Because Baby

Because Baby
Part 87



*


*


🌴🌴🌴


*


Delisha keluar dari ruang tindakan, ia berbaring lemah di brankar dan di dorong oleh beberapa orang perawat serta di ikuti Jericho di belakangnya, mereka menuju kamar yang semula tempati oleh Delisha.


Begitu sampai di kamar, Jericho langsung menyuruh para perawat untuk pergi dan sekarang hanya tinggal Delisha dan Jericho saja di kamar tersebut.


Dengan hati-hati Jericho mengangkat tubuh Delisha kemudian memindahkannya dari brankar ke ranjangnya, setelah Delisha sudah berhasil ia pindahkan kemudian ia menyingkirkan brankar tersebut dari kamarnya.


Jericho duduk di tepi ranjang. "Masih sakit?" tanyanya.


Delisha tidak menjawab, ia hanya memalingkan wajahnya tidak mau menatap Jericho.


"Maaf aku harus melakukan ini, setelah kamu sembuh aku akan langsung mengurus perpisahanmu dengan laki-laki itu."


Kalimat yang terlontar dari mulut Jericho berhasil membuat Delisha menoleh dan menatapnya. "Aku nggak mau!!!"


"Aku tidak minta persetujuanmu!!! Mau tidak mau itu akan tetap terjadi."


Delisha kembali memalingkan wajahnya.


"Istirahatlah Delima, supaya kamu cepat sembuh dan secepatnya kita akan hidup bersama. Hanya ada aku dan kamu."


Tangan Delisha terangkat untuk mengusap perutnya.


"Dia sudah tidak ada!! Tidak usah mencarinya lagi!! Kalau kamu sudah sembuh aku akan membuatkannya untukmu."


Mendengar kata-kata Jericho barusan membuat Delisha ingin mengumpat. "Percaya diri sekali dia! Siapa juga yang mau membuat anak dengannya!!" batin Delisha.


Delisha memejamkan matanya, ia akan berpura-pura tidur supaya Jericho meninggalkannya.


Benar saja, setelah Delisha memejamkan matanya beberapa saat, Jericho keluar dari kamarnya.


*


🌴🌴🌴


*


"Kita kemana lagi Dev?" tanya Alvin sembari tetap fokus menyetir.


Semua alamat yang di berikan Jefri sudah mereka datangi namun mereka belum menemukan keberadaan Jericho saat ini.


Devan membuang napas kasar ia juga tidak tahu harus mencari Jericho dan Delisha kemana lagi, ia kembali berpikir kemudian ia menoleh kebelakang dimana ada Leo yang duduk di kursi belakang. "Leo, coba cek nomor Jericho sudah aktif atau belum?!"


"Baik tuan." Leo segera menghubungi anak buahnya yang sudah standby di ruangan khusus untuk membantu Devan.


"Nomor pak Jericho sudah aktif lagi tuan dan sudah terdeteksi keberadaannya." ujar Leo setelah memutus sambungan teleponnya pada anak buahnya.


"Dimana?!"


"Di apartemen yang baru saja kita datangi tuan."


"Putar arah Vin!!" titah Devan pada sahabatnya.


"Baik tuan."


Leo langsung menghubungi bawahannya supaya segera mengirim anak buahnya untuk membantu Devan.


Alvin memutar roda kemudinya menuju apartemen yang baru saja mereka datangi.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai karena mereka memang belum jauh dari apartemen tersebut.


Mereka turun dari mobil dan anak buah Leo sudah menunggu disana dan mereka langsung menuju unit apartemen yang sudah di beritahu oleh anak buah Leo.


Sebelum mereka sampai di depan pintu apartemen mereka semua berhenti, ada beberapa anak buah Jericho yang menjaga di depan pintu dan saat itu juga mereka benar-benar yakin bahwa itu adalah tempat persembunyian Jericho saat ini.


Mau tidak mau mereka akhirnya menyerang anak buah Jericho.


"Lo masuk aja selamatin Delisha, biar mereka kita yang urus." titah Alvin pada Devan.


Alvin, Leo dan anak buahnya melawan anak buah Jericho sedangkan Devan memencet bell apartemen tak lama kemudian pintu apartemen terbuka dari dalam dan Devan langsung memasuki apartemen tersebut. "Delishaaa...." panggilnya sembari terus melangkah menelusuri setiap sudut apartemen.


Pintu kamar terbuka dan Delisha muncul dari balik pintu kamar tersebut. "Devan..."


Devan berhenti melangkah ia menoleh ke arah sumber suara. "Mommy?"


Namun sebelum Devan melangkah menuju pintu kamar ia lebih dulu di pukul dengan tongkat baseball dari belakang dan mengenai kepalanya.


"DEVANNNN...." teriak Delisha kencang saat melihat Devan di pukul oleh Jericho, namun ia tidak bisa mencegahnya karena jarak mereka cukup jauh.


Devan langsung jatuh tersungkur di lantai, sebelum Jericho melanjutkan pukulannya ia lebih dulu di lempar dengan vas bunga oleh Leo dari belakang dan mengenai kepala bagian belakangnya.


Delisha menutup mulutnya saat melihat dua pria sama-sama tergeletak di lantai dengan darah sama-sama mengucur dari kepala mereka.


"DEVANNNN...." Delisha berlari sambil menangis setelah sampai di sebelah Devan ia duduk bersimpuh kemudian mengangkat kepala Devan lalu memangkunya. "Dev... bertahanlah! Kita ke rumah sakit sekarang."


Devan memaksa membuka matanya, tangannya terangkat untuk menyentuh perut istrinya. "Dia baik-baik saja kan?" tanyanya pelan.


Delisha mengangguk cepat bersamaan mengalirnya air matanya. "Dia baik-baik saja karena daddynya telah datang menyelamatkannya tepat waktu."


"Kap--pan aku bisa... melihat perut kam--mu yang gen--dut?" tanya Devan dengan suara terbata-bata, ia sedang menahan dirinya supaya tetap sadar.


"Itu masih lama Dev. Sudah jangan banyak bicara dulu!!" ujar Delisha kemudian ia menatap Leo. "Ayo bantu aku membawa Devan ke rumah sakit."


Devan mengangkat tangannya mengisyaratkan pada Leo supaya tidak mengangkat tubuhnya sekarang. "Katak--kan sayang! Ber--rapa lama aku bisa mel--lihat perut kamu yang-- gendut?" tanyanya lagi.


"Kurang lebih 3 bulan lagi Dev." jawab Delisha di sertai isak tangis.


Setelah mendengar jawaban dari Delisha, Devan menutup matanya rapat.


"DEVANNNN...!!!" teriak Delisha lagi dan kali ini lebih kencang.


Alvin telah selesai mengurus anak buah Jericho kemudian ia memasuki ruangan tersebut lalu membantu Leo mengangkat tubuh Devan.


Setelah tubuh Devan terangkat, Delisha menatap tangan dan pahanya yang bersimbah darah, darah yang keluar dari kepala Devan.


*


*


Authornya tambah kejam aja sih... πŸ™ˆπŸ™ˆπŸ™ˆ