
*
*
Devan maupun Delisha belum menyadarinya kalau ada sepasang mata dan sepasang telinga di ambang pintu yang sedang melihat dan mendengarkan mereka dengan hati hancur dan juga emosi.
"Aku maunya yang ada di mulut kamu." jawab Devan nyeleneh membuat Delisha gemas lalu mencubit lengan Devan. "Devan!!!"
Devan mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat dengan tubuh Delisha, Delisha beringsut mundur namun Devan terus maju, hingga Delisha kehabisan tempat karena dia sudah mentok di lengan sofa.
"Devan! Kamu jangan aneh-aneh!!"
Devan terkekeh. "Tidak usah takut, aku tidak akan memakan kamu." tangan Devan terangkat untuk mengelus pipi Delisha dengan punggung jemarinya. "I love you Mom, Mommynya Delvin." Delisha menatap mata Devan. "Mommynya anakku." lanjut Devan berbisik.
Alvin berjalan cepat lalu menarik kerah kemeja Devan.
'BUKK' Alvin langsung memukul pipi Devan hingga Devan jatuh tersungkur.
"DEVAAN!! ALVIIN!!" Delisha berteriak histeris.
Alvin terus memukul Devan, namun Devan tidak membalasnya bahkan untuk membela diri pun tidak. Devan hanya pasrah karena dia menyadari posisinya yang salah.
Akhirnya Delisha merentangkan kedua tangannya lurus di tengah-tengah Devan dan Alvin. "Pukul aku Vin!" ujar Delisha membuat Alvin mengehentikan aksinya.
Alvin menghempaskan tubuh Devan ke sofa. "LO TEGA!!! LO TEGA MENUSUK SAHABAT LO SENDIRI!!! DELISHA CALON ISTRI GUE DEV!! DIMANA OTAK LO?!!" ujar Alvin masih diselimuti emosi.
Alvin kembali mengepalkan tangannya hendak memukul Devan lagi, dengan cepat Delisha menahannya. "Kumohon jangan Vin!!"
Alvin menyetak tangan Delisha lalu kembali memukul Devan.
Delisha kembali menahan lengan Alvin. "Kumohon jangan pukul Devan lagi, Devan adalah Ayah kandungnya Delvin." ujar Delisha sambil terisak.
Tubuh Alvin membeku dia sedang mencerna ucapan Delisha yang masuk ke indera pendengaran, seakan tidak percaya dengan ucapan Delisha barusan.
Alvin melepas Devan lalu meraih kedua pundak Delisha. "Kamu bilang apa Sha?"
"DEVAN- AYAH- KANDUNG- DELVIN!!" Delisha mengulang kata-katanya.
Devan membulatkan matanya, dia terkejut dengan pengakuan Delisha. Devan tidak menyangka kalau Delisha akan mengatakan kenyataannya secepat ini.
Alvin menatap tajam ke arah Devan. "Jangan bilang kalau Delima yang lo cari selama ini adalah Delisha?"
Alvin terdiam sejenak, dirinya sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Delisha dan Delima, membuat hati Alvin hancur berkeping-keping di tambah lagi kenyataan bahwa Devan adalah Ayah kandung Delvin. "Kenapa kamu bisa memiliki dua nama Sha?"
Delisha menunduk di hadapan Alvin. "Karena pekerjaanku." jawab Delisha sambil terisak. "Aku tidak mungkin menggunakan nama asli dalam pekerjaan kotor seperti itu." lanjutnya.
Alvin melepas Delisha lalu menatap Devan dan Delisha bergantian. "Kenapa kalian tega membohongi gue?? Gue berasa jadi orang bodoh disini!!"
"Kami tidak berniat membohongi lo Vin! Kami hanya tidak ingin membuat lo sakit hati dengan kenyataan ini!" jawab Devan.
"Terus dengan kalian menyembunyikan rahasia ini tidak akan membuat gue sakit hati??!!"
Devan maupun Delisha terdiam mereka sama-sama tidak bisa menjawab pertanyaan dari Alvin.
"Kenapa diam?!!"
"Gue tau gue salah, kita bisa bicarakan ini baik-baik Vin, kita sudah sama-sama dewasa, kita bukan remaja lagi yang dikit-dikit menggunakan emosi dan kekerasan untuk menyelesaikan masalah." ujar Devan.
"LO BISA NGOMONG SEPERTI ITU KARENA LO TIDAK BERADA DI POSISI GUE!!" sahut Alvin masih dengan emosi.
Delisha meraih lengan Alvin. "Kita duduk dulu Vin bicara baik-baik, Delvin sedang tidur nanti dia bisa terbangun kalau kita ribut terus."
Akhirnya Alvin duduk di sofa bersama Devan dan Delisha 'Hening' mereka bertiga sama-sama terdiam, mereka hanyut dalam fikirkan masing-masing lebih tepatnya mereka sedang mencari solusi.
"Betul kata Devan tadi, kita semua sudah dewasa disini tidak mungkin kan kita akan merebutkan satu wanita yang sama dengan perkelahian atau dengan merusak hubungan persahabatan. Sekarang kamu bisa pilih Sha, aku atau Devan. Dan siapapun yang tidak di pilih oleh Delisha dia harus berbesar hati dan hubungan di antara kita tetap terjalin. Satu lagi Sha, beri alasannya kenapa kamu memilihnya." ujar Alvin
"Aku setuju dengan Alvin." sahut Devan.
Delisha menatap Devan dan Alvin bergantian lalu menunduk, Delisha sedang memikirkan matang-matang keputusan yang akan dia ambil.
Kedua lelaki itu sama-sama menatap Delisha mereka mananti jawaban dari Delisha mereka juga sama-sama tegang menunggu jawaban Delisha.
*
*
Tuh sudah terungkap tinggal nunggu keputusan dari Delisha.
Habis ini End aja ya??? 🤣🤣🤣