
Delisha masih terus memandangi kalung itu, dan kembali menyerahkannya pada Alvin. "Aku akan menerima kalung itu di saat aku sudah bisa mengembalikan uang Dokter."
"Aku kan sudah bilang kalau aku ikhlas, jangan menganggapnya sebagai hutang Sha, kalau kamu tidak mau memakainya kamu bisa menyimpannya."
"Terima kasih banyak Dok." lirih Delisha sambil menunduk dan meneteskan air matanya, hatinya sangat pedih kalau mengingat hidupnya yang sudah berantakan, masuk dalam dunia kotor dan kini telah hamil di luar nikah, hidup seorang diri dan mencari Rupiah sendiri untuk melanjutkan hidupnya dan juga janinnya. Delisha bersyukur masih bisa bertemu orang baik seperti Alvin.
Alvin mengusap punggung Delisha dari samping. "Hidup itu harus di jalani, di nikmati dan di syukuri, bersabarlah semua pasti ada titik terangnya, tidak mungkin kan kalau hari akan malam terus, pasti ada siang dan pesanku padamu jangan jauh-jauh dari Tuhan."
Delisha menoleh menatap Alvin. "Terima kasih Dok, hanya itu yang bisa aku berikan"
Alvin merengkuh tubuh Delisha dari samping. "Ssttt... Sudah jangan sedih lagi kasian si Baby, seharusnya kamu itu bersyukur, Because Baby kamu bisa bebas dari dunia kotor itu, dan sekarang kamu bisa hidup normal layaknya manusia lainnya."
"Aku sudah bersyukur bahkan sangat sangat bersyukur, tapi-" Delisha menjeda kalimatnya. "--Bagaimana jika suatu saat nanti dia menanyakan ayah nya?"
"Aku bersedia menjadi ayahnya."
Delisha menatap Alvin.
Alvin baru sadar dengan kata-katanya barusan dan segera meralatnya. "Emm, maksudku jika dia menanyakan ayahnya, kamu boleh bilang sama dia kalau aku ayahnya, ayah angkatnya."
Delisha terkekeh. "Kenapa jadi salah tingkah begitu Dok?"
Alvin menggaruk tengkuknya. "Udah sore sebaiknya kamu pulang, aku anter jika mau?"
"Tidak usah Dok, aku bisa pula sendiri, tadi kesini juga sendiri. Ya udah aku pulang dulu Dok."
Delisha akhirnya beranjak dari kursi namun tangannya langsung di tahan oleh Alvin. "Aku anter."
"Tidak usah D--"
"--Tidak menerima penolakan!" potong Alvin cepat.
Delisha menghembuskan nafasnya berat dan menuruti kemauan Alvin.
"Kamu tidak berniat untuk pindah ke kontrakan yang lebih luas Sha? ini terlalu sempit." tanya Alvin setelah turun dari mobil dan duduk di kursi teras kontrakan Delisha.
Delisha ikut duduk di kursi terasnya. "Aku kan cuma sendirian Dok, jadi buat apa besar-besar."
"Tapi sebentar lagi ada si Baby Sha."
"Aku masih fokus pada usahaku Dok, jadi belum kepikiran untuk mencari kontrakan yang lebih layak."
"Butuh bantuan modal?"
Delisha mendelik tajam ke arah Alvin.
"Emm. Aku tau kamu tidak mau merepotkan orang lain termasuk diriku, tapi maksudku jika kamu butuh modal untuk memperbesar butik kamu, aku bisa kok pinjami kamu modal, terserah mau balikin kapan." jelas Alvin panjang lebar, dan di angguki oleh Delisha.
'Hening' Mereka sama-sama terdiam beberapa menit hingga Delisha yang angkat bicara. "Sudah malam Dok sebaiknya anda pulang."
Bukannya beranjak dari kursi namun Alvin malah memandangi wajah Delisha. "Semakin hari kamu semakin cantik Sha, apalagi di tambah perut buncitmu ini menambah aura keibuan di wajahmu dan semakin menyempurnakan kecantikanmu"
Dahi Delisha mengkerut dan menatap Alvin. "Dokter lupa minum obat?"
Alvin langsung melempar pandangannya ke sembarang tempat asal tidak bertemu mata Delisha, dia sungguh tidak sadar dengan ucapannya.
"Aku pulang dulu Sha." tidak mau suasana itu berlanjut Alvin memutuskan untuk pulang dari pada salah tingkah di depan Delisha.
*
*
Terima kasih sudah membaca cerita saya🙏
Tidak ada istilah bosan bagi Author untuk mengingatkan kalian untuk meninggalkan jejak, jejaknya gretong loh🤣🤣