
*
*
π΄π΄π΄
*
Setelah seharian tadi mereka menghabiskan waktu untuk snorkeling di dekat jembatan dermaga, kini mereka sedang berjalan santai di bibir pantai menanti matahari tenggelam, tak terasa sudah lima hari mereka berada di Papua besok sudah waktunya kembali lagi.
Delisha juga sudah sangat merindukan bocah gembulnya, setiap malam sebelum tidur pasti ia menyempatkan diri untuk menelpon anaknya.
"Nanti mau makan malam apa mom?"
"Aku pengen makan kepiting asam manis, cumi bakar dan--"
"Tunggu-tunggu!" potong Devan. "Itu kan makanan kesukaanku, biasanya kamu nggak terlalu suka dengan menu itu."
Delisha menghentikan langkahnya kemudian menatap Devan. "Nggak tau." jawabnya sambil meringis. "Tapi saat ini aku pengen makan itu."
Devan memicingkan matanya. "Kamu terakhir datang bulan kapan?" selidiknya.
"Lupa." jawab Delisha. "Biasanya kamu selalu ingat kapan waktunya aku datang bulan." cibir Delisha.
Devan nampak berpikir, ia sedang mengingat pastinya kapan Delisha datang bulan, biasanya dia memang hafal dengan jadwalnya meminta jatah. "Sekarang tanggal berapa?" tanyanya.
Delisha merogoh handphonenya di dalam tasnya kemudian melihat tanggal berapa sekarang. "Tanggal 19." jawab Delisha.
"Oh, kamu baru telat dua hari." kata Devan biasa saja, namun detik berikutnya ia membelalakkan matanya. "Hah??? Telat??" Devan sedikit berteriak.
Lestari dan Alvin yang berada di depan mereka sampai mendengar suara Devan, mereka berbalik badan. "Telat kemana?" tanya Alvin sedikit teriak karena mereka berjarak beberapa langkah.
"Makan malam." jawab Delisha sambil tersenyum kaku, namun kakinya menginjak kaki Devan membuat sang empu ikut tersenyum kaku dan mengangguk pada Alvin dan Lestari.
"Belum waktunya makan malam kali." gumam Lestari.
"Ya udah kita kembali ke hotel, mandi terus makan malam." ujar Alvin.
"Ayo!" seru Devan.
Alvin dan Lestari kembali berjalan, Devan dan Delisha mengikutinya dari belakang.
Delisha menyenggol lengan Devan. "Kamu tuh kalau ngomong jangan kenceng-kenceng!! Untung mereka nggak mendengar jelas percakapan kita, coba kalau denger dan mengira aku hamil?"
"Ya nggak apa-apa." jawab Devan santai.
Delisha mencubit lengan Devan, ia gemas dengan suaminya ini.
Mereka akhirnya kembali ke hotel, untuk membersihkan diri terlebih dahulu barulah mereka akan makan malam.
*
π΄π΄π΄
*
Devan dan Delisha sudah kembali ke hotel setelah makan malam, mereka makan sesuai keinginan Delisha menu seafood, lagi pula Devan memang suka dengan menu itu jadi dengan senang hati Devan menuruti kemauan Delisha.
Alvin dan Lestari belum sampai hotel karena resto yang mereka tuju lebih jauh karena menu mereka kali ini memang berbeda jadi mereka memilih untuk makan malam masing-masing.
Devan membuka pintu kamar kemudian mereka memasuki kamar tersebut.
"Kita packing sekarang nih?" tanya Delisha pada Devan yang sedang melepas jaketnya.
Devan meletakkan jaketnya di tepi ranjang kemudian ia duduk di sebelahnya. "Nggak sekarang juga kali, kita baru sampai nanti aja."
Delisha ikut duduk di tepi ranjang. "Aku udah nggak sabar mau bertemu anak kita."
"Aku juga kangen, emangnya kamu doang yang kangen Delvin?!"
"Kamu tadi ke apotek beli obat apa?" tanya Delisha, karena tadi ia tidak ikut turun dan memilih menunggu di mobil.
Devan langsung teringat sesuatu yang ia beli tadi di perjalanan pulang ke hotel, ia mengambil kembali jaketnya kemudian merogoh saku jaket tersebut lalu menyerahkannya pada Delisha.
