Because Baby

Because Baby
Part 8



*


*


Delisha Maharani atau Delima


*


🌴🌴🌴


*


Delisha sudah hidup dengan tenang, dia mendirikan sebuah butik kecil dari sisa uang hasil jual kalung, itu pun tempatnya masih ngontrak.


Delisha di bantu seorang penjahit pilihan, tidak mungkin kan kalau Delisha harus menjahit dalam jumlah banyak, mengingat kalau dirinya sedang hamil.


Delisha memang hobi dengan fashion dan kebetulan dulu semasa putih abu-abu dia masuk sekolah SMK jurusan tata busana.


Berbekal sedikit ilmu, Delisha mencoba peruntungan merintis karier dari nol, semoga berhasil itulah do'a Delisha.


Delisha berharap penghasilan dari butik kecilnya bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari bersama anak dalam kandungannya.


Hari ini waktunya Delisha memeriksakan kandungannya, dia berjalan menelusuri lorong rumah sakit menuju ruang Dokter kandungan.


Setelah mengambil nomor antrean Delisha duduk di ruang tunggu sampai dia di panggil masuk ruangan Dokter.


"Bagaimana perkembangannya Dok?" tanya Delisha setelah selesai di periksa.


"Semua berjalan normal, janinnya sehat, usianya sudah menginjak empat bulan sering-seringlah mengajaknya berinteraksi." jawab Dokter sembari menuliskan resep untuk Delisha dan menyerahkannya pada Delisha.


Delisha menerima resep itu. "Terima kasih Dok, kalau begitu saya permisi."


"Sama-sama, selalu jaga kesehatan ya bu Delisha." pesan Dokter sebelum Delisha keluar ruangannya


"Baik Dok." jawab Delisha dan segera keluar dari ruangan Dokter.


Delisha kembali menelusuri lorong menuju pintu keluar rumah sakit, namun langkahnya kembali terhenti saat melewati ruang Mushola, air matanya kembali tumpah kalau mengingat masa suram itu, Delisha benar-benar merasa kotor, bahkan untuk masuk Mushola pun Delisha belum punya keberanian.


"Delisha?"


Mendengar namanya di panggil Delisha segera menghapus air matanya dan melihat pemilik suara tersebut. "Dokter Alvin?"


Alvin mendekati Delisha. "Kenapa tidak masuk?" tanya Alvin, entah itu pertanyaan yang keberapa kalinya.


Jawaban Delisha tetap sama, hanya gelengan.


Alvin mengusap perut buncit Delisha. "Umurnya sudah berapa bulan?"


"Berarti sudah bisa di ajak ngobrol dong." Alvin membungkuk dan mencondongkan kepalanya di depan perut buncit Delisha. "Hai baby, kenalin nama om, Alvino."


Delisha tersenyum dan menangis bersamaan, ketika melihat ada orang lain yang mengajak interaksi anak dalam kandungannya.


Alvino menegakkan tubuhnya kembali. "Bisa kita bicara sebentar? di taman mungkin."


Delisha mengangguk sebagai jawaban.


"Kamu duluan aja nanti aku nyusul, ada sesuatu yang harus aku ambil dulu di ruanganku." titah Alvin pada Delisha.


Alvin berlari kecil menuju ruangannya dan mengambil sesuatu untuk Delisha.


Delisha sudah lebih dulu duduk di kursi taman.


"Sha?" panggil Alvin setelah duduk di samping Delisha.


Delisha menoleh. "Iya Dok."


Alvin mengeluarkan sesuatu dari kantong jas nya.


Delisha menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Dok, ini?"


Alvin mengangguk. "Betul, ini kalung punya kamu."


"Bagaimana bisa?" Delisha masih bingung.


"Aku tidak menjual kalung itu, karena aku tau kalung itu sangat berharga bagimu."


"Terus uang yang Dokter berikan padaku?" Delisha masih belum bisa mengerti.


"Itu uang-- em, uang pribadi ku." jawab Alvin agak gugup takutnya Delisha akan marah.


"Berarti aku punya hutang banyak sama Dokter Alvin?"


"Aku ikhlas Sha, jangan anggap itu sebagai hutang."


Delisha menggeleng. "Kalau begitu kalung itu milik anda Dok."


Alvin membuka telapak tangan Delisha. "Pakailah."


Delisha menatap kalung di telapak tangannya, air matanya kembali tumpah, dia merindukan Devan lelaki yang selalu bermanja-manja dengannya, namun Delisha tidak bisa berbuat apa-apa, saat ini dia tidak tau keberadaan Devan. Lagi pula Devan tidak akan mau dekat dengannya lagi.


Mungkin untuk sekedar menampakkan dirinya di hadapan Devan pun Delisha tidak akan sanggup, mengingat dirinya kini tengah hamil, entah siapa ayah dari anaknya.


Hai readers,,, siapa pun yang sudah mampir kesini terima kasih banyak, terima kasihnya tambah banyak jika kalian meninggalkan jejak hehe