
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan dan Delisha menuruni tangga menuju ruang makan untuk sarapan, menyusul Ezra, Aleza dan Delvin yang sudah lebih dulu duduk disana.
Devan menarik kursi untuk istrinya duduk kemudian mengecup pipi anaknya barulah dirinya duduk.
Delisha mulai mengambilkan makanan untuk Devan setelah makanan Devan sudah selesai barulah Delisha mengambil untuk dirinya sendiri.
Ezra memperhatikan setiap gerakan Delisha dan tatapannya tertuju pada mata Delisha yang bengkak dan sembab bahkan masih merah.
Ezra meletakkan sendok dan garpunya kemudian melipat tangan di atas meja, membuat semua yang ada di ruang makan tersebut ikut menghentikan kegiatan mereka.
"Ada apa pih?" tanya Aleza.
Ezra menatap Devan dan Delisha bergantian. "Hari ini kalian akan ke rumah sakit lagi kan? Papi punya solusi buat kalian, dari pada kalian bingung menentukan pilihan, itupun kalau kalian mau kalau tidak juga tidak apa-apa."
"Maksud papi?" tanya Devan.
"Kalau memang Delisha mau mempertahankan rahimnya, apa salahnya kita ikuti dulu kemauany--."
"Devan tidak setuju pih!!" potong Devan.
"Denger dulu!!" Dengus Erza. "Biarkan Delisha mencoba beberapa kali kemoterapi dan kita lihat dulu perkembangannya, kalau tidak ada kemajuan barulah kita mengangkat rahimnya, begitupun sebaliknya kalau kemoterapinya menunjukkan perkembangan dan Delisha kuat menjalaninya kita lanjutkan sampai tuntas."
"Delisha setuju pih."
Mendengar istrinya langsung bersuara membuat Devan memutar tubuhnya menghadap Delisha. "Kamu yakin?"
"Yakin." jawab Delisha mantap.
"Kamu tidak usah merasa tidak enak kepada kami ya Sha." ujar Aleza. "Jika kemoterapi tersebut tidak menunjukkan kemajuan dan rahim kamu harus di angkat, kami ikhlas. Iya kan pih?"
Ezra mengangguk. "Kita kan sudah punya si ganteng." jawab Ezra lalu menatap Delvin yang berada di sampingnya kemudian mengusap rambut bocah gembul itu.
"Okey itu keputusan bersama dan kita akan ke rumah sakit setelah selesai sarapan." ujar Devan.
Mereka melanjutkan sarapan mereka sampai selesai, setelah selesai Ezra berangkat ke kantor, Delvin bersama Aleza, Devan dan Delisha kembali ke kamar untuk bersiap-siap kerumah sakit.
"Ini beneran kita mau kemoterapi dulu?" tanya Devan memastikan dan berharap istrinya akan berubah pikiran.
Delisha meletakkan handphonenya di atas meja rias kemudian berjalan mendekati Devan yang sedang duduk di tepi ranjang. "Kamu nanya itu udah puluhan kali Dev!!" jawab Delisha jengah.
Devan menarik pinggang Delisha hingga duduk di pangkuannya, menempelkan dagunya di bahu Delisha. "Aku hanya tidak tega melihatmu tersiksa karena obat keras itu. Aku juga takut jika pengobatan itu gagal dan aku tidak mau kehilanganmu."
Delisha sedikit memutar tubuhnya lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Devan. "Kan aku sudah bilang kalau aku akan kuat, yang aku butuhkan saat ini adalah dukungan penuh darimu."
"Janji kamu harus kuat!"
Delisha menarik tengkuk Devan lalu mengecup singkat bibirnya. "Janji."
Devan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Delisha lalu sedikit menariknya. "Sekarang aku mau peluk kamu dulu sebelum kita berangkat kerumah sakit. Jangan di lepas sebelum aku yang melepaskannya!!"
Delisha terkekeh. "Dasar manja!" ledeknya.
Devan tidak memperdulikan ledekan istrinya dia malah semakin mengeratkan pelukannya.
*
π΄π΄π΄
*
Devan menuntun Delisha menelusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dokter Aisyah, sebelumnya mereka telah membuat janji terlebih dahulu dan telah menjelaskan keputusan mereka pada Aisyah.
Hari ini adalah jadwalnya Delisha memulai kemoterapi.
"Devan."
Suara Alvin mengehentikan langkah Devan dan Delisha lalu menoleh kebelakang. "Alvin?"
"Oya? Kok kamu sudah disini Vin?" tanya Delisha.
"Kebetulan aku akan kerja di rumah sakit ini tapi tidak hari ini tadi aku hanya mengantarkan beberapa perlengkapannya saja." jawab Alvin kemudian membelokkan langkahnya diikuti Devan dan Delisha.
