Because Baby

Because Baby
Part 68



*


*


🌴🌴🌴


*


Napas Devan sudah teratur kemudian dia menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua, Devan membaringkan tubuhnya menyamping menghadap Delima, tangannya terangkat untuk menghapus air mata Delima. "Maaf... sudah jangan nangis lagi."


Delima menatap Devan dengan mata yang masih mengeluarkan air mata membuat hati Devan berdesir nyeri.


"Hidupku sudah hancur." lirih Delima.


Devan menarik tubuh Delima ke dalam pelukannya, melihat Delima menangis membuat hatinya sakit seakan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan Delima. "Sstttt...." Devan mengusap punggung Delima untuk menenangkannya.


Perlahan tangan Delima terangkat untuk membalas pelukan Devan membuat Devan tersenyum tipis kemudian semakin mengeratkan pelukannya, memberikan kenyamanan untuk Delima wanita pertama yang tidak ia tinggalkan setelah bercinta.


Biasanya Devan akan meninggalkan wanita yang telah ia tiduri atau jika wanita itu yang datang, Devan akan segera menyuruhnya pergi, dan Devan biasanya hanya memakai wanita itu sekali saja.


Kecuali Anggita, karena mereka dulu memang ada hubungan khusus.


***


Devan membuka mata, pertama kali yang ia lihat adalah Delima yang masih berada di dalam dekapanya, tangan kirinya terasa mati rasa karena semalaman tangannya di jadikan bantalan oleh Delima, parlahan Devan mengangkat kepala Delima dengan tangan kanannya kemudian menarik tangan kirinya.


Setelah tanganya kirinya terlepas kemudian tangan kanannya terangkat untuk menyingkirkan rambut Delima yang menutupi wajahnya kemudian meneliti setiap lekukan di wajah Delima, mata bulat dan bening itu sedang tertutup, hidungnya mancung, bibirnya merah dan pipinya agak cubby. "Sempurna." gumam Devan.


Pandangan Devan menurun di bagian tubuh Delima yang tertutup selimut, tubuhnya padat berisi dan yang paling membuat Devan tersenyum bangga karena dirinya yang pertama untuk Delima.


Delima membuka mata dan matanya langsung bertemu dengan mata Devan yang saat itu sedang menatap matanya. "Pagi..." sapa Delima masih dengan mata sedikit tertutup.


"Tidur lagi aja ini masih terlalu pagi." ujar Devan kemudian menarik tubuh Delima kedalam pelukannya, namun kali ini Delima memberontak tidak mau di peluk Devan.


"Kenapa?"


"Bukankah ini sudah pagi? Berarti tugasku sudah selesai kan?"


Devan menarik paksa tubuh Delima. "Gampang nanti tinggal bayar double sama Reno, gue masih ingin bersama lo."


"Bisa nggak sih ngomongnya nggak usah pakai gue elo gue elo kesannya kasar banget gitu loh." protes Delima.


Devan mengangkat satu alisnya. "Terus pakai apa?"


"Aku kamu misal atau yang lain."


Devan mengedikkan bahu. "Kalau nggak lupa. Gue udah terbiasa pakai gue elo."


Delima kembali memberontak dalam pelukan Devan. "Lepasin! Aku nggak bisa nafas! Kamu meluknya kekencengan."


Devan tidak melepaskan Delima hanya sedikit melonggarkan pelukannya.


"Nama kamu siapa?"


Devan terkekeh mendengar pertanyaan dari Delima. "Kita udah ngelakuin sejauh itu dan lo belum tau nama gue? Ckckck."


"Mas nya tidak memperkenalkan diri."


"Nama gue Devan."


"Mas Devan." Delima mencoba menyebut nama Devan.


"Jangan mas terus ah, geli gue. Panggil Devan aja!"


"Nggak ah, mas Devan kan lebih tua dari aku."


"Sekali lagi panggil mas gue cium nih!!"


Devan melepaskan pelukannya kemudian menangkup wajah Delima dengan kedua tangannya. "Kamu cantik Delima."


Delima langsung tergelak membuat Devan merengut. "Tuh, lo ngetawain gue!!! Gue sedang latihan malah lo ketawain!!"


Delima menghentikan tawanya kemudian mendongak untuk menatap Devan. "Iya ya maaf."


"Gue akan ganti pakai aku kamu, tapi lo juga harus buang panggilan mas itu, sumpah gue geli dengan sebutan itu."


"Iyaa, Devan."


"Mas Devan." goda Delima kemudian merapatkan bibirnya menahan semburan tawanya.


