Because Baby

Because Baby
Part 59



*


*


🌴🌴🌴


*


Devan menepikan mobilnya di depan butik Delisha, sudah beberapa minggu ini Lestari membantu Delisha di butiknya namun Delisha masih berangkat ke butik karena Delisha belum bisa melepas butiknya begitu saja butuh waktu, pelan-pelan.


"Nanti pulangnya di jemput supir ya? Aku bakalan pulang larut malam hari ini, karena proyek yang di kerjakan Alvin sedang bermasalah dan aku harus segera menyelesaikannya kalau tidak, bisa-bisa aku yang nyusul kesana." ujar Devan sembari mengusap belakang kepala Delisha yang sedang menunduk, tanganya bergerak melepas seatbelt.


Delisha telah selesai melepas seatbelt nya lalu menoleh ke kanan dimana suaminya berada. "Iya." jawabnya sembari tersenyum.


Tangan Devan yang tadinya bergerak lembut di belakang kepala Delisha, kini berhenti bergerak lalu menarik kepala Delisha untuk di kecup keningnya. "Nanti tidur duluan aja nggak usah nungguin aku." ujarnya lagi setelah melepas kecupannya.


"Iyaaa." jawab Delisha lagi kemudian membuka pintu mobil lalu keluar dari mobil. "Hati-hati." pesan Delisha sebelum menutup pintu dan di jawab acungan jempol serta senyum tipis oleh Devan.


Pintu tertutup, Devan melajukan mobilnya kembali dan Delisha berjalan memasuki butiknya.


"Loh mbak, Delvin mana?" tanya Lestari saat dia tidak menemukan bocah gembul itu.


"Di rumah bersama oma nya." jawab Delisha sembari terus melangkah menuju meja kerjanya serta Lestari yang setia mengekorinya. "Pak lek di suruh kesini aja Tari! Daripada kamu dirumah sendirian." ujar Delisha kemudian duduk di kursinya.


Lestari pun ikut duduk di seberang Delisha. "Mana mau mbak, orang tua kan biasanya gitu. Kalau nggak dirumahnya sendiri nggak bisa tidur katanya."


"Ya sudah." Delisha mulai mengecek pengeluaran dan pemasukan dalam sebulan ini. "Sini Tari!"


Lestari beranjak dari kursinya lalu berjalan beberapa langkah hingga sampai di sebelah Delisha. "Ada apa mbak?"


"Ini kamu pelajari ya! Jangan sampai salah!" Delisha memperlihatkan daftar keuangan pada Lestari agar di pelajarinya, apa saja bahan yang perlu di beli dan berapa saja hasil penjualan di butiknya.


Lestari memang sudah memahami banyak tentang butiknya Delisha hanya tinggal keuangan yang belum dan kini Delisha sudah menyerahkannya, itu tandanya sebentar lagi butik itu akan menjadi tanggung jawabnya sepenuhnya.


*


🌴🌴🌴


*


Devan membuka pintu kamar pelan-pelan takutnya akan menggangu tidur sang istri namun di luar dugaannya, ternyata sang istri belum tidur padahal ini sudah tengah malam. Sang istri sedang duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang sulit di tebak.


Devan melangkah memasuki kamarnya lalu langkahnya terhenti di samping istrinya. "Kok belum tidur mom? Kan aku tadi udah bilang, jangan nungguin aku."


Delisha mendongak untuk menatap suaminya namun belum menjawab pertanyaan suaminya. Devan membungkuk hendak mencium pipi istrinya namun dengan cepat Delisha membuang muka untuk menghindari kecupan Devan.


Devan menghela nafas pelan kemudian duduk di sebelah istrinya. "Ada apa sih? Hmm?"


Delisha belum juga buka suara, dia beranjak dari ranjang menuju nakas lalu membuka laci bawah nakas tersebut kemudian mengambil sesuatu dari dalam laci. "Apa ini??!!" tanyanya sembari meletakkan dengan kasar beberapa lembar foto Devan yang sedang berciuman dengan wanita lain, ada sekitar 20 lembar foto dan itu dengan wanita yang berbeda semua.


Devan melebarkan matanya saat melihat beberapa lembar foto dirinya yang tidak pantas dilihat oleh istrinya. "Maaf, kamu sudah tau kan masalaluku gimana?"


Mata bulat itu menatap tajam mata Devan dan bibirnya mencebik maju. "Tapi bukan berarti kamu harus menyimpan foto-foto itu!!!"


Devan merutuki kecerobohannya, dirinya lupa membuang foto-foto tersebut. "Aku lupa membuangnya sayang, sudah dong jangan berdebat okey. Aku capek masalah dikantor banyak."