"Kok kamu tau kalau hari ini jadwal kemoku?" tanya Delisha lagi sembari terus melangkah mengikuti Alvin.
"Tadi Aisyah chat aku." jawab Alvin lalu membuka pintu kaca di depannya. "Ayo masuk." titahnya.
Semua memasuki ruangan tersebut, Delisha bisa melihat Aisyah dan seorang suster yang sedang sibuk mempersiapkan semua alat beserta obatnya.
"Duduk dulu." ujar Alvin.
Devan dan Delisha duduk menunggu Aisyah hingga selesai.
"Silahkan berbaring Sha." ujar Aisyah setelah selesai dengan kegiatannya.
Delisha beranjak dari kursi menuju ranjang rumah sakit kemudian membaringkan tubuhnya disana.
"Siap?" tanya Aisyah.
Delisha mengangguk sebelum menjawab dengan lisan. "Siap dok."
Aisyah terkekeh. "Di bilangin jangan formal begitu!"
Delisha hanya tersenyum menanggapi permintaan Aisyah.
Suster mulai memasang jarum infus di tangan Delisha dan Aisyah memasang yang lainnya.
Alvin beranjak dari kursi menyusul Delisha kemudian mengusap lenganya. "Yang kuat ya Sha, aku tau ini berat tapi aku yakin kamu akan kuat menjalaninya sampai selesai, aku akan terus mendo'akanmu. Jika kamu merasa lelah dan ingin menyerah ingatlah orang-orang yang kamu sayangi terutama Delvin, berjuanglah demi Delvin dia masih sangat membutuhkanmu." ujar Alvin dan di angguki oleh Delisha.
Alvin kembali ke kursi. "Kita tunggu diluar aja Dev."
"Okey." jawab Devan lalu beranjak dari kursi menuju ranjang dimana istrinya sedang berbaring disana. "Aku tunggu diluar bersama Alvin ya? Kalau butuh sesuatu bilang aja sama suster, aku diluar tidak kemana-mana."
Delisha mengangguk lalu Devan mengusap puncak kepala Delisha kemudian keluar dari ruangan tersebut.
Aisyah telah selesai lalu menarik kursi di sebelah ranjang Delisha kemudian mendudukinya. "Dari jarak sedekat ini ternyata kamu lebih cantik ya Sha, pantesan dulu Alvin sangat mencintai kamu."
"Dokter berlebihan. Oya dok bagaimana hubungan dokter dengan Alvin?"
Aisyah tersenyum tipis sebelum menjawab pertanyaan dari Delisha. "Aku dan Alvin memang dekat tapi kedekatan kami hanya sebatas teman atau bisa di bilang kakak adik, memang om Reza menginginkan kami menikah karena om Reza sudah menganggap aku seperti anaknya. Orang tua kita memang dekat dan kebetulan profesi kita sama jadi kalau ngobrol pasti nyambung dan asal kamu tau sekarang aku sudah bertunangan dengan pria lain, kita tinggal menunggu hari pernikahan kami."
"Oya? Selamat ya dok"
Aisyah mengangguk. "Awal bertemu dengan suamimu dimana?" tanya Aisyah.
Delisha memejamkan matanya sesaat untuk merangkai memori dalam ingatannya. "Aku bertemu dengan Devan saat aku masih bekerja di tempat kotor itu dan itulah sebabnya aku sekarang terkena penyakit ini dok."
"Alvin pernah cerita tentang dirimu dan tentang pekerjaanmu yang dulu tapi aku tidak tau kalau kamu bertemu dengan suamimu disitu, berarti dulu suamimu?"
"Begitulah dok." jawab Delisha.
"Kisah cinta kalian lain daripada yang lain ya? Dan sepertinya kamu juga lebih dewasa di banding umur kamu."
"Karena takdir Tuhan yang membuat aku mau tidak mau harus berubah menjadi dewasa sebelum waktunya." jawab Delisha. "Dulu aku manja loh dok."
"Oh ya?" tanya Aisyah seakan tidak percaya.
"Iya." jawab Delisha. "Devan juga tau seperti apa aku yang dulu."
"Bisa kamu ceritakan kisah cintamu bersama suamimu? Aku sangat tertarik." pinta Aisyah.
*
*
Ini hanya sekedar cerita tolong jangan terlalu terbawa suasana.
Masa iya cerita di suruh bahagia terus? Padahal dalam kehidupan nyata aja pasti ada lika-likunya.
Dimana seni nya kalau cerita hanya lurus-lurus aja???
Bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari sebuah cerita kalau ceritanya bahagia terus. π€π€π€