
*
*
Bambang sudah mengangkat tangannya lagi hendak memukul Devan, namun dengan cepat Delisha menghalanginya. "Pak lek, tolong jangan pukul calon suami Delisha lagi!" lirihnya di sertai mengalirnya air mata.
"Delisha minggir!! Biarkan laki-laki pengecut ini mendapat hukuman atas perbuatannya."
"Izinkan kami menjelaskan terlebih dahulu inti permasalahannya, setelah itu anda boleh menghukum saya jika saya bersalah." ujar Devan.
"Devan benar pak lek, izinkan kami menjelaskannya terlebih dahulu." Delisha menimpali.
"Baiklah." Bambang menyetujui usul Devan dan Delisha, ia duduk kembali. "Silahkan jelaskan!"
Delisha terdiam sejenak lalu menghela nafas pelan. "Delisha di jual oleh Ayah tiri Delis--."
'BRAKKKK' Bambang tersulut emosi lagi lalu kembali menggebrak meja,. "KURANG AJAR!!!"
Nyali Delisha semakin menciut saat melihat reaksi Bambang, dia menunduk dengan tubuh gemetar menahan isak tangis. Devan beringsut mendekat untuk menenangkan Delisha, tanganya terangkat untuk merangkul Delisha dari samping.
Bambang menatap tajam ke arah Devan. "Mas, tolong jangan dekat-dekat dengan Delisha kalian bukan muhrim!!" kemudian beralih menatap Delisha. "Lanjutkan nduk!!"
Devan membuang napas berat lalu menurunkan tangannya kemudian beringsut menjauh.
"Kurang lebih tiga tahun Delisha di tempat itu, sampai Delisha hamil barulah sang pemilik tempat itu melepaskan Delisha...---"
***
Setelah mendengarkan semua penjelasan dari Delisha akhirnya Bambang paham kenapa Devan dan Delisha baru mau menikah sekarang.
"Baiklah pak lek akan segera mengurus pernikahan kalian." ujar Bambang dan di balas gelengan cepat oleh Devan. "Tidak usah pak lek, kita bisa mengurusnya sendiri. Pak lek tinggal datang dan menjadi wali nikah kami."
"Kalian nikah disini! Biar pak lek yang mengurus semuanya, Delisha sementara tinggal disini mase pulang dulu terus mengirimkan persyaratannya kemari."
"Kenapa harus disini pak lek?" protes Delisha.
"Keputusan pak lek tidak bisa di ganggu gugat!" kekeh Bambang.
Devan dan Delisha saling tatap lalu Delisha hanya mengedikkan bahu.
"Baiklah." ujar Devan pasrah, mau dimana pun nikahnya yang penting sah. "Tapi saya tidak perlu pulang pak lek, saya bisa menyuruh orang untuk mengirimkan persyaratannya kemari."
Bambang menaikan satu alisnya. "Beneran mase mau disini sampai hari H?"
Dahi Devan semakin berkerut, dia bingung dengan arah pembicaraan Bambang. "Yakin." jawab Devan sekenanya.
Bambang tersenyum tipis, dia mengerti kalau Devan belum paham dengan pembicaraan mereka saat ini. "Kalian akan menikah kira-kira satu minggu lagi, dan kalian harus di pingit dulu selama tujuh hari. Delisha tinggal dirumah ini dan mase bisa tinggal di hotel."
Devan terbelalak kaget saat mendengar jawaban dari Bambang, dirinya belum paham yang namanya pingit. "Maksud pak lek?"
"Kalian tidak boleh bertemu sama sekali selama proses pingit itu berlangsung." jawab Bambang.
"Lama banget pak lek?" protes Devan.
"Mau satu minggu atau satu bulan?"
*
*
🌴🌴🌴
*
Devan memasuki rumah dengan langkah gontai, baru kemarin dia bisa menghabiskan malam bersama Delisha dan Delvin tapi kini? Devan harus berpisah lagi dengan kedua orang yang di sayanginya satu minggu pula, Devan pasti akan sangat merindukan bocah gembulnya dan juga ibunya.
"Devan, kamu sudah pulang?" Ezra dan Aleza mempercepat langkahnya menuruni tangga saat melihat putranya sudah pulang.
Ezra mengedarkan pandangannya namun tidak menemukan sosok yang di carinya. "Cucu Papi mana?"
Devan belum menjawab pertanyaan Papinya, dia terus melangkah menuju ruang tengah dan di ikuti oleh Ezra dan Aleza hingga mereka duduk di sofa ruangan tersebut.
Devan membuang napas kasar sebelum menjawab pertanyaan Papinya. "Devan pulang sendiri Pih, mereka masih disana sampai hari pernikahan kita tiba."
Aleza dan Ezra saling tatap menunggu anaknya melanjutkan kalimatnya.
"Kami akan menikah disana, dan sebelum pernikahan kami terlaksana kami di pingit dulu alias tidak boleh bertemu sampai hari pernikahan kami tiba." lanjut Devan.
Aleza beringsut mendekati anaknya. "Memangnya kalian akan menikah kapan?"
"Kata om nya Delisha kurang lebih satu minggu tapi pastinya kapan nanti kita akan di hubungi, yang penting Devan harus segera mengirimkan persyaratannya."
Ezra menyandarkan tubuhnya di sofa. "Yaahhh... Papi pisah lagi sama cucu Papi."
"Hanya satu minggu Pih." sahut Aleza dan di balas dengusan oleh Ezra.
Devan beranjak dari sofa. "Devan mau ke kamar Pih Mih, capek."
"Ya sudah sana istirahat." ujar Aleza sembari mengusap lengan anaknya sebelum melangkah menuju kamarnya.
Setelah Devan ke kamar, Ezra beringsut mendekati istrinya. "Mih, kita harus menyiapkan segala sesuatunya secepatnya, sebelum satu minggu semuanya sudah harus beres. Mami yang menyiapkan segala keperluan kita untuk kesana ya?"
"Iya, nanti biar di bantu Devan." jawab Aleza lalu menoleh ke arah suaminya. "Terus Papi ngapain?"
"Papi mau ngasih kejutan buat cucu kita." jawab Ezra antusias, dia sudah membayangkan kejutan apa yang akan dia kasih pada cucunya jika cucunya pulang nanti, pasti bocah gembul itu akan menyukainya.
Aleza menyatukan alisnya. "Kejutan apa sih Pih?"
"Nanti Mami juga tau." jawab Ezra santai.
"Ah Papi mah gitu nyebelin!!" Aleza beranjak dari sofa lalu meninggalkan suaminya.
Ezra hanya terkekeh saat melihat istrinya merajuk.
*
*
Kakeknya Delvin nggak bisa di tebak. ðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