
*
*
"Jangan lama-lama Mi!" Ujar Devan setelah menepikan mobilnya di ujung jalan dekat rumah Delisha.
Aleza mengernyit. "Loh kamu tidak ikut masuk? Katanya penasaran sama Bundanya Delvin."
"Lain kali Mi, Devan buru-buru sudah di tungguin teman, mereka kan juga mau ketemu Devan. Sudah bertahun-tahun kita tidak ngumpul bareng."
Devan mengusap pipi gembul Delvin sebelum Maminya turun beserta bocah itu.
"Ya sudah, tunggu sebentar Mami tidak lama kok." Ujar Aleza pasrah, lalu dia turun dan mengantar Delvin ke rumah Bundanya.
Aleza berjalan kaki sedikit karena rumah Delisha memang masuk gang.
Delisha sudah menunggunya di luar rumah karena Aleza sudah chat dirinya sebelum berangkat tadi.
Begitu melihat sosok Aleza, Delisha segera menghampirinya serta merentangkan kedua tangannya untuk mengambil alih Delvin dari gendongan Aleza. "Loh, kok sendirian tante?"
"Di anter sama anak tante." Jawab Aleza.
Alis Delisha menyatu. "Kenapa tidak di ajak mampir tante?"
"Dia buru-buru, tante juga tidak mampir ya, anak tante sudah menunggu di mobil."
"Oh, iya tante terima kasih sudah menjaga Delvin."
"Iyaa, tante pulang dulu." Ujar Aleza.
"Hati-hati tante."
Aleza berjalan cepat menuju mobil lalu pulang ke rumahnya.
Delisha membopong Delvin memasuki kamarnya lalu membaringkannya serta menyelimutinya.
Delisha ikut berbaring di samping Delvin lalu mengusap pipi gembul bocah itu serta menatap lekat-lekat wajahnya. Delisha tidak berani menyimpulkan mirip siapa Delvin.
Delisha pun tidak pernah mencari tau siapa Ayah Delvin, dirinya selalu menganggap kalau Delvin adalah anaknya sendiri.
Tangan mungil itu bergerak-gerak mencari rambut Bundanya, sudah menjadi kebiasaan bocah itu sebelum tidur atau jika terbangun selalu memainkan rambut Bundanya, di putar-putar dengan jari telunjuknya.
Delisha lalu menepuk pelan bokong bocah itu agar kembali tidur.
Perlahan Delisha juga ikut memejamkan matanya.
*
*
🌴🌴🌴
Devan saat ini saat ini sedang berbaring di atas kap mobilnya dengan kedua tangan sebagai bantalan, menatap langit di malam hari.
Setelah mengantar Mami pulang lalu berkumpul bersama teman-temannya, Devan tidak langsung pulang, dia mampir dulu di dekat gedung tempat Delisha kerja dulu.
"Kamu dimana Delima?" Tanya Devan pada dirinya sendiri. "Kapan kita akan bertemu lagi?" Lanjutnya.
Sampai saat ini Devan belum bisa melupakan Delima wajah Delima masih berputar-putar di otaknya.
Malam semakin larut udara semakin dingin namun Devan belum beranjak dari tempatnya, dia masih enggan untuk pulang kerumahnya. Devan masih tenggelam dalam lamunan hingga deringan handphone di dalam saku celananya mengagetkan dirinya.
Devan merogoh handphonenya lalu menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
"Hallo Pih."
"Devan kamu dimana? kamu belum bertemu sama Papi loh."
Devan menepuk jidatnya, kenapa dirinya bisa lupa kalau belum bertemu Papinya.
"Iya Pih, Devan akan pulang sekarang."
"Hmm, Papi tunggu."
"Iyaa."
Devan memutuskan panggilanya lalu memasuki mobilnya dan melajukannya menuju rumah.
Kurang dari satu jam Devan sudah sampai di rumahnya.
Ezra beranjak dari tempat duduknya serta merentangkan kedua tangannya setelah melihat sosok Devan. "Devan."
Devan menghampiri Papinya lalu membalas pelukannya. "Papi bagaimana kabarnya?"
Ezra melepas pelukannya. "Seperti yang kamu lihat." Ujar Ezra, lalu dia celingak-celinguk seperti mencari seseorang.
Devan mengernyit. "Papi mencari siapa?"
"Calon istrimu." Jawab Ezra.
Devan membulatkan matanya, dirinya sedikit terkejut dengan jawaban Papinya. "Tidak ada calon istri Pih."
Ezra berdecak. "Ck ck ck, kamu pergi bertahun-tahun lamanya terus sekarang pulang tidak membawa calon istri? Dasar payah!"
"Papi jangan mulai deh!" Sahut Aleza yang sedang berjalan dari dapur beserta secangkir teh hangat di tangannya.
"Mami tuh selalu membela Devan!" Dengus Ezra pada istrinya.
"Devan tuh masih capek Pih, jangan ngomongin istri dulu." Ujar Aleza sembari meletakkan secangkir teh di atas meja.
"Papi cuma tidak mau kalau Devan kebablasan jadi duda sampai tua! Papi juga mau punya cucu, penerus keluarga kita."
"Tapi jangan memaksa Devan juga Pih! Mami tidak suka! Nanti kalau Devan sampai kabur dari rumah gimana?"
"Kalau Devan di biarkan, dia akan kebablasan Mih! Mami tidak pengen menimang cucu?!"
Devan hanya menatap Papi serta Maminya bergantian mereka sudah mulai berdebat dalam hal-hal yang sepele. Pemandangan yang sudah lama tidak di lihat Devan.
Devan akhirnya duduk di sofa serta menyandarkan kepalanya dan membiarkan Papi Maminya meneruskan debatnya.
*
*
Dasar anak durhaka! orang tuanya debat malah di biarin😂😂😂
Maaf ya readers pasti kecewa🤣🤣🤣