Because Baby

Because Baby
Part 83



*


*


🌴🌴🌴


*


Delisha membaringkan tubuhnya membelakangi Devan, ia masih kesal dengan suaminya yang ngotot menginginkan anak laki-laki lagi, sedangkan mereka sudah memiliki Delvin, wajar kan kalau kehamilannya kali ini dirinya menginginkan anak perempuan?


Devan mencoba memejamkan matanya, ia mencoba tidur sambil memeluk guling, namun usahanya tidak berbuah manis, karena nyatanya ia tidak bisa tidur, ia menginginkan guling kesayangannya, guling yang tidak hanya bisa ia peluk namun bisa ia cium dan bisa di ajak main kuda-kudaan di atas ranjang sebelum tidur.


Akhirnya Devan menyerah, ia membalikkan tubuhnya tangannya terangkat untuk menyentuh pundak Delisha namun dengan cepat Delisha menepisnya. "Nggak boleh pegang-pegang!!" sungutnya.


"Sayang..."


"Gak ada sayang-sayang!!" Delisha menarik selimut sampai menutupi seluruh tubuhnya.


Devan menarik selimut Delisha namun Delisha tetap menahanya.


"Jangan ngambek dong! Nggak enak kalau kamu ngambek, aku nggak bisa meluk kamu dan aku nggak bisa tidur tanpa meluk kamu."


Delisha menurunkan selimutnya kemudian membalikkan tubuhnya, ia menatap Devan sambil mengerucutkan bibirnya.


Devan mendekatkan tubuhnya lalu mengecup bibir Delisha. "Gemes aku tuh kalau kamu manyun gitu."


"Terus kalau aku nggak manyun kamu nggak gemes??" tanya Delisha masih dengan mode ngambeknya.


"Gemes sayang... apapun tentang kamu aku tetep gemes."


"Ya udah sini peluk, aku juga nggak bisa tidur tanpa meluk gulingku yang besar ini." ujar Delisha datar, ia masih ja'im.


Devan terkekeh, ia segera menarik Delisha ke dalam pelukannya serta menciuminya namun ia tidak main kuda-kudaan mengingat Delisha saat ini sedang hamil muda.


*****


Delisha membuka matanya perlahan, ia mengerjab beberapa kali untuk mengumpulkan kesadarannya.


"Morning mom.." sapa Devan yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Delisha beringsut duduk lalu bersandar di kepala ranjang. "Kok aku nggak di bangunin sih?"


Devan berjalan menuju ranjang kemudian duduk di tepi ranjang. "Aku nggak tega bangunin kamu, kayaknya tadi kamu masih nyenyak gitu tidurnya."


Delisha bangkit dari posisinya, ia berdiri di belakang Devan dengan lutut sebagai tumpuan. "Sini aku keringin rambut kamu."


"Nggak usah, aku aja." tolak Devan.


Delisha mengambil alih handuk di tangan Devan. "Nggak apa-apa aku aja."


Devan akhirnya mengalah dan membiarkan istrinya yang mengeringkan rambutnya.


"Kok kamu nggak mual sih? Biasanya kalau wanita hamil kan suka mual di pagi hari."


"Nggak tau, mungkin karena usia kandunganku baru satu bulan lebih beberapa hari."


Devan mendongak. "Cium dulu!"


"Aku belum cuci muka dan belum gosok gigi Dev."


"Nggak apa-apa, aku suka kok meskipun kamu belum cuci muka dan belum gosok gigi."


Delisha menunduk kemudian mencium dahi Devan, tangan Devan terangkat untuk menahan kepala Delisha yang sedang mencium dahinya, ia semakin mendongak kemudian mengecup singkat bibir Delisha.


"Devan ih!!! Di bilangin aku belum gosok gigi." protes Delisha setelah Devan melepas kecupannya.


Devan terkekeh. "Aku suka meskipun kamu belum gosok gigi." elaknya kemudian ia kembali ke posisi semula dan Delisha melanjutkan kegiatannya mengeringkan rambut Devan. "Jangan lupa, besok kosongin jadwal pagi."


Devan kembali mendongak. "Emang acaranya besok?"


"Devan!!!! Aku kan udah bilang dari dua minggu yang lalu, masa kamu lupa sih?!" protes Delisha.