Delisha melipat kedua tangannya di dada, wajahnya di tekuk, dirinya benar-benar sebal melihat foto-foto itu.


Devan membuang napas kasar lalu beranjak dari ranjang kemudian berdiri di sebelah istrinya. "Jangan marah. Besok aku mau menyusul Alvin, aku tidak mau meninggalkan kamu dalam keadaan marah seperti ini."


Delisha belum merespon dengan kata-kata, dia menatap Devan sesaat lalu membuang muka ke samping.


Devan menarik napas panjang kemudian menghembuskannya perlahan seolah mencari kesabaran. "Kamu mau aku ngelakuin apa supaya kamu tidak marah? Kamu mau aku membakar foto itu? Kalau kamu mau aku akan bakar sekarang juga" ujarnya lalu memutar tubuhnya kemudian meraih foto-foto tersebut dan di bawanya keluar dari kamar untuk di bakar.


Delisha masih diam di tempatnya sampai Devan kembali lagi memasuki kamarnya setelah membakar foto-foto tersebut.


"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi!!!"


Devan kembali berdiri di hadapan Delisha sembari memijit pelipisnya pelan berharap rasa penatnya bisa berkurang, proyek yang di tangani Alvin sedang bermasalah dan kini istrinya juga sedang marah. Jangan salahkan dirinya jika nanti dirinya terbawa emosi. "Kamu minta aku ngelakuin apalagi supaya kamu tidak marah?" tanyanya mencoba bersabar. "Aku capek, aku mau mandi terus istirahat besok pagi aku akan terbang keluar kota lagi."


"Aku mau mobil."


"Hah??" Devan terbelalak kaget. "Apa hubungannya? Tadi kamu marah karena foto, kenapa sekarang jadi minta mobil?"


"Kan tadi kamu bilang aku mau apa, ya aku jawab aku mau mobil."


Devan terkekeh lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang Delisha. "Itu di garasi tinggal pilih kamu mau pakai yang mana."


Delisha masih mengerucutkan bibirnya. "Di garasi nggak ada yang Mini Cooper aku maunya Mini Cooper."


Devan tergelak lalu mengacak rambut Delisha. "Kalau cuma mau minta mobil kenapa harus pakai cemburu segala? Kalau emang kepengen mobil tinggal bilang aku, nggak usah bikin aku jadi pusing karena foto-foto tadi."


"Nggak ya!!! Aku emang sebel liat foto kamu tadi, tapi karena kamu nawarin mau apa ya aku minta sekalian."


"Ya udah iya." ujar Devan pasrah. "Tapi beli sendiri ya? Aku besok harus berangkat."


Mata Delisha langsung berbinar, bibirnya yang mengerucut berubah menjadi senyum. "Belinya nunggu kamu pulang aja."


Devan mencondongkan tubuhnya lalu mengarahkan pipinya di depan wajah Delisha. "Cium dulu."


Delisha mengalungkan kedua tangannya di leher Devan kemudian menarik tengkuknya dan berjinjit.


'Cup'


"Satunya lagi."


'Cup'


Senyum Devan melebar, dirinya sudah lega karena istrinya sudah tidak marah lagi. Devan menarik tubuh Delisha kedalam pelukannya. "Emang kamu bisa nyetir?"


"Ngece!!!" jawab Delisha ngegas.


Devan tergelak. "Apaan itu ngece?"


"Dulu ayah juga punya mobil, meskipun tidak sebagus mobil kamu, aku juga sering memakai mobil itu dan--." Delisha mengeratkan pelukannya seolah mencari kekuatan disana. "Mobil itu sudah merenggut nyawa ayah."


Devan segera mengusap lembut punggung Delisha. "Hei, jangan di ingat-ingat lagi ayah sudah tenang disana."


Delisha mengangguk lalu melepas pelukannya. "Udah, sana mandi dulu!"


"Sarangnya udah bersih kan?" tanya Devan nyeleneh. "Si Emprit kepengen masuk, kasian dia bakalan kedinginan lumayan lama."


"Udah." jawab Delisha lalu mencubit pipi Devan kemudian menatap Devan serius. "Kenapa akhir-akhir ini aku datang bulannya tidak teratur ya?"


"Periksa ke dokter sayang, tapi periksanya sama mami, aku nggak bisa temenin kamu."


"Apanya yang mau di periksa? Aku nggak ngerasain apa-apa cuma datang bulan tidak teratur."


"Ya udah kalau nggak mau periksa, tapi kalau berlanjut kamu harus segera periksa ya?"


"Iyaa."


*


*


Enak banget cuma ngambek sebentar dapet Mini Cooper.


Dunia novel mah bebas. 🀣🀣🀣