Devan mendengkus sebal "Lo kira gue mas-mas tukang ojek!!"


Delima tergelak dia berhasil menjahili Devan.


*


🌴🌴🌴


*


Sudah beberapa bulan ini, setiap hari Devan selalu mendatangi Delima bahkan kadang Devan tidak memasukkan si emprit ke sarangnya Delima, hanya bisa bersama Delima sudah membuat Devan bahagia.


Jangan tanya berapa rupiah yang sudah di keluarkan Devan untuk menyewa Delima, namun itu tidak masalah bagi Devan, harta kedua orang tuanya tidak akan habis hanya untuk menyewa Delima di tambah Devan juga mempunyai penghasilan sendiri, Devan memiliki bisnis tersendiri bersama sahabatnya.


Hari ini hari terakhir Devan ketempat Delima, setelah itu Devan akan pergi keluar kota untuk mengurus proyek nya dan mungkin akan beberapa minggu disana dan Devan pasti akan sangat merindukan Delimanya.


Devan memasuki kamar Delima dengan banyak memar di wajahnya, sebelumnya Devan balap dan dia menang tapi lawan mainnya tidak terima dan berakhir saling adu pukul.


"DEVAN!" teriak Delima terkejut saat melihat wajah Devan banyak memar.


Devan menutup pintu lalu melangkah menuju ranjang kemudian duduk di tepi ranjang. "Tidak apa-apa."


Delima menyentuh pelan pipi Devan. "Tidak apa-apa bagaimana, ini pasti sakit Dev."


"Ini? Sakit?" tanya Devan sembari menunjuk pipinya sendiri. "Di cium kamu juga pasti sembuh." celetuknya.


Delima mendengkus sebal kemudian beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, beberapa saat kemudian Delima keluar dari kamar mandi beserta mangkuk dan handuk kecil.


Delima menarik kursi kemudian duduk di depan Devan lalu mulai membersihkan wajah Devan, di kamar tersebut tidak ada air hangat atau es jadi Delima tidak bisa mengompres luka Devan hanya membersihkannya saja.


Sesekali Devan meringis menahan rasa perih di wajahnya.


"Kenapa bisa begini sih?" tanya Delima sembari terus membersihkan wajah Devan.


"Biasa, balap." jawab Devan dengan entengnya.


Delima telah selesai kemudian menaruh mangkuk dan handuk kecil itu di atas meja, tangannya terangkat untuk menangkup wajah Devan. "Tolong jangan balap lagi." pintanya di sertai cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


Devan menatap mata Delima, Devan tidak tega melihat wanita di depannya itu menangis.


"Tolong jangan balap lagi, kalau sampai terjadi apa-apa padamu bagaimana? Nanti yang akan mengunjungiku siapa?" pintanya di sertai luruhnya cairan yang menggenang di matanya.


Delima sudah tidak punya siapa-siapa lagi, dan saat ini Delima merasa nyaman bersama Devan, Delima tidak bisa membayangkan jika tidak ada Devan, pasti hidupnya akan lebih hancur.


Devan menghapus air mata di pipi Delima kemudian meraih tangan Delima yang berada di kedua sisi wajahnya lalu mengecupnya. "Aku tidak akan kenapa-napa." ucapnya kemudian menarik tubuh Delima hingga ke pangkuannya.


"Janji tidak akan balap lagi!" pinta Delima.


Devan menghela napas pelan. "Janji." jawab Devan lalu mengecup pipi Delima, Devan tidak akan tega melihat Delima khawatir seperti tadi.


Benar kata Delima, kalau terjadi apa-apa pada dirinya, siapa yang akan menjadi sandaran Delima.


"Aku akan pergi keluar kota mungkin beberapa minggu, tidak apa-apa kan?"


"Tapi nanti pulangnya bawain oleh-oleh ya."


"Nggak mau!!"


"Please...." rayu Delima sembari mengeluarkan jurus andalannya, mata bulat dan bening itu mengerjab lucu.


Devan terkekeh dia gemas dengan wanita di pangkuannya ini, padahal tanpa menggunakan jurus itu pun Devan pasti akan membelikan apa yang Delima minta.


Sebenarnya Devan tidak rela meninggalkan Delima karena sudah pasti pria lain akan menikmati tubuh seksi itu.


Namun Devan tidak bisa lari dari tanggung jawab, dirinya harus menyelesaikan tugasnya.


Mau tidak mau Devan akan tetap pergi.


*


*


Delima, wanita muda yang bisa membuat Devan tergila-gila.