
*
*
π΄π΄π΄
Devan memasuki rumahnya beserta Delvin dalam gendongannya. "Omaa..." Devan memanggil Maminya.
Aleza yang sedari tadi sedang tengkurap di sofa sembari membolak-balikkan majalah fashion, kini menoleh. "Hai cucu Oma yang ganteng."
Delvin turun dari gendongan Devan lalu berlari ke arah Aleza. "Omaa..." panggil Delvin sembari terus berlari.
Aleza beringsut duduk lalu merentangkan kedua tangannya hendak menerima pelukan dari cucunya, Aleza mengangkat tubuh Delvin lalu memangku bocah gembul itu serta menciuminya dengan gemas.
"Oma, Apin mau mainan di atas." bisik Delvin di telinga Aleza.
Aleza terkekeh. "Jadi Delvin kerumah Oma cuma mau mainan?"
"Mainan sama Daddy aja ya?" sahut Devan.
Delvin mengangguk antusias, dia sudah tidak sabar untuk bermain di kamar bermain milik Daddy-nya semasa kecil dulu.
Devan kembali membopong Delvin menaiki tangga menuju kamar bermainnya, lalu menurunkan Delvin di depan pintu.
Delvin mendongak ketika pintu tak kunjung di buka oleh Devan.
Delvin menarik-narik kaos Devan. "Ayo Om pintunya di buka." rengek Delvin.
"Panggil Daddy dulu!"
"Daddy." ujar Delvin.
"Good Boy." Devan mengacungkan ibu jarinya lalu berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Delvin. "Sekarang cium dulu!" ujar Devan sembari mengarahkan pipinya di depan bibir Delvin.
'Cup'
"Satunya lagi."
'Cup'
Devan tersenyum serta mengacak rambut Delvin, lalu membuka pintu kamar bermain tersebut, Delvin langsung masuk dengan antusias.
*
*
π΄π΄π΄
"Kok sepi Sha, Delvin mana?" tanya Alvin saat memasuki rumah Delisha namun tidak menemukan bocah gembul itu.
"Delvin dirumah Tante Leza." jawab Delisha sembari meletakkan secangkir teh hangat di meja untuk Alvin.
Semenjak hasil tes itu keluar, Devan memang sering mengajak Delvin ke rumahnya kadang juga jalan-jalan. Devan juga sering mengajak Delisha namun Delisha selalu menolaknya.
"Ini sudah gelap loh, aku susul aja ya?" ujar Alvin.
"Tidak usah, sebentar lagi pasti di antar pulang." ujar Delisha sembari duduk di sebelah Alvin.
Alvin menatap Delisha. "Delvin itu anak kamu loh, kok kamu bisa setenang itu? Aku aja khawatir."
"Bukan kah Delvin memang sudah terbiasa dengan Tante Leza?"
"Ya sudah kita tunggu saja." ujar Alvin pasrah.
"Tehnya di minum dong."
Alvin meraih cangkir berisi teh hangat buatan Delisha dan menyeruputnya sedikit lalu menaruhnya di atas meja lagi. "Rencananya setelah nikah kita tinggal dimana Sha?"
"Emm." Delisha nampak berfikir sejenak. "Disini."
Alvin menggeleng cepat. "Itu bukan ide yang bagus Sha, disini rumahnya terlalu kecil untuk kita bertiga, mobilku aja nggak bisa masuk. Gimana kalau kita tinggal di apartemenku aja? Atau kamu mau kita beli rumah sendiri?"
"Aku ngikut kamu aja." ujar Delisha pasrah.
"Devan?"
Delisha menoleh ke arah pintu saat Alvin menyebutkan nama Devan.
"Tidak usah biar gue aja." Devan lalu beralih menatap Delisha. "Mommynya Apin bisa tolong tunjukkin kamarnya Apin?"
"Delvin masih bobo sama Bundanya, itu kamarnya." kata Delisha sembari menunjuk arah kamarnya.
Alvin kembali duduk. Devan melanjutkan langkahnya menuju kamar Delisha dan Delvin, sedangkan Delisha mengekori Devan serta membuka pintu kamarnya.