"Kok beli ini sih?"
"Kan kamu udah telat datang bulan, di tes dong!"
"Tapi aku maunya kamu tes, lagian juga barang itu udah kebeli."
"Besok pagi aja ya, biasanya hasilnya akan akurat jika melakukan tes nya pagi hari."
"Itu kan ada banyak, kamu ambil dulu dua terus sisanya buat besok pagi."
Delisha menghembuskan napasnya berat, sebenarnya ia belum yakin kalau dirinya hamil karena dirinya sembuh dari penyakit itu belum ada satu tahun, Aisyah bilang kalau tingkat kesuburannya akan menurun setelah menjalani radioterapi.
"Ayo mom!! Tes sekarang!!"
Delisha beranjak dari ranjang menuju kamar mandi.
Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka dari dalam Delisha keluar dari kamar mandi dengan wajah lesu.
Begitu melihat Delisha telah selesai tes, Devan langsung beranjak dari ranjang dan berjalan cepat sampai di depan Delisha. "Bagaimana hasilnya??" tanyanya agak lesu karena ia melihat ekspresi yang di ciptakan oleh Delisha.
"Anda belum beruntung, coba lagi."
Devan langsung merangkul Delisha. "Yuk kita coba lagi."
Delisha mencubit lengan Devan. "Kamu tuh pikirannya nggak jauh-jauh dari si emprit!!"
"Lah, kan tadi kamu bilang coba lagi."
Delisha mendengkus lalu meninggalkan Devan menuju ranjang.
"Kok aku ditinggalin?!" Devan segera menyusul Delisha yang sudah menaiki ranjang.
"Kalau aku tidak bisa hamil lagi gimana Dev?"
Devan menarik Delisha ke dalam pelukannya. "Kan aku udah bilang nggak apa-apa, kita udah punya Delvin."
Delisha melepas pelukan Devan, ia membuka genggaman tangannya lalu memperlihatkan hasil tes nya pada Devan, karena Devan tadi memang tidak melihatnya ia percaya begitu saja dengan jawaban dari dirinya.
Devan membulatkan matanya saat melihat hasil tes tersebut bergaris dua. "Kamu hamil sayang?" tanyanya memastikan.
Delisha mengangguk dan Devan langsung memeluknya erat. "Ini beneran kamu hamil? Delvin mau punya adik? Aku mau punya anak dua?"
Delisha bergerak dalam pelukan Devan karena ia kesulitan bernapas. "Dev, jang-- gan kenceng--- kenceng meluknya! Aku nggak bisa napas!"
Devan sedikit melonggarkan pelukannya lalu menghujani wajah Delisha dengan kecupan, semuanya tanpa terlewat sedikit pun.
Delisha hanya tersenyum dan memejamkan matanya, dengan senang hati ia menerima setiap kecupan yang di berikan oleh Devan.
"Makasih sayang, kamu membuat aku menjadi laki-laki yang sempurna, kamu telah melengkapi hidupku."
"Aku juga terima kasih sama kamu, kamu telah menjadi pelindungku setelah kepergian ayah, kamu mampu menggantikan posisi ayah dalam menjaga aku, menyayangi aku dan menuruti semua kemauanku bahkan kamu tidak keberatan saat aku bersikap manja padamu."
Devan mendaratkan kecupan singkat di bibir Delisha. "Kamu dan anak-anak adalah segalanya bagiku, aku akan lakuin apa aja buat kalian dan aku akan selalu berusaha membahagiakan kalian."
"Kok cuma mommy yang di cium? Si baby juga dong."
Devan terkekeh kemudian ia melepas pelukannya lalu mendekatkan kepalanya di perut Delisha. "Hai sayang... sehat-sehat terus ya di perut mommy, daddy dan kakak Delvin menunggu kamu sampai lahir." Devan bermonolog lalu mengecup lama perut Delisha dan mengulanginya berkali-kali membuat hati Delisha menghangat, ini seperti baru pertama kali hamil karena kehamilannya yang dulu ia tidak mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Devan.
Mungkin Devan juga merasakan hal yang sama karena kehamilan Delisha yang dulu ia tidak mengetahuinya.
*
*
End
*
*
*
*
*
*
Bercanda... serius amat π€£π€£π€£