Because Baby

Because Baby
Part 23



*


*


🌴🌴🌴


Setelah kepulangan Alvin tadi, Delisha duduk di kursi ruang makan, kedua tangannya mencengkram rambutnya frustasi.


Delisha sedang memikirkan keputusan yang di ambilnya tadi, menikah dengan Alvin.


Delisha sebenarnya belum siap, namun Delisha sudah tidak bisa lagi menolak lamaran Alvin karena Delisha sudah menolaknya berkali-kali dengan alasan belum siap karena Papa Alvin belum bisa menerima dirinya, tapi kali ini Alvin sudah mengambil keputusan kalau dia mau nekat menikah tanpa restu Papanya. Delisha benar-benar tidak bisa menolaknya lagi.


Seandainya di tanya 'sayang' atau tidak pada Alvin, Delisha pasti akan menjawab 'sayang'


Delisha memang sayang pada Alvin, siapa yang tidak akan menyayangi pria seperti Alvin, seorang Dokter tampan, mapan, baik hati pula.


Apalagi Alvin dengan sukarela mau menerima dirinya dan juga Delvin.


Tapi seandainya di tanya 'cinta' Delisha belum bisa menjawabnya.


"Delimaaaa.."


Teriakan Devan membuyarkan lamunan Delisha. Delisha hanya memutar bola matanya malas.


Seperti biasa Devan langsung mengelilingi rumah Delisha mencari keberadaan Delisha.


"Delima, ternyata kamu disini?" ujar Devan setelah menemukan Delisha.


Delisha menoleh. "Kok kamu bisa masuk?"


Devan berjalan ke arah Delisha. "Pintunya kebuka."


Delisha menepuk jidatnya, dirinya lupa menutup pintu saat kepulangan Alvin tadi.


"Kamu mau ngapain kesin---." ucapan Delisha terpotong saat merasa tubuhnya melayang tinggi.


Devan mengangkat tubuh Delisha lalu berputar-putar.


"Devan! Hentikan!!! Turunkan aku! Aku bisa jatuh!!" teriak Delisha kencang.


Devan tidak bergeming dia terus berputar-putar hingga 'Dukk'


Kaki Delisha terbentur pintu. "Devan sakitt!!!"


Devan berhenti berputar lalu membawa Delisha duduk di sofa. "Maafin aku Delima, aku terlalu bahagia."


Devan memangku kaki Delisha lalu memeriksanya, ternyata tidak apa-apa hanya memar sedikit lalu Devan mengusapnya lembut.


"Bahagia kenapa Dev?"


Devan meletakkan kaki Delisha lalu mengambil kertas di dalam saku bagian dalam jaketnya. "Kamu tau ini kertas apa?"


Delisha mengedikkan bahu.


Devan memeluk erat tubuh Delisha lalu menghujani wajah Delisha dengan kecupan.


Delisha langsung memalingkan wajahnya. "Devan. Hentikan!!! Yang sopan kamu! Kita tidak ada hubungan apa-apa kamu tidak bisa menciumku seenaknya."


Devan meletakkan kertas tadi di sebelahnya lalu menangkup wajah Delisha dengan kedua tangannya. "Siapa bilang kita tidak ada hubungan apa-apa?"


Delisha mengernyit. "Maksud kamu apa Dev?"


Devan menempelkan dahi mereka. "Delvin adalah anak kita Delima." bisik Devan tepat di depan wajah Delisha.


"Kamu jangan bercanda Dev!"


Devan melepas Delisha lalu mengambil kertas tadi serta membukanya. "Lihat ini Delima!"


Delisha merebut kertas itu lalu menelitinya baik-baik setiap huruf yang tercetak di kertas itu.


Delisha menutup mulutnya dengan tangannya sendiri air matanya mengalir deras. Akhirnya dia bisa mengetahui siapa ayah Delvin.


Devan menghapus air matanya Delisha dengan ibu jarinya. "Sstttt... Hei, jangan nangis, kamu tidak senang kalau ternyata Ayah biologisnya Delvin adalah aku?"


Delisha menggeleng dan air matanya terus mengalir, Delisha belum bisa berkata apa-apa, ini sangat mengejutkan bagi Delisha.


Devan menarik tubuh Delisha lalu memeluknya serta mengusap punggungnya.


