
*
*
π΄π΄π΄
*
Alvin berdiri di balkon kamarnya, pandangannya jauh lurus kedepan. Ini adalah hari terakhirnya di kota ini, besok dia akan berangkat keluar kota meninggalkan semua kenangan manis disini. Sebenarnya Alvin masih berat berpisah dengan Delisha dan Delvin. Hampir empat tahun Alvin bersama Delisha dan itu bukan waktu singkat, pasti butuh waktu bagi Alvin untuk menyesuaikan diri tanpa Delisha.
"Kamu jadi berangkat besok Vin?" tanya Reza setelah berdiri di sebelah Alvin.
Alvin menoleh. "Jadi Pah."
Reza membuang napas kasar. "Kenapa harus pergi keluar kota sih? Kenapa nggak ngurus perusahaan kita saja?"
"Alvin belum bisa Pah, lagi pula Alvin ingin mencari pengalaman lain, kehidupan baru dan menata hati Alvin yang hancur."
Mendengar jawaban dari Alvin membuat Reza teringat dengan Delisha dan emosinya kembali datang. "Dasar wanita murahan! Setelah meninggalkan kamu sekarang dia memilih Devan? Pintar sekali dia memanfaatkan kecantikannya untuk memikat para pria kay--."
"Cukup Pah!" potong Alvin.
"Tapi syukurlah kamu sudah tidak bersama wanita itu lagi, tapi kasian Dev-."
"PAH!!!" potong Alvin lagi, lalu Alvin meninggalkan Papanya yang masih berdiri di balkon kamarnya. Alvin lebih memilih menghindar daripada di teruskan pasti tidak akan ada ujungnya.
Reza menutup pintu balkon Alvin lalu melangkah keluar dari kamar Alvin.
Alvin membaringkan tubuhnya di ranjang, padahal dia belum ngantuk, pikirannya masih melayang entah kemana, namun Alvin tetap memejamkan matanya. Lama-kelamaan perlahan Alvin mulai memasuki alam mimpi.
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan menuruni tangga dengan tergesa-gesa karena waktunya sudah mepet dengan keberangkatan Alvin, padahal Devan harus menghampiri Delisha dan Delvin terlebih dahulu.
"Devan, kenapa buru-buru sekali?"
Suara Aleza berhasil menghentikan langkah Devan, lalu menoleh ke belakang. "Devan buru-buru Mih, mau nganter Alvin ke Bandara waktunya sudah mepet."
Aleza menuruni tangga menyusul Devan. "Alvin berangkat hari ini? Delisha dan Delvin ikut kan?"
"Ikut Mih, ini Devan mau kerumah Delvin dulu."
"Mami ikut. Mami mau ketemu Delvin." Aleza langsung menarik lengan Devan menuju garasi.
Aleza dan Devan memasuki mobil. Devan menyalakan mesin mobil lalu melajukannya membelah jalan menuju rumah Delisha.
"Papi pastinya pulang kapan sih Mih?" tanya Devan sembari tetap fokus menyetir.
Aleza menoleh ke kanan. "Kenapa? Kebelet kawin?" canda Aleza pada anaknya.
"Mih!!" Devan melotot tajam membuat Aleza tergelak kencang.
Devan menoleh ke kiri sesaat untuk menatap Maminya lalu kembali fokus kedepan. "Devan serius Mih!"
"Kenapa tidak nanya sendiri? Kenapa nanyanya sama Mami?" Aleza tidak menjawab pertanyaan Devan malah balik bertanya.
Devan membuang napas kasar. "Kalau Devan yang nanya sendiri, Papi tidak mau menjawab."
"Kurang lebih satu minggu lagi." jawab Aleza lalu membuka seat belt nya. Mereka telah sampai di ujung jalan dekat rumah Delisha.
"Mami tunggu di mobil saja tidak usah turun, Devan tidak lama." ujar Devan lalu membuka pintu mobil.
"Okey." jawab Aleza lalu dia merogoh handphone dari dalam tasnya kemudian mengotak-atik menu chat.
"Delvin duduk di belakang ya bersama Oma." ujar Devan pada Delvin lalu Devan beralih menatap Delisha. "Mommy mau duduk di depan atau belakang?"
"Belakang saja, nanti yang di depan biar Alvin."
"Okey." Devan membuka pintu penumpang lalu memasukkan Delvin, setelah Delvin masuk kemudian Delisha yang masuk.
Semua telah masuk mobil. Devan segera melajukan mobilnya kembali untuk menjemput Alvin.
