Because Baby

Because Baby
Part 50



*


*


🌴🌴🌴


*


Keluarga Devan telah sampai di Jogja kemarin sore dan mereka langsung menginap di hotel.


Alvin baru sampai tadi malam, dia juga langsung menuju hotel tempat keluarga Devan menginap.


Pagi menjelang, keluarga Devan segera bersiap-siap menuju Masjid tempat Akad nikah Devan dan Delisha.


Tak butuh waktu lama mereka telah sampai di tempat tujuan karena memang mereka menyewa hotel yang dekat dengan Masjid tersebut.


Delisha berada di ruang rias, sedangkan Delvin bersama Lestari karena Lestari memang di tugaskan menjaga Delvin sampai keluarga Devan datang.


Lestari mengajak Delvin berjalan-jalan di sekitar Masjid tersebut, sembari menunggu keluarga Devan datang.


"Daddy." teriak Delvin saat melihat Devan turun dari mobil beserta keluarga. Delvin melepas genggaman tangan Lestari lalu lari ke arah Daddy-nya.


Devan segera mengangkat tubuh gembul anaknya tanpa takut pakaian pengantinnya akan kusut. "Anak Daddy nakal nggak?" tanya Devan lalu menciumi bocah gembulnya.


"No. Apin anak pintar Dad." jawab Delvin lalu dia menoleh ke arah Alvin. "Ayah?"


Alvin mengambil alih Delvin dari gendongan Devan lalu menciuminya. "Delvin kangen nggak sama Ayah?"


"Kangen." jawab Delvin lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Alvin.


Ezra mendekati Alvin lalu mengambil alih Delvin dari gendongan Alvin. "Cucu Opa yang ganteng, Opa kangen loh sama Delvin." ujar Ezra lalu menciumi Delvin dan Aleza pun ikut mendekat serta mencium cucunya yang sudah satu minggu ini tidak bersamanya.


Lestari hanya diam mematung melihat Delvin menjadi rebutan lalu tersenyum kecil.


"Dia siapa?" tanya Alvin pada Devan sembari melirik ke arah Lestari.


Devan mengikuti arah ekor mata Alvin. "Ooh, dia Lestari sepupunya Delisha." jawab Devan lalu menyenggol lengan Alvin. "Naksir?" goda Devan dan di balas dengusan oleh Alvin.


"Mirip Delisha." batin Alvin.


Mereka melangkah memasuki Masjid tersebut, Devan berjalan beriringan dengan Alvin dan Ezra berjalan beriringan dengan istrinya beserta Delvin dalam gendongannya. Dan Lestari kembali masuk ke ruang rias untuk menemani Delisha.


Delisha berada di dalam ruang rias di temani oleh Lestari dan penata riasnya. Di dalam ruangan tersebut di sediakan layar televisi yang terhubung langsung dengan ruang Akad sehingga Delisha bisa menyaksikan semua rangkaian acara yang ada di ruangan tersebut, Delisha juga bisa melihat Delvin yang sedang duduk di antara Opa dan Oma nya, disitu juga ada Alvin yang duduk di sebelah kanan Devan.


Devan mulai berjabat tangan dengan Bambang membuat suasana di ruangan tersebut hening.


Suara Devan saat mengucapkan Ijab Qobul menjalar hingga ke relung hati Delisha, hingga tanpa terasa air matanya luruh, air mata bahagia dan juga air mata kesedihan. Andai orang tuanya masih ada pasti mereka pasti akan sangat bahagia melihat putrinya telah menikah.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu kepada para saksi dan tamu yang hadir.


"SAH." jawab para saksi dan tamu dengan serentak.


Lestari langsung memeluk Delisha. "Selamat menempuh hidup baru mbak, semoga langgeng sampai maut yang memisahkan."


"Terima kasih Tari, semoga kamu juga cepet nyusul ya."


"Waktunya pengantin wanita keluar." ujar sang penata rias lalu dia menghapus air mata di pipi Delisha kemudian sedikit memoles wajah Delisha lagi karena polesannya yang tadi sedikit rusak karena air mata Delisha.


Setelah make-up Delisha beres, Delisha keluar dengan di apit oleh Lestari di sebelahnya. Delisha berjalan dengan anggun menyusul Devan yang saat ini telah resmi menjadi suaminya.


Semua mata tertuju pada Delisha sang pengantin wanita. Delisha mengenakan kebaya putih senada dengan jas yang di kenakan Devan. Devan menoleh saat melihat sosok Delisha sedang berjalan mendekati dirinya dan senyumnya langsung mengembang Delisha memang selalu cantik dimatanya, apalagi saat ini Delisha tampil beda dari biasanya membuat senyum Devan tidak pudar dari bibirnya sampai Delisha duduk di sebelahnya.


Lestari meninggalkan Delisha setelah Delisha duduk di sebelah Devan lalu Delisha sedikit memutar tubuhnya berhadapan dengan Devan sesuai arahan dari pak penghulu. Delisha meraih tangan kanan Devan lalu menciumi punggung tangannya tanda bakti pertama Delisha pada suaminya.


Setelah Delisha mencium tangan Devan, kini giliran Devan mengangkat tangannya untuk menarik kepala Delisha kemudian mengecup keningnya. "Istriku." bisik Devan setelah melepas kecupannya membuat Delisha tersenyum lalu menunduk, rasa hangat menjalari aliran darahnya saat mendengar kata 'istri' dari mulut Devan, satu kata yang membuat dirinya sadar dengan status barunya.


Nyonya Devano.


*


*


Tuh udah sah. πŸ˜…πŸ˜…


Sekarang readers mau apalagi???


Authornya nurut nih 🀣🀣🀣