Because Baby

Because Baby
Part 55



*


*


🌴🌴🌴


*


Alvin keluar dari apartemennya kemudian melangkahkan kakinya menuju apartemen Devan, tak butuh waktu lama Alvin telah sampai di depan pintu apartemen milik Devan, karena apartemen mereka memang bersebelahan. Alvin menekan beberapa digit nomor dan 'Bib bib' pintu apartemen Devan terbuka. Devan dan Alvin memang saling bertukar nomor passcode agar memudahkan mereka masuk tanpa harus memencet bell, mereka sering masuk tanpa ijin dan itu sudah biasa. Biasanya mereka masuk jika ingin meminta atau meminjam sesuatu seperti kopi, teh atau sekedar ngobrol. Seperti kali ini Alvin masuk ke apartemen Devan hendak meminjam charger karena charger miliknya ketinggalan dirumah.


Pintu terbuka Alvin melangkah memasuki apartemen Devan, namun langkahnya terhenti saat melihat Devan bersama wanitanya sedang bercumbu, wanita itu masih memakai celana panjang namun sudah tidak memakai baju hanya bra yang masih menempel di tubuh bagian atasnya, Alvin langsung membalikkan tubuhnya dan memejamkan matanya rapat-rapat. Mata sucinya sudah ternodai dengan pemandangan tadi.


Devan yang menyadari kehadiran Alvin langsung menutup tubuh bagian atas wanitanya dengan jaket. "Lo masuk dulu ke kamar!" titahnya pada wanitanya sembari menunjukkan kamar miliknya.


Devan tergelak kencang saat melihat Alvin diam seperti patung dengan posisi membelakanginya. "Buka mata lo!"


Alvin membuka mata lalu membalikkan badannya. "Ganti cewek lagi lo?" cibir Alvin setelah wanita tadi menghilang dari pandangannya.


Devan beranjak dari sofa lalu berjalan mendekati Alvin. "Ngapain sih lo? Ganggu aja!"


"Pinjem charger." jawab Alvin.


"Ambil tuh di bawah televisi!"


Devan kembali duduk di sofa dan Alvin mengambil barang yang dia butuhkan di bawah televisi lalu ikut duduk di sofa. "Lo nggak takut dosa berbuat gituan? Terus lo nggak takut jika kena penyakit?"


Devan melempar bungkus rokok ke arah Alvin. "Mentang-mentang calon Dokter lo, gue bermain sehat, gue selalu memakai pengaman dan cewek-cewek yang gue tiduri juga masih virgin jadi mereka belum membawa penyakit, masih aman."


"Terserah lo deh, gue balik dulu." ujar Alvin lalu dia beranjak dari sofa kemudian melangkah menuju pintu keluar, sebelum sampai pintu Alvin membalikkan tubuhnya. "Dan satu lagi, rokoknya di kurangi tidak baik buat kesehatan."


"Iya pak Dokter." jawab Devan dengan menekan kata 'Dokter'


Alvin hanya geleng-geleng lalu keluar dari apartemen Devan dan kembali ke apartemennya.


Setelah kepergian Alvin, Devan segera menyusul wanitanya ke kamar. Seorang mahasiswi dari fakultas sastra yang sudah beberapa hari ini mendekati Devan.


Devan memang meniduri wanita tanpa status setelah menyelesaikan hasratnya maka selesailah hubungan mereka berdua. Ada wanita yang meminta bayaran setelah mereka berhubungan namun ada yang sukarela memberikan tubuh mereka pada Devan karena paras dan bentuk tubuh Devan yang perfect membuat para wanita itu tergila-gila dan rela memberikan tubuhnya pada Devan.


Devan menutup pintu kamar lalu menguncinya berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Alvin akan kembali lagi, Devan berjalan menuju ranjang lalu menaiki ranjang. "Sorry."


Wanita itu beringsut duduk. "Tidak apa-apa."


Devan melepas jaket yang menutupi wanita itu. "Sudah siap?"


Devan tersenyum miring. "Tenang aja."


Devan sudah ahli dalam merobek selaput dara, bisa di pastikan wanita yang di tidurinya hanya merasa sedikit kesakitan dan selebihnya enak semua.


Devan segera melucuti pakaian wanita itu dan pakaiannya sendiri, karena si Emprit sudah bangun sedari tadi sejak mereka melakukan pemanasan di sofa.


"Mau pilih yang mana?" tanya Devan setelah membuka laci di samping ranjang dan memperlihatkan berbagai macam merk pengaman dan berbagai macam varian rasa.


Wanita itu hanya mengedikkan bahu, lalu Devan meraih salah satu pengaman dengan rasa bubble gum, Devan menyukai aroma itu.


"Enak ya." ucap wanita itu saat menghirup aroma pengaman yang sedang di pasang oleh Devan.


***


Devan telah mencapai puncak.


Wanita itu menuruni ranjang lalu memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai kemudian memakainya.


Devan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan boxer, dia berjalan ke arah lemari lalu membuka lemari tersebut serta mengambil uang kemudian menyerahkan uang tersebut pada wanita tadi. "Kita sudah selesai silahkan pulang."


Wanita itu menerima uang tersebut dan segera keluar dari apartemen Devan.


Setelah kepergian wanita itu Devan melirik sprei yang ada bercak darahnya lalu tersenyum tipis kemudian Devan berjalan menuju balkon kamarnya.


Devan duduk berselonjor di kursi panjang sembari menghisap rokoknya, batang rokok terselip di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya sedangkan tangan kirinya membuka layar handphone untuk memeriksa chat yang masuk, matanya terbelalak saat melihat chat yang di kirim oleh musuh balapnya, Devan lupa kalau malam ini ada jadwal balap lalu dia melihat jam yang tertera di layar handphonenya. "Masih ada waktu." gumamnya.


Devan beranjak dari kursi panjang tersebut lalu memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa, dia segera mengganti boxernya dengan celana jeans robek di bagian lutut tak lupa memakai kaos dan jaket, setelah selesai memakai pakaiannya Devan menyambar kunci motor lalu berjalan cepat keluar dari kamarnya menuju lift, setelah melewati lift kemudian Devan kembali berjalan menuju basement tempat motor dan mobilnya terparkir disana.


Devan memakai helm kemudian melajukan motornya dengan kecepatan penuh, karena dia hampir terlambat.


Devan masih suka balap liar, padahal kalau pulang dari balap itu Devan bisa babak belur atau lecet-lecet dan berakhir masuk ke apartemen Alvin, dan Alvin lah yang selalu mengobati luka-luka Devan. Padahal Alvin mengobati luka Devan dengan mengomel tapi itu tidak membuat Devan jera dan terus mengulanginya. Begitupun dengan Alvin, meskipun dia selalu mengomeli Devan saat mengobatinya namun dia terus melakukannya karena Alvin tau sebenarnya Devan itu baik. Hanya kebiasaan buruknya yang menutupi kebaikan itu.


*


*


Adegan dewasanya tidak usah terlalu dalam ya, Author sudah banyak dosa. 🤣🤣🤣


Sebenarnya flash back ini cukup panjang tapi karena para readers minta langsung pada intinya jadi Author persingkat ya. Karena cerita ini murni khayalan jadi Author bisa mempersingkat atau memperpanjang ceritanya.


Jadi kalau ada hal-hal yang tidak masuk akal harap maklum.