Setelah menempuh perjalanan panjang akhirnya mobil Devan telah sampai di depan gerbang rumah Alvin. Devan memang tidak memasukkan mobilnya karena dia tidak akan berlama-lama di dalam rumah Alvin.
"Yuk, semuanya turun dulu." ujar Devan sembari melepas seat belt nya.
Aleza menarik lengan Delisha. "Yuk Sha kita turun dulu."
Delisha menggeleng. "Aku dan Delvin nunggu disini saja."
"Ya sudah." ujar Aleza pasrah, dia tidak akan membujuk Delisha karena Aleza tau alasan Delisha kenapa tidak mau turun.
Devan dan Aleza turun sebentar. Tak lama kemudian Devan dan Aleza sudah keluar lagi bersama Alvin dan Reza, membuat jantung Delisha berdebar, rasa takut dan trauma masih menghantuinya, untungnya Reza tidak mengetahui keberadaan Delisha di dalam mobil Devan. Reza hanya mengantar Alvin sampai di depan pintu gerbang.
Devan, Aleza dan Alvin masuk mobil dan Devan kembali melajukan mobilnya menuju Bandara.
Selama perjalanan Devan, Delisha dan Alvin sama-sama terdiam hanya suara Delvin dan Aleza yang sedang bercanda.
Delisha membuang pandangannya keluar jendela sambil sesekali melirik Alvin lewat ekor matanya. Delisha masih merasa bersalah atas kepergian Alvin.
"Kita tidak punya banyak waktu Vin, sebentar lagi take off." ujar Devan setelah memarkirkan mobilnya.
Semua keluar dari mobil, ternyata Leo sudah menunggu mereka dia segera mendekat dan membawakan koper milik Alvin.
Aleza memeluk Alvin sesaat lalu mengusap bahunya. "Hati-hati Vin, sering-sering menghubungi Tante ya."
"Pasti Tante." jawab Alvin lalu melepas pelukan Aleza, beralih memeluk Devan sahabatnya. "Gue pergi dulu, jaga Delisha dan Delvin dengan baik!"
"Pasti." Devan menepuk-nepuk punggung Alvin. "Good luck."
Alvin melepas pelukan Devan dan beralih mengangkat tubuh Delvin. "Ayah kerja dulu, Delvin jaga Bunda ya."
Delvin mengalungkan kedua tangannya di leher Alvin. "Nanti kalau Apin sakit gimana?"
Alvin mencium pipi Delvin bertubi-tubi lalu mengusap puncak kepala Delvin. "Nanti biar Daddy yang nganter Delvin ke Dokter."
"Ayaaahh.." rengek Delvin sambil menangis.
Devan mengambil alih Delvin dari gendongan Alvin. "Jangan nakal dong sayang, Ayah mau kerja."
Alvin menarik lengan Devan. "Gue boleh peluk Delisha sebentar?"
Devan belum menjawab pertanyaan Alvin namun dengan cepat tangannya di tarik oleh Aleza menjauh dari Delisha dan Alvin. Aleza mengerti apa yang dirasakan oleh Alvin saat ini.
Alvin langsung memeluk erat tubuh Delisha. Delisha pun membalas pelukan Alvin, Delisha memang sayang pada Alvin namun rasa sayangnya hanya sebatas teman, saudara tidak lebih.
Alvin mengerjab beberapa kali untuk menghalau air matanya agar tidak tumpah, biar bagaimanapun dirinya seorang laki-laki dia tidak mau mengeluarkan air mata di hadapan orang. Lalu Alvin memejamkan matanya menikmati setiap detik berada di dekapan wanita yang di cintainya. Wanita yang selama hampir empat tahun ia jaga dengan sepenuh hati ternyata tidak di takdirkan untuk dirinya. Alvin harus merelakannya demi kebahagiaan bersama.
Yang di butuhkan Alvin saat ini adalah waktu. Waktu untuk dirinya menata hati.
"Tuan Alvino, ayo!" suara Leo membuat Alvin membuka matanya, dengan berat hati Alvin melepas pelukannya. "Jangan nangis! Jaga diri baik-baik."
Pipi Delisha sudah basah karena air mata bahkan sepatah kata pun tak mampu di ucapkannya, Delisha hanya mengangguk serta mengusap lengan Alvin.
Alvin melepas tangan Delisha lalu menoleh ke arah Aleza, Devan dan Delvin kemudian melambaikan tangannya, lalu melangkah menyusul Leo yang sudah berjalan lebih dulu.
*
*
Pergimu membawa luka.