Because Baby

Because Baby
Part 11



Alvin berfikir sejenak untuk mencari jawaban yang pas. "Karena aku tau kamu tidak punya siapa-siapa lagi Sha dan aku juga peduli dengan anak yang ada di dalam kandunganmu, aku tau kalau kalian berdua butuh sandaran dalam menghadapi semua ini."


Delisha menunduk sembari memainkan jemarinya di atas pahanya. "Terima kasih banyak Dok." Lirih Delisha.


Alvin mengusap bahu Delisha. "Hei, jangan sedih! Kan aku sudah bilang jangan sedih lagi kasian si Baby."


Delisha mengangkat wajahnya dan mengerjab beberapa kali menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya agar tidak tumpah.


Alvin merengkuh tubuh Delisha dari samping. "Bandel kamu ya! Di bilangin jangan sedih masih aja sedih."


Delisha akhirnya menunduk serta menyembunyikan wajahnya di dada Alvin dan membiarkan air matanya tumpah lagi, memang benar apa kata Alvin kalau dirinya butuh sandaran, dirinya tidak akan sanggup jika harus menjalani semua ini sendirian.


Setelah dirasa Delisha sudah tenang Alvin melepas pelukannya dan meraih paper bag di belakang jok kemudinya dan menyerahkannya pada Delisha. "Kamu tuh harus makan buah-buahan dan minum susu."


"Tidak perlu repot-repot Dok." Tolak Delisha.


"Ini tidak repot, kamu sibuk terus dan nggak sempat untuk membeli buah dan susu makanya aku beliin buat kamu."


Delisha menerima paper bag itu lalu melepas seat belt dan membuka pintu, sebelum dia keluar Delisha menoleh ke arah Alvin. "Makasih Dok."


"Dasar bandel! di bilangin jangan panggil Dok lagi."


Delisha hanya membalasnya dengan senyum tipis, setelah itu dia keluar dari mobil dan memasuki kontrakannya.


Alvin juga melajukan mobilnya kembali menuju rumah.


🌴🌴🌴


Se usai meeting Devan mampir ke caffe sebentar bersama sahabat sekaligus partner bisnisnya.


Mereka bersahabat sejak kuliah, memang beda jurusan, namun satu angkatan dan apartemen mereka dulu juga bersebelahan.


Jadi mereka sering bersama dan bersahabat hingga saat ini.


Selama ini Devan yang terjun langsung mengurusi bisnis mereka, sedangkan partner nya sibuk dengan kerjaannya sendiri atau lebih tepatnya hobi. Dia akan membantu Devan jika di perlukan saja selebihnya Devan lah mengurus semuanya termasuk pulang pergi keluar kota.


"Tumben Vin hari ini lo ikut meeting? Biasanya sibuk ngurusin pasien." Tanya Devan pada sahabatnya.


"Cuti." Jawab Alvin singkat.


Devan mencondongkan tubuhnya agar bisa dekat dengan Alvin. "Enaknya apa sih jadi Dokter?"


Alvin tersenyum miring. "Lo nggak tau sih, jadi Dokter itu enak tau. Kita bisa menolong orang lain, terus bisa ketemu cewek-cewek cantik pula."


"Heh, meskipun gue jomblo tapi setidaknya gue nggak main cewek kayak lo!"


Devan kini yang tersenyum miring. "Lo nggak tau sih, main cewek tuh enak tau."


Kini Alvin yang melempar kepalan tisu. "Nyatanya sampai saat ini lo masih galau."


Devan menyerah, debat sama Alvin pasti tidak ada ujungnya.


Devan kembali menyeruput kopinya. "Lo belum ada cewek Vin? Emang Bokap lo nggak nanya kapan nikah gitu? gue aja yang pernah nikah masih di tanya mulu sampai panas telinga gue dengerin pertanyaan dari Bokap gue."


Alvin menyimak baik-baik setiap perkataan yang keluar dari bibir Devan. "Bukan di tanya lagi, bahkan gue sering di jodohin Bokap gue, tapi gimana lagi gue nggak suka di jodoh-jodohin, lagi pula saat ini ada cewek yang srek di hati gue."


Devan membulatkan matanya. "Serius lo?"


"Tapi sayangnya cewek itu---." Alvin berfikir sejenak dia ragu untuk melanjutkan ceritanya, lalu Alvin melihat jam tangannya. "Gue telat, sorry gue cabut duluan."


Devan hanya menatap kepergian sahabatnya hingga hilang di balik pintu, lalu Devan kembali menyeruput kopinya.


*


*


Ini dunia yang luas serasa sempit atau dunia yang sempit serasa luas??


Wanita yang di cari Devan berada di sekitarnya namun Devan belum bisa menemukannya.


*


*


Maaf ya cerita di awal agak berantakan πŸ™πŸ™


Part 1 di tolak sama pihak mangatoon karena otak kotor Author sedang aktif di dalam part 1 itu.


Terus part 4 jadi doble sama part 5.


yang jadi pertanyaan, part 5 nya kemana??


Tau ah, Author juga pusing 🀦🀦**