Because Baby

Because Baby
Part 44



*


*


Devan berhenti mendadak membuat Delisha menubruk tubuhnya karena sedari tadi Delisha berjalan dengan menunduk. "Devan!!" protes Delisha.


Devan membalikkan tubuhnya lalu tangan kanannya menggandeng Delisha sedangkan tangan kirinya tetap setia menggendong Delvin. "Nggak usah tegang gitu, kan ada aku dan Delvin."


Delisha mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan seolah sedang mencari keberanian dari situ. Devan menarik tangan Delisha menuntunnya memasuki rumah.


"Omaa..." Delvin langsung merosotkan tubuhnya dari gendongan Devan lalu lari ke arah Oma nya yang sedang duduk di sofa. Aleza memang sedang menanti kedatangan cucunya.


Dengan senang hati Aleza merentangkan kedua tangannya lalu mengangkat tubuh Delvin ketika sudah di hadapannya. "Kangen Oma ya?" tanya Aleza sembari memangku Delvin kemudian menciumi bocah gembul itu.


Delvin mendongak untuk menerima setiap kecupan dari Oma nya.


Devan dan Delisha masih berjalan pelan menuju sofa. Sedangkan Ezra, dia belum memperhatikan cucunya yang sedari tadi dia nantikan, namun dia malah sibuk memperhatikan Delisha dari bawah ke atas. Delisha yang merasa di perhatikan pun hanya menunduk sembari mengeratkan genggaman tangannya pada Devan. Devan menoleh ke samping lalu menatap wajah Delisha yang sudah pucat dia segera menuntunnya menuju sofa kemudian duduk bersebelahan sembari meremas lembut genggaman ditangannya.


Lalu tatapan Ezra beralih ke samping dimana ada seorang bocah gembul yang sedang duduk di pangkuan istrinya. "Dia cucuku?" tanyanya seakan tidak percaya.


Aleza menghentikan kecupannya lalu menoleh kemudian mengangguk cepat. "Iya Pih, dia cucu kita." jawab Aleza lalu beralih menatap cucunya lagi. "Delvin salim dulu sama Opa!"


Delvin menatap Oma nya lalu Aleza mengangguk. "Ayo!" seru Aleza. Lalu Delvin mengulurkan tangan mungilnya ke arah Opa nya.


Dengan senang hati Ezra menerima uluran tangan dari cucunya, berjabat tangan layaknya orang dewasa yang sedang berkenalan lalu Ezra menarik tangan mungil itu kemudian di ciumnya. "Ya Tuhan, cucuku lucu sekali." tangan kanan Ezra masih mencium tangan Delvin sedangkan tangan kirinya mengelus pipi gembulnya Delvin.


Aleza menatap haru kedua pria di hadapannya, pemandangan yang belum pernah dilihatnya, Aleza bisa melihat binar bahagia dimata suaminya bahkan binar itu lebih terang di banding saat suaminya menimang Devan dulu, mungkin karena suaminya sudah lama menginginkan seorang cucu dan sekarang baru bertemu cucunya.


Ezra menepuk pahanya. "Sini duduk di pangku Opa ya?"


Delvin menggeleng cepat membuat Aleza terkekeh lalu menatap suaminya. "Sabar Pih, anak kecil memang seperti itu dia butuh waktu untuk menyesuaikan diri sama orang yang baru di kenalnya."


Ezra mendesah kecewa lalu dia memperhatikan secara seksama setiap lekukan di wajah cucunya. "Mih, cucu kita lebih ganteng dari Ayahnya ya? Emang bentuk wajahnya persis Devan tapi dia putih nggak item kayak Devan."


Devan membelalakkan matanya. "Devan denger Pih!" sahut Devan ngegas.


Delisha dan Aleza terkikik melihat ekspresi Devan yang lucu.


"Devan item juga turunannya dari Papi." gerutunya.


Ezra kemudian menyenggol lengan istrinya lalu mencondongkan tubuhnya. "Calon istri Devan cantik ya Mih, pantes Devan ngebet banget." bisik Ezra.


Aleza hanya mengangguk membenarkan ucapan suaminya.


"Papi setuju kan Devan menikahi Delisha?" pertanyaan Devan yang sama, entah itu sudah pertanyaan keberapa kalinya.


"Jadi kita nikahnya kapan?" Devan melayangkan pertanyaan lagi.


"Secepatnya, kalau bisa besok."


Delisha langsung mengangkat kepalanya. "Tidak bisa!"


Semua mata tertuju pada Delisha saat ini, bahkan Devan sampai terlonjak kaget.


Delisha menjadi salah tingkah karena di tatap oleh semua orang yang ada di ruang tengah tersebut, dia menggigit bibir bawahnya sembari menautkan jemarinya di atas pahanya. "Maksud Delisha-- kita tidak bisa menikah besok, karena kita harus ke Jogja dulu untuk menemui adiknya Ayah, dia yang akan menjadi wali nikah Delisha." ujar Delisha hati-hati.


Devan langsung bernafas lega, dia mengira kalau Delisha akan menolak dirinya.


"Atur secepatnya!" ujar Ezra dan di angguki Devan dan Delisha. "Mulai sekarang cucuku tinggal dirumah ini." lanjutnya.


"Tidak bisa." Delisha kembali protes.


Ezra mengernyit. "Kenapa?"


Delisha menoleh ke arah Devan dengan tatapan memohon meminta bantuan.


"Delisha tidak bisa hidup terpisah dari anaknya Pih." jawab Devan.


"Sekalian kamu tinggal disini." jawab Ezra santai.


Devan, Delisha dan Aleza terbelalak kaget dengan ucapan dari Ezra.


"Jangan berfikir yang tidak-tidak! Kamu tinggal disini tapi tidurnya di kamar tamu dan Devan tetap tidur dikamarnya sendiri!" ujar Ezra dan kembali di angguki Devan dan Delisha. "Dan malam ini cucuku bobo dikamar kita ya Mih?" lanjutnya sembari menatap istrinya.


"Iya." jawab Aleza singkat.


Senyum Devan langsung terbit di sudut bibirnya dengan senang hati Devan pasti menyetujui keputusan Ezra. Baru kali ini Ezra tidak membuat Devan jengkel, semenjak kepulangannya Ezra selalu menyudutkan Devan.


*


Ahaaii senangnya dalam hati... πŸ’ƒπŸ’ƒπŸ’ƒ


*


*


Pak Ezra Anggada yakin, kalau anak anda bakalan tidur di kamarnya??


Author sih nggak yakin 🀣🀣🀣