
*
*
Aisyah bersiap mendengar cerita masa lalunya Delisha, ia memperbaiki posisi duduknya serta menajamkan pendengarannya.
"Kehidupanku berubah saat ayahku meninggal dok, dulunya keluargaku adalah keluarga yang bahagia---..."
*
Flashback
Keluarga Delisha adalah keluarga yang bahagia, meskipun mereka hidup sederhana tapi kalau soal kasih sayang jangan di tanya, ayah dan ibunya melimpahkan seluruh kasih sayangnya terhadap putri mereka satu-satunya, apalagi ayahnya apapun yang Delisha minta pasti ayahnya akan berusaha menurutinya.
Delisha memang lebih dekat dengan ayahnya meskipun sudah besar Delisha tidak malu meminta gendong pada ayahnya dari ruang televisi menuju kamarnya, bahkan yang lebih parah Delisha tidak malu menciumi ayahnya di tempat umum.
Delisha seperti itu karena ayahnya yang selalu memanjakannya, hanya satu jurus yang di pakai Delisha untuk merayu ayahnya 'flashing' mata bulat dan bening itu akan mengerjab lucu membuat siapapun pasti gemas melihatnya dan tidak mampu menolak permintaannya.
Delisha, seorang gadis cantik yang saat itu baru memasuki masa kuliahnya namun Delisha hanya kuliah beberapa bulan saja karena ayahnya kecelakaan lalu meninggal, kuliahnya harus terputus karena tidak ada lagi yang membiayainya, harta yang di tinggalkan ayahnya tidak seberapa tidak akan cukup untuk membiayai kuliahnya sampai selesai.
Kecelakaan itu terjadi saat Delisha hendak memakai mobil ayahnya untuk pergi bertemu dengan salah satu temannya, namun ayahnya menolak dan bersikukuh untuk mengantar Delisha.
Akhirnya ayahnya yang mengantar Delisha sampai di tempat tujuan namun sayangnya dalam perjalanan pulang setelah mengantar Delisha ayahnya kecelakaan, mobil yang dikendarai ayahnya masuk jurang setelah di tabrak truk dari belakangnya, ayahnya meninggal saat itu juga.
Sejak saat itu kehidupan Delisha belum banyak berubah namun saat ibunya memutuskan untuk menikah lagi kehidupan Delisha berubah 180 derajat.
Delisha bekerja di sebuah butik ternama di pusat kota untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Rey berjalan memasuki rumah yang saat itu di tinggali Delisha, tatapannya langsung tertuju pada uang yang berada di atas meja.
Uang itu adalah gajinya Delisha, ibunya dan Delisha sedang membaginya untuk kebutuhan sehari-hari, untuk belanja, bayar listrik dan kebutuhan lainnya.
Rey berjalan cepat lalu mengambil semua uang itu. "Katanya tidak punya uang, ini apa??!!"
"Itu gaji Delisha om." Delisha mencoba meraih uang dari tangan Rey namun tidak akan mungkin berhasil karena Rey jauh lebih tinggi darinya.
"Om tolong jangan ambil semuanya! Itu untuk kebutuhan kita."
"Kerja lagi sana!" Rey melenggang pergi begitu saja.
"Kita ikhlaskan saja uang itu Sha." ujar ibunya lalu menarik lengan Delisha menuju kamarnya.
Ibunya membuka lemari lalu mengambil sebuah kotak kecil kemudian menyerahkannya pada Delisha. "Besok kamu jual ini untuk menutupi kebutuhan kita sampai kamu gajian lagi."
Delisha membuka kotak tersebut lalu menatap ibunya. "Ini cincin kawin ibu dari ayah kan?"
Ibu mengangguk. "Benar, hanya itu yang ibu miliki saat ini."
"Tidak harus di jual bu, kita bisa cari pinjaman dulu sama tetangga nanti kalau Delisha gajian lagi akan Delisha ganti."
Ibu menunduk dan air matanya turun di pipinya yang sudah mulai keriput. "Maafin ibu nak, seharusnya ibu tidak harus menikah lagi, kalau ibu tidak menikah lagi mungkin hidup kita tidak akan seperti ini." ujarnya penuh sesal.
Delisha menarik tubuh ringkih ibunya ke dalam pelukannya. "Semua sudah terjadi bu, mungkin ini memang takdir Tuhan."
"Ibu mengira kalau ibu menikah lagi hidup kita akan lebih baik karena kita punya sandaran seperti ayahmu dulu, namun ibu salah." lanjut ibu di iringi isak tangis.
Ibu melepas pelukannya kemudian menghapus air matanya. "Ini sudah malam sebaiknya kamu mandi, ibu akan menyiapkan makan malam untukmu."
Delisha beranjak dari kamar ibunya kemudian berjalan menuju kamarnya untuk mengambil pakaian ganti barulah ke kamar mandi.
Selesai mandi Delisha kembali ke kamar menunggu ibunya selesai menyiapkan makan malam untuk dirinya.
Delisha meraih kotak kecil berisi cincin di atas meja kecil di samping ranjangnya kemudian duduk di tepi ranjang, Delisha memandangi cincin itu perlahan air matanya kembali tumpah mengingat kehidupannya yang sekarang, dulu Delisha hanya bermanja-manja tinggal minta ini itu pada ayahnya meskipun harus menunggu beberapa waktu namun hampir semua keinginannya terpenuhi, tapi saat ini? Dirinya harus banting tulang di usianya yang masih dini demi kelangsungan hidupnya dan ibunya, di tambah ayah tirinya yang sudah menguras habis benda berharga yang mereka miliki dan sekarang semuanya sudah habis termasuk cincin kawin ayahnya yang saat ini berada di tangannya.
"Delisha... makanannya sudah siap."
Suara ibunya membuat Delisha tersentak kaget lalu buru-buru menghapus air matanya. "Iya bu sebentar." sahutnya dari dalam kamar.
Setelah pipinya bersih dari air mata, Delisha beranjak dari ranjang kemudian melangkah menuju dapur untuk mengisi perut.
Selesai makan Delisha kembali ke kamar untuk istirahat, besok harus kembali bekerja.
Malam semakin larut semua terlelap, hampir menjelang pagi namun suara ribut-ribut dari ruang tamu mengusik tidurnya, mau tidak mau Delisha membuka mata kemudian bangkit dari posisinya, kakinya terulur menuruni ranjang lalu berjalan menuju asal suara, Delisha menempelkan telinganya di daun pintu serta menajamkan pendengarannya.
Delisha bisa mendengar kalau ayah tirinya kalah dalam berjudi dan rumah ini sudah juga sebagai taruhannya, dan kita semua harus mengosongkan rumah ini secepatnya.
Air mata Delisha luruh di pipinya di iringi tubuhnya juga luruh ke lantai dia sedang meratapi nasibnya. "Tuhan apa salahku? Kenapa engkau menghukum aku seperti ini?" lirihnya.
Delisha harus memikirkan dimana mereka akan tinggal setelah ini, belum sempat ia berpikir namun jeritan ibunya membuatnya buru-buru membuka pintu kamarnya, Delisha melihat dengan mata kepalanya sendiri ibunya sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat di bagian dadanya karena ibunya mencengkram kuat di bagian itu.
Secepat kilat Delisha lari untuk menolong ibunya, namun tubuh ibunya tumbang ke lantai sebelum Delisha sampai di hadapannya, begitu Delisha sudah berada di dekat ibunya, Delisha mengangkat kepalanya ibunya sambil teriak minta tolong.
Si tua bangka itu sudah pergi meninggalkan ibunya setelah mereka bertengkar hebat.
Namun ternyata Tuhan memang sedang ingin menguji Delisha, setelah ayahnya yang pergi sekarang ibunya juga harus pergi, tinggalah Delisha sendirian.
***
Selang beberapa hari setelah kepergian ibunya, Rey datang lagi kerumah dan menyeret Delisha keluar dari rumah itu, karena rumah itu sudah menjadi milik orang lain.
Rey menyeret Delisha ke tempat seorang mucikari, dengan seperti itu Rey bisa menjadikan Delisha mesin ATM nya, dia bisa bersenang-senang tanpa harus bersusah payah mencari rupiah.
Sang mucikari itu memasukkan Delisha ke sebuah kamar lalu menguncinya dari luar, biasanya anak buah baru pasti memberontak dan mencoba untuk kabur.
Delisha duduk meringkuk di ujung ranjang, air matanya tumpah sebanyak-banyaknya, dia sudah tidak bisa lagi membayangkan masa depannya kelak, hidupnya benar-benar sudah hancur.
Delisha mendengar pintu kamarnya terbuka namun Delisha tidak berani melihat siapa yang memasuki kamarnya, kemudian seseorang itu berjalan menuju ranjangnya namun Delisha masih tidak bergeming.
*
*
Flashback dulu beberapa episode setelah itu end.
Delisha sembuh atau tidak? 🤷🤷🤷
Tergantung Authornya. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