Delisha menghentikan gerakannya kemudian duduk di sebelah Devan, ia telah selesai mengeringkan rambut Devan. "Jadi. Dia baca puisi tentang ayah dan bunda, jadi kita sebagai orang tuanya harus hadir."


Devan menoleh ke samping dimana istrinya berada. "Ternyata anak kita udah makin besar ya, udah berani maju buat pentas dan dia sebentar lagi juga punya adik."


Delisha mengangguk. "Nanti aku jemput Delvin pulangnya juga agak telat, hari ini hari terakhir Delvin latihan buat besok."


"Nggak usah nyetir lagi mom, kamu kan sedang hamil." pinta Devan sembari mengusap perut Delisha.


"Nggak apa-apa Dev, cuma nyetir kan nggak buat aku capek lagian sekolah Delvin juga deket."


Tangan Devan kembali terangkat untuk mengusap pipi Delisha. "Ya udah, tapi kalau nyetir pelan-pelan aja jangan ngebut!"


"Iyaa..."


Devan beranjak dari tempatnya ia akan mengambil pakaian kantornya, Delisha juga beranjak dari tempatnya untuk ke kamar mandi.


Setelah selesai dengan ritual masing-masing mereka turun ke bawah untuk sarapan.


Delisha menarik kursi untuk Devan dan setelah itu menarik kursi di sebelah nya untuk dirinya sendiri, namun sebelum ia duduk Delisha menyempatkan diri untuk mencium anaknya.


Delisha mengambilkan sarapan untuk Devan dan Delvin bergantian setelah itu ia mengambil untuk dirinya sendiri.


"Nanti mami ikut kamu nganter Delvin ya Sha." pinta Aleza.


Delisha menghentikan suapannya lalu menatap mertuanya. "Mami mau kemana?" tanyanya.


"Mau besuk temen mami yang sedang sakit."


"Iya mih." jawab Delisha.


Mereka sarapan dalam diam sampai sarapan mereka habis.


Setelah selesai sarapan mereka memasuki mobil masing-masing dengan tujuan masing-masing.


Delisha telah sampai di sekolah Delvin, ia turun dari mobil lalu membukakan pintu untuk anaknya. "Delvin jangan nakal ya! Belajar yang pinter, nanti pulangnya nungguin mommy. Oke?" pesan Delisha kemudian mencium puncak kepala anaknya.


"Iya mom." jawab Delvin lalu melambaikan tangannya sebelum memasuki gerbang sekolahnya. "Dah oma... dah mommy..."


"Dah Delvin..." balas Aleza.


Delvin telah memasuki gerbang sekolahnya, Delisha memasuki mobilnya kembali untuk mengantar Aleza besuk temannya yang sedang sakit.


Delisha melajukan mobilnya menuju alamat yang di maksud Aleza.


"Minggir di depan situ ya Sha!" Aleza menginterupsi.


"Iya mih." Delisha menepikan mobilnya sesuai arahan dari Aleza.


Mobil berhenti dan Aleza pun turun. "Kamu pulang duluan Sha, nanti kalau jemput Delvin mampir sini lagi ya? Mami bareng lagi."


"Tapi agak telat loh mih soalnya Delvin harus latihan untuk yang terakhir."


"Nggak apa-apa, di dalem banyak kok temen mami yang dateng, jadi mami nggak jenuh nunggu kamu dan Delvin."


"Ya udah, aku pulang duluan mih."


"Hati-hati!"


Delisha melajukan mobilnya menuju minimarket ada sesuatu yang akan ia beli, namun sebelum ia sampai di tempat tujuan ada mobil hitam pekat berhenti di depannya, mau tidak mau akhirnya Delisha turun dari mobil untuk melihat siapa yang memotong jalannya.


Pintu mobil tersebut terbuka dan muncullah seorang pria berpakaian serba hitam, Delisha berjalan mendekati pria tersebut, namun pria itu ternyata tidak sendirian ada seorang pria dari belakang Delisha dan langsung membekapnya dengan obat bius, gerakan pria itu terlalu cepat sehingga Delisha tidak sempat memberontak bahkan sekedar meminta tolong pun tidak bisa ia lakukan.


*


*


Pasti kalian sudah bisa menebak lah ya siapa di balik pria-pria tadi. Secara, readers kan pandai menebak alur cerita 🤭