Setelah membuka pintu kamar Delisha kembali ke sofa.
Devan masuk ke kamar Delisha untuk menidurkan Delvin, Devan membaringkan tubuh gembul Delvin dengan perlahan agar tidak terbangun.
Devan tersenyum saat melihat bocah polos itu lalu menyelimutinya.
Devan menghirup aroma kamar tersebut, aroma khas Delisha tercium jelas, lalu Devan mengedarkan pandangannya meneliti seluruh isi kamar tersebut, ada beberapa foto Delisha terpajang di dinding, ada juga foto Delvin serta foto mereka sedang berdua.
Pandangan Devan tertuju pada kotak kecil di atas meja riasnya Delisha. Devan beringsut lalu mengambil kotak tersebut.
Devan tersenyum kecil. "Ternyata Delima masih menyimpan kalung ini." gumam Devan.
Devan meletakkan kotak berisi kalung pemberiannya dulu di tempat semula, lalu Devan membuka jaketnya serta mengeluarkan sesuatu dari saku dalam jaketnya dan meletakkannya di samping kotak kalung tersebut.
Devan menciumi wajah Delvin lalu keluar dari kamar tersebut.
Devan berjalan menuju sofa menyusul Alvin dan Delisha.
"Ini tehnya di minum." ujar Delisha sembari menggeser cangkir berisi teh hangat ke arah Devan.
Devan meraih cangkir tersebut lalu meminum teh hangat tersebut, setelah sisa sedikit Devan meletakkan kembali cangkir kosongnya.
"Kirain lo nggak suka sama anak kecil Dev?" tanya Alvin, dia heran biasanya Devan tidak terlalu suka dengan bocah.
Devan hanya mengedikkan bahu lalu merogoh handphone dari saku jaketnya, Devan membuka layar handphonenya untuk mengirim pesan pada seseorang.
Me : Aku kasih kamu sesuatu, ada dikamar di atas meja rias kamu.
Setelah mengirimkan pesan tersebut Devan mengembalikan handphonenya ke tempat semula. "Gue duluan Vin." lalu Devan beralih menatap Delisha. "Mommynya Apin aku pulang dulu, makasih tadi sudah minjemin Apin."
"Pinjem? lo kira Delvin itu barang." cibir Alvin.
Devan terkekeh lalu keluar dari rumah Delisha.
Handphone Delisha bergetar lalu dia meraih handphonenya serta membuka pesan yang masuk, Delisha merapatkan bibirnya menahan senyumnya saat membaca isi pesan tersebut.
"Pesan dari siapa Sha?"
Suara Alvin sedikit mengagetkan Delisha. "Oh, ini dari Indah penjahitku."
Kini giliran handphone Alvin yang bergetar, Alvin meraih handphonenya di atas meja lalu membuka pesan yang masuk. Setelah membaca isi pesan tersebut Alvin menatap Delisha. "Aku juga pulang ya Sha, Papa mau ngomongin sesuatu katanya."
Delisha mengangguk. "Iya."
Alvin beranjak dari sofa lalu mencondongkan tubuhnya 'cup' setelah mengecup pipi Delisha Alvin berjalan keluar dari rumah Delisha menuju rumahnya.
Setelah kepulangan Alvin, Delisha segera menutup pintu rumahnya dan tak lupa menguncinya, pintu sudah terkunci lalu Delisha berjalan menuju kamarnya.
Delisha sudah berbaring di sebelah Delvin, namun dia teringat dengan kiriman pesan dari Devan tadi, Delisha beringsut lalu meraih kotak di atas meja riasnya.
Senyumnya mengembang saat melihat isi kotak tersebut, ternyata isinya adalah permen jelly kesukaannya, dulu Devan memang sering membawa permen jelly untuk dirinya.
Senyum Delisha tak bertahan lama, bahkan sampai berjengkit kaget saat mendengar gedoran keras dari pintu depan rumahnya.
"Brakk!!"
"Brakk!!"
"Brakk!!"
*
*
Hemm siapakah dia??
*
Author memang aneh, sukanya bertanya padahal sudah tau jawabannya π€£π€£π€£