Because Baby

Because Baby
Part 67



*


*


Delisha merasakan seseorang tersebut duduk di ranjang. "Hei, kenapa menangis?" tanya seseorang itu.


Delisha tidak menjawab pertanyaan dari seseorang itu namun malah beringsut mundur.


Lalu seseorang itu mengusap bahunya. "Tidak usah takut."


Namun Delisha beringsut lagi semakin menjauhi seseorang itu. "Tolong jangan sentuh aku." pintanya.


Seseorang itu menjauhkan tangannya dari bahu Delisha kemudian beringsut mundur.


Karena seseorang itu sudah beringsut mundur Delisha mencoba memberanikan diri mengangkat kepala untuk melihat siapa yang memasuki kamarnya. "Kenapa mas nya mundur?" tanyanya, Delisha mengira seseorang itu akan memangsa dirinya saat itu juga.


"Nanti lo takut, terus nangis lagi." jawab seseorang tersebut. "Nama lo siapa?"


"Deli.." Delisha berpikir sejenak nama apa yang akan ia pakai, tidak mungkin kan dirinya memakai nama aslinya ini dunia kotor, dirinya tidak mau jika suatu saat nanti jika ia terbebas dari sini seseorang yang sudah pernah menidurinya akan mengenalinya dengan nama aslinya dan itu akan sangat memalukan. "Delima." akhirnya Delisha menyebutkan nama yang saat itu ada di otaknya.


"Namamu semerah bibirmu." ucap Devan tanpa sadar dan tatapan Devan tertuju pada bibir merah itu, bibir itu sungguh menggodanya ingin rasanya Devan segera mencicipi bibir itu pasti manis sekali. "Sabar Dev, dia masih polos." batin Devan.


"Krukkk... krukkk.... " suara yang berasal dari perut Delima, Delima langsung menenggelamkan wajahnya kembali karena malu.


Devan langsung tergelak. "Lo laper?" tanyanya setelah berhasil menghentikan gelak tawanya.


"Aku belum makan sejak pagi." jawab Delima tanpa mengangkat kepalanya.


"Serius???" tanya Devan seakan tidak percaya.


Delima mengangguk namun masih dalam posisi yang sama.


"Lo mau makan apa? Biar gue beliin."


Delima mengangkat kepalanya lagi. "Apa aja." jawab Delima sekenanya.


"Jangan apa aja! Gue nggak tau makanan apa kesukaan lo." protes Devan. "Siapa tau lo sukanya makan kembang." ucap Devan asal.


Delima langsung tergelak saat mendengar ucapan Devan. "Aku bukan pemain film horor mas." ucap Delima sembari menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan gelak tawa.


Tawa gadis di depannya saat ini membuat Devan terpana, gadis manis, polos dan menggemaskan, beberapa detik yang lalu dia menangis, tapi sekarang? Bisa tertawa lepas.


Suara tawa gadis itu terdengar merdu di telinga Devan, giginya yang tertata rapih di tambah bibirnya merahnya, tatapan Devan sulit teralihkan dari bibir manis itu.


"Jadi mau makan apa?" tanya Devan lagi.


Delima berpikir sejenak ingin makan apa saat ini. "Nasi goreng." jawab Delima, hanya itu yang terlintas di otaknya, nasi goreng buatan ibunya.


Devan beranjak dari ranjang. "Lo tunggu disini jangan kemana-mana!" titahnya kemudian melangkah meninggalkan kamar Delima.


Sembari menunggu makanannya datang Delima membaringkan tubuhnya di ranjang, namun perlahan mata bulat dan sembab itu mulai berat kemudian menutup, Delima kelelahan dia terlalu banyak menangis hari ini.


Devan membuka pintu kamar Delima lagi beserta beberapa kantong plastik di tangannya, Devan tidak hanya membelikan nasi goreng tapi juga makanan dan minuman lainnya.


Devan melangkah memasuki kamar kemudian menutup pintu tersebut lalu kembali melangkah menuju ranjang.


Devan meletakkan makanan tersebut di atas meja kecil di samping ranjang kemudian duduk di tepi ranjang, tangan Devan terangkat untuk menyingkirkan rambut Delima yang menutupi wajahnya, Devan menatap lekat-lekat gadis di hadapannya tatapan Devan selalu tertuju pada bibir merah itu, bibir itu benar-benar menggoda dirinya ingin rasanya Devan membuat bibir merah itu menjadi bengkak. "Damn it!!!" umpat Devan dalam hati, dirinya benar-benar tidak bisa menahan keinginannya untuk mencicipi bibir itu. "Oh shit!!!." umpat Devan lagi masih di dalam hati. "Kenapa sih lo Dev? Wanita ini sedang tidur, dia tidak menggoda lo!!" gumam Devan pelan.


Devan nekat mencondongkan tubuhnya untuk mencicipi bibir itu, namun kemudian dia teringat kalau wanita itu sedang kelaparan akhirnya Devan menoel-noel pipi Delima. "Bangun!! Tuh makanannya udah dateng."


Delima membuka matanya perlahan kemudian mengerjab beberapa kali untuk mengusir rasa kantuknya.


"Tuh nasi goreng pesanan lo."


Delima beringsut duduk lalu mengernyit bingung. "Kok banyak banget makananya?"


"Sekalian keluar." jawab Devan.


Delima meraih bungkusan yang berisi nasi goreng kemudian memakannya.


Devan mengeluarkan handphonenya kemudian memainkannya dan sesekali juga melirik gadis muda yang sedang makan nasi goreng di sebelahnya.


"Nggak. Cepet habisin!!"


"Kenapa?" tanya Delima bingung.


"Gue udah bayar lo ya! Lo tau kan pekerjaan lo apa?"


Sebenarnya Devan tidak tega untuk meniduri gadis di depannya ini, namun kalau di tunda-tunda besok pasti sudah keduluan orang.


Delima langsung meletakkan sendoknya nafsu makannya hilang begitu saja.


"Kok nggak jadi makan?"


Delima tidak menjawab pertanyaan Devan dia malah membuang muka ke samping.


"Sorry."


"....." Delima masih tidak bergeming.


Devan mengambil alih nasi goreng dari tangan Delima. "Sorry.... Mau gue suapin?"


"Tapi nggak mau pakai sendok."


Devan menatap gadis itu dengan tatapan bingung. "Terus pakai apa? Tangan?"


Delima menoleh kemudian mengangguk.


"Enggak! Ntar tangan gue kotor."


Bibir merah yang sedari tadi menggoda Devan sekarang semakin menggodanya, bibir itu mencebik maju membuat Devan benar-benar tidak bisa lagi menahan keinginannya.


Devan meletakkan nasi goreng itu di atas meja kemudian dengan gerakan cepat menarik tengkuk Delima untuk mencicipi bibir merah itu.


Delima segera memalingkan wajahnya namun Devan segera menangkup kedua sisi wajah Delima dengan kedua tangannya membuat Delima tidak bisa menghindar serangan bibir Devan.


Delima mencubit serta memukul bahu Devan namun Devan tetap melanjutkan aksinya.


Wajah Delima sampai memerah karena pasokan oksigen dalam paru-parunya mulai habis, Devan yang melihat itu segera melepas pagutannya. Delima segera mengambil napas sebanyak-banyaknya


"Bibir lo manis." celetuk Devan, kemudian mendekatkan kepalanya lagi hendak mencium Delima namun Delima segera membekap mulutnya sendiri. "Huekk..." Delima hampir muntah.


"Aku nggak mau di cium kamu! Mulut kamu bau!!!" protes Delima.


"Hah?" Devan tercengang dengan perkataan gadis di depannya ini, baru kali ini ada wanita yang mengatakan kalau mulutnya bau.


"Aku nggak mau di cium kamu, mulut kamu bau rokok!!" Delima menambah protesnya.


Devan menatap Delima kemudian membuang napas kasar. "Disini ada sikat gigi nggak?"


"Mana aku tau! Aku belum ke kamar mandi."


Devan akhirnya melepaskan Delima dan berjalan ke arah kamar mandi.


Devan rela gosok gigi karena dia tidak mau melewatkan bibir merah itu, setelah mencicipinya mungkin itu akan menjadi candu bagi Devan.


Tidak butuh waktu lama Devan sudah kembali lagi ke ranjang. "Sekarang udah nggak bau rokok lagi."


"Makanya jangan ngerokok!!" cibir Delima.


"Iya." jawab Devan kemudian menarik tengkuk Delima lagi, meskipun Delima tidak membalasnya namun Devan menikmati ciuman itu karena Delima tidak menolaknya.


*


*


Hah? apaan sih nggak ada feel nya. 🤦🤦🤦


Satu kebiasaan buruk Devan mungkin akan hilang, padahal itu baru bibir belum yang lainnya.