Delisha melepas pelukan Devan. "Bagaimana bisa kamu adalah Ayah biologisnya Delvin?"


Devan menatap dalam Delisha. "Kenapa tidak bisa? Kita sering melakukannya."


Delisha memalingkan wajahnya. "Bukan kah kamu selalu memakai pengaman?"


"Kamu ingat, waktu aku baru pulang dari luar kota?" tanya Devan.


"Waktu itu aku lupa pakai pengaman Delima."


Delisha menatap Devan. "Benarkah?"


"Itu benar, aku sudah mengingatnya, waktu itu aku benar-benar lupa memakai pengaman karena aku terlalu merindukanmu Delima." ujar Devan.


Delisha menatap lekat-lekat wajah Devan, mulai dari mata, hidung, bibir dan semuanya.


Devan mengernyit. "Kenapa kamu menatapku seperti itu Delima?"


"Selama ini aku tidak pernah memperhatikan wajahmu dan wajah Delvin."


Devan mencondongkan tubuhnya. "Mirip kan?"


Delisha mendengkus.


Devan meraih kedua bahu Delisha. "Mirip kan?" tanya Devan lagi.


"Iya." ujar Delisha pasrah.


"Mulai saat ini aku akan sering kesini untuk menemui anakku." ujar Devan.


"Jangan sering-sering Devan!"


Devan mengernyit. "Kenapa?"


"Karena-."


"Bundaaaa..." teriak Delvin sambil menangis, karena saat dia membuka mata ternyata Bundanya tidak ada disisinya.


Delisha dan Devan segera mendekati bocah gembul itu.


Delvin berhambur ke pelukan Bundanya, sedangkan Devan hanya mendesah kecewa karena Delvin tidak melirik dirinya sama sekali.


Delisha membawa Delvin ke sofa lalu memangkunya. "Delvin mau susu?"


Delvin mengangguk.


"Bunda mau ke dapur buat menghangatkan susu Delvin, sekarang Delvin ikut Om dulu y--."


"Jangan Om Delima!" potong Devan cepat.


Delisha menyatukan alisnya. "Terus siapa?"


Devan merentangkan kedua tangannya hendak menggendong Delvin. "Sayang, ini Daddy nya Delvin. Delvin ikut Daddy ya?"


Delisha menyemburkan tawanya. "Mana ada Bunda sama Daddy? Yang ada Bunda sama Ayah."


"Tapi aku lebih suka di panggil Daddy, lebih keren. Kamu yang harus ganti Bunda dengan Mommy!"


"Kenapa jadi kamu yang ngatur-ngatur!!" dengus Delisha.


"Bundaa, mimik cucu." rengek Delvin.


"Makanya Delvin ikut Daddy dulu, Bunda buatin susu sebentar."


Delvin menatap Devan sesaat seperti menimang antara mau atau tidak.


Devan tidak mau memberi kesempatan Delvin berfikir lebih lama lagi. Devan langsung mengangkat tubuh Delvin lalu membopongnya. "Kita nunggu Mommy buatin susu buat Delvin sambil jalan-jalan di luar ya?"


Delvin menatap Devan dengan tatapan bingung.


Devan terkekeh. "Kita ngomong di luar aja yuk." bisik Devan di telinga Delvin.


Delvin menurut lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Devan.


Devan mendudukkan Delvin di kursi halaman rumah Delisha lalu dirinya berjongkok di depan Delvin. "Delvin, mulai sekarang jangan panggil Bunda ya! Panggilnya Mommy. Okay."


Delvin masih diam, dia belum mengerti apa yang dikatakan Devan.


Devan tersenyum lalu menciumi wajah Delvin bertubi-tubi hingga membuat Delvin terkikik geli karena bulu halus kumis dan jambang Devan mulai tumbuh.


Delisha sudah selesai membuat susu, namun dirinya hanya diam mematung di teras rumahnya saat melihat Devan dan Delvin bercengkrama, rasa hangat mengalir dalam aliran darahnya, pemandangan yang baru sekali ini dilihatnya, Delvin bersama Ayah kandungnya, perlahan senyum Delisha merekah, namun detik berikutnya senyumnya layu saat dirinya teringat dengan Alvin.


"Bagaimana dengan Alvin?" gumam Delisha.


*


*


Delisha bakal galau tingkat dewa ini mah πŸ˜…πŸ˜…πŸ˜