
*
*
π΄π΄π΄
Alvin masih rutin mengantar susu buat Delvin setiap pagi. Alvin sudah tidak bekerja lagi dia sudah mengundurkan diri, mungkin ini hari-hari terakhir Alvin di kota ini sebelum dia berangkat keluar kota untuk mencari pengalaman baru. Lebih tepatnya mengobati luka hatinya.
"Ayaah.." teriak Delvin ketika melihat kedatangan Alvin lalu bocah gembul itu berlari ke arah Alvin.
Alvin membungkuk sembari merentangkan kedua tangannya untuk menangkap Delvin. "Jangan lari-lari dong Vin, nanti kalau jatuh gimana?"
"Kan ada Ayah, Dokternya Apin." jawab Delvin dengan polosnya.
Jawaban Delvin membuat Alvin tersenyum kecut, dirinya bukan seorang Dokter lagi. Alvin mengangkat tubuh Delvin lalu menggendongnya menuju sofa. "Delvin nanti ikut Ayah ya?"
"Kemana Vin?" tanya Delisha sembari menutup pintu kamarnya, Delisha sudah selesai dengan rutinitas paginya di rumah waktunya berangkat ke butik.
Alvin duduk di sofa lalu memangku Delvin. "Ke kantor Devan."
Delisha mengernyit. "Ngapain ke kantor Devan? Dan kamu kok nggak kerja?"
"Aku sudah tidak kerja." jawab Alvin lalu mencium pipi Delvin.
"KENAPA??" tanya Delisha heboh.
"Aku sudah mengundurkan diri dan sekarang tinggal menunggu Devan mendepakku dari kota ini."
Delisha mempercepat langkahnya menuju sofa lalu duduk di seberang Alvin. "Kamu ngomong apa tadi?" tanya Delisha dengan wajah bingungnya.
Alvin terkekeh. "Bercanda Sha, aku akan pergi keluar kota seperti Devan dulu."
"Ini gara-gara masalah kita ya?" tanya Delisha hati-hati.
Alvin menatap Delisha. "Bukan. Aku memang ingin berpetualang mencari pengalaman baru, tidak hanya berpengalaman sebagai Dokter saja."
Delisha menunduk. "Maaf ya Vin aku sudah menyakiti hati kamu."
"Jangan minta maaf terus Sha! Sungguh aku tidak apa-apa. Oya, kalian kapan nikahnya?" tanya Alvin untuk mengalihkan pembicaraan.
"Nunggu Papinya Devan pulang dulu."
Alvin manggut-manggut. "Oh, sebentar lagi paling kurang dari dua minggu sudah pulang."
Dahi Delisha berkerut. "Kok kamu tau?"
"Taulah, karena Om Ezra sering menghubungi Papa dan kebetulan waktu mereka ngobrol lewat telepon aku mendengarnya."
"Oh."
"Boleh kan aku ajak Delvin ke kantor Devan?"
"Okey."
Delisha berangkat ke butik sedangkan Alvin dan Delvin masih di rumah, mereka menunggu waktu agak siang karena saat ini Devan sedang meeting bersama karyawannya takutnya nanti kelamaan disana.
*
*
π΄π΄π΄
Devan sedang keluar dari ruang meeting masih dengan emosi, dia habis memarahi karyawannya karena semua tak berjalan sesuai dengan rencananya.
"Daddy." Delvin melepas genggaman tangan Alvin lalu lari ke arah Daddy-nya.
Devan menoleh ke arah sumber suara lalu matanya membulat sempurna saat melihat siapa yang memanggilnya. "Delvin?" Senyum Devan langsung terbit dan melebar, emosinya menguap begitu saja. Devan berjongkok untuk menangkap Delvin yang lari ke arahnya lalu menciuminya bertubi-tubi serta mengusapkan dagunya ke pipi Delvin membuat Delvin terkikik karena kegelian.
Leo melihat interaksi antara atasannya dan anak kecil itu dengan dahi berkerut. "Apa Tuan Devano sudah menikah lagi? Tapi kapan? Sekitar tiga tahun lalu dia masih mencari wanita bernama Delima." pertanyaan-pertanyaan Leo dalam hati.
Ada beberapa karyawan yang melihat itupun juga bingung seperti Leo. Keluarga Ezra Anggada memang tidak pernah mengumbar kehidupan pribadi mereka di kantor, bahkan dulu saat Devan menikah hanya pihak keluarga yang menghadiri.
Ada dua karyawan wanita yang kebetulan lewat, yang satu memakai blazer warna hitam dan yang satu memakai kemeja putih. "Itu yang sedang tersenyum lebar beneran pak Devano? Bos kita yang sedingin kutup utara bisa tersenyum hangat seperti itu?" tanya wanita berkemeja putih sembari menyenggol lengan temannya.
Wanita yang memakai blazer hitam membuka mulutnya lebar-lebar. "OMG pak Devan ganteng banget kalau sedang tersenyum lebar seperti itu, hatiku meleleh, aku juga mau jadi anak kecil itu deh di peluk-peluk dan di cium-cium cowok ganteng."
Wanita berkemeja putih memasang wajah jijiknya saat menanggapi ucapan temannya. "Aku kerja disini sudah dua tahun dan bisa melihat pak Devan tersenyum tipis aja bisa di hitung dengan jari, ini malah tersenyum lebar?" ujar wanita berkemeja putih seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Eh, siapa anak kecil itu ya?" tanya wanita yang memakai blazer hitam dengan heboh. "Apa pak Devan sudah menikah?" lanjutnya.
"Mungkin, lihat deh mereka mirip loh." sahut wanita berkemeja putih.
"Ehemm." deheman Leo mengangetkan keduanya. "Apa kalian tidak ada kerjaan?"
Keduanya langsung menunduk. "Maaf pak kami permisi." ujar wanita berkemeja putih lalu menarik lengan temannya.
Devan, Delvin dan Alvin segera masuk ruang kerja Devan dan di ikuti Leo setelah menegur kedua wