
*
*
π΄π΄π΄
*
Matahari sudah meninggi namun Devan maupun Delisha masih enggan membuka mata, mereka masih bergelung di bawah selimut dengan tubuh yang masih sama-sama polos, Delisha tidur dengan posisi membelakanginya Devan dan Devan memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Mereka baru tidur menjelang pagi, jadi wajar kalau saat ini mereka masih terlelap.
Deringan handphone di atas nakas membuat Devan mau tidak mau melepas pelukannya lalu tangannya terulur untuk meraih handphone tersebut. "Papi?" gumam Devan saat melihat nama yang tertera di layar handphonenya. Devan segera menggeser icon hijau lalu menempelkan handphonenya di telinganya.
"Kita sudah pulang duluan, nanti kalian pulang sendiri!" sahut Ezra dari seberang telepon lalu mematikan panggilannya sepihak tanpa memberi kesempatan Devan untuk berbicara sepatah katapun.
"Emang sekarang jam berapa?" gumam Devan lalu menjauhkan handphone dari telinganya kemudian menatap layar handphone tersebut. Matanya membulat sempurna saat melihat jam sudah menunjukkan angka 11.
Drtttt... Drtttt...
Handphonenya kembali bergetar tanda pesan masuk, Devan membuka layar handphonenya kembali lalu senyumnya langsung mengembang saat melihat video yang di kirim Ezra. Bocah gembulnya sedang asik bermain di kamar barunya.
Devan memiringkan tubuhnya lalu mencium bahu telanjang Delisha. "Bangun Mom! Sudah siang."
Delisha membalikkan tubuhnya menghadap Devan, namun matanya masih terpejam. "Jam berapa sekarang?" tanyanya sembari menenggelamkan wajahnya di dada Devan dan tanganya melingkar di pinggang Devan.
"Jam 11."
"Hah?" Delisha langsung melepas pelukannya, matanya terbuka sempurna rasa kantuknya hilang begitu saja. "Delvin? Delvin belum sarapan belum mandi."
Devan terkekeh melihat kepanikan istrinya lalu dia memutar video yang dikirim Papinya tadi dan memperlihatkan pada Delisha. "Tuh anak kita sudah sarapan, sudah mandi, sudah sampai rumah pula."
Delisha mendongak untuk menatap suaminya. "Kita di tinggal?"
Devan mengangguk, dan Delisha segera melihat video anaknya, Delvin sedang asik bermain di dalam kamar bertema Cars. "Delvin di kamar siapa?"
"Di kamarnya, kamar pemberian Opa nya, jadi waktu kalian dirumah Pak lek, Papi menggunakan waktu tersebut untuk merenovasi kamar kosong disebelah kamarnya menjadi kamar anak-anak, karena dia tau kalau cucunya suka sekali dengan mobil maka dia memilih tema Cars untuk anak kita banyak pernak-pernik berbentuk mobil bahkan ranjangnya pun berbentuk mobil loh pasti Delvin akan betah dikamar itu dan kita bisa leluasa membuat adik buat Delvin."
Delisha mendengkus. "Kenapa jadi menjurus kesitu? Belum puas tadi malam nambah terus?" cibir Delisha.
Devan terkekeh lalu memeluk kembali tubuh istrinya. "Kamu tau kenapa Papi Mami sangat menyayangi Delvin?" tanya Devan untuk mengalihkan pembicaraan.
"Karena Delvin adalah cucunya."
"Bukan hanya karena Delvin cucunya, tapi karena mereka sudah menantikan kehadiran seorang cucu sejak lama. Kamu tau sendiri kan umurku sudah berapa?"
"Tau, kamu sudah tua kan." jawab Delisha sambil terkikik.
Devan langsung mengeratkan pelukannya hingga membuat Delisha kesulitan bergerak. "Yang sopan kamu ya sama suami! Ngatain tua lagi. Karena kamu nakal kamu harus dikasih hukuman."
Delisha menggigit bahu Devan membuat Devan melepas pelukannya, dengan cepat Delisha menuruni ranjang. "Aku mau mandi."
Devan juga segera menuruni ranjang lalu mengikuti langkah Delisha menuju kamar mandi.
"Kamu ngapain ikut masuk? Nanti aja gantian."
"Menghukum kamu dikamar mandi." jawab Devan lalu meraih tengkuk Delisha kemudian menariknya hingga bibir mereka kembali bertemu, tangan kanan Devan berada di tengkuk Delisha untuk melu mat bibirnya sedangkan tangan kirinya menutup pintu kamar mandi, pintu kamar mandi telah tertutup kemudian Devan mendorong pelan tubuh hingga Delisha berjalan mundur dan dirinya berjalan maju tanpa melepas ciuman mereka, Devan terus mendorong tubuh Delisha menuju bathtub---.
*
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan dan Delisha sampai rumah sudah sore, setelah mandi mereka makan siang dulu mengisi tenaga karena tenaga mereka telah habis terkuras sejak semalam. Setelah makan siang barulah mereka ke Bandara.
"Enak ya, berduaan di hotel tanpa di ganggu anak kalian." cibir Ezra.
Mereka berlima sedang berada di kamar baru milik Delvin. Delvin sedang berloncat-loncat di atas ranjangnya yang berbentuk mobil di temani Aleza yang menjaganya.
"Nanti kalau jadi cucu Papi juga yang seneng." jawab Devan santai, namun berbeda dengan Delisha wajahnya langsung memerah.
"Kita sampai gedor-gedor pintu kalian loh tapi kalian nggak denger akhirnya kita memutuskan pulang duluan ya Pih." sahut Aleza membuat wajah Delisha semakin merah padam.
"Bundaa." rengek Delvin menyelamatkan Delisha dari rasa malunya. Delisha berjalan mendekati Delvin lalu duduk di tepi ranjang anaknya. "Ada apa sayang?"
Delvin telah berhenti meloncat lalu membaringkan tubuhnya. "Mau bobo."
Ezra dan Aleza segera mencium cucu mereka lalu meninggalkan kamar tersebut, sebelum menutup pintu kamar Aleza membalikkan tubuhnya. "Nanti kalian tidur dikamar kalian aja, kalau Delvin sudah tidur kita yang akan menemaninya ya Pih."
"Woke." jawab Devan cepat, dengan senang hati Devan akan menuruti permintaan orang tuanya.
Aleza hanya geleng-geleng lalu menutup pintu kamar tersebut.
Devan dan Delisha segera menaiki ranjang, meskipun ranjang itu tidak besar namun muat untuk mereka bertiga, Delisha mulai menepuk-nepuk pelan bokong bocah itu hingga terlelap.
Devan mencium anaknya yang sudah terlelap lalu beranjak dari ranjang. "Kita ke kamar yuk."
Delisha pun melakukan hal yang sama, dia menciumi Delvin lalu mengusap puncak kepalanya kemudian menyelimuti tubuh bocah gembul itu.
Devan dan Delisha menuju pintu lalu membuka pintu tersebut.
"Delvin sudah bobo?" tanya Ezra dari ambang pintu sebelah.
"Sudah." jawab Devan lalu mengurungkan niatnya untuk menutup pintu karena Ezra dan Aleza segera memasuki kamar cucunya.
Devan dan Delisha melanjutkan langkahnya menuju kamar mereka. Setelah sampai kamar Devan dan Delisha menaiki ranjang lalu membaringkan tubuh lelah mereka.
Delisha menyandarkan kepalanya di bahu Devan tanganya memainkan kancing piyama milik Devan. "Cerita dong tentang masa kecil kamu, atau masa muda kamu."
Devan sedikit menunduk lalu mengecup puncak kepala Delisha. "Cerita apa? Masa muda aja ya? Biar kamu tau baik buruknya aku."
Delisha mendongak lalu mencium pipi Devan. "Boleh."
"Tapi janji jangan cemburu ya?"
"Iyaa."
*
*
Saat ini Author waras, tidak tau kalau episode berikutnya. π€£π€£π€£