berpindah ke leher mulus Delisha dan sebentar lagi tidak akan mulus lagi karena pasti Devan akan mewarnai leher itu dengan bibirnya.


Delisha melenguh saat Devan mulai mencium lehernya serta menggigitnya kecil-kecil, kedua tangan Delisha terangkat untuk menangkup wajah Devan lalu sedikit mengangkatnya membuat Devan menghentikan kegiatannya. "Jangan memberi tanda di leher! Malu dilihat orang."


Devan manaikan satu alisnya. "Kenapa? Dulu tidak malu."


"Dulu kan aku tidak keluar-keluar."


"Okey, kalau gitu aku akan bikin tanda di bagian bawah yang banyak." Devan melepas kaos Delisha lalu membuangnya asal kemudian kembali mencium serta menghisap leher Delisha pelan supaya tidak meninggalkan jejak disana sesuai permintaan istrinya.


Delisha mendesah serta meremas rambut Devan, matanya terpejam menikmati setiap kenikmatan yang di ciptakan oleh Devan.


Devan melepas hisapannya di buah dada Delisha. "Aku sudah tidak tahan, bermainnya nanti yang kedua ya?" pintanya, karena hasrat Devan sudah di puncak tidak bisa di tahan lagi meskipun dengan bermain dengan tubuh istrinya.


Devan segera melucuti pakaiannya serta sisa pakaian Delisha. "Kamu selalu sexy. Pemanasannya udahan ya? Maaf sedikit tergesa-gesa, si Emprit sudah meronta-ronta dia sudah tidak sabar mau masuk sarangnya." ujar Devan dan di balas senyuman tipis oleh Delisha dan tatapan mata yang sayu tanda kabut gairah juga telah menyelimuti Delisha.


***


Devan ambruk di samping tubuh istrinya dengan napas yang masih memburu.


Delisha menoleh ke samping, dimana Devan masih sibuk mengatur napasnya. "Mau berapa ronde?" tanya Delisha sambil tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.


Devan memiringkan tubuhnya lalu menoel hidung Delisha. "Nantang kamu ya!! Awas jangan salahkan aku kalau besok kamu benar-benar tidak bisa berjalan."


*


*


Hot-hotnya Author hapus ya? Jangan nyariin.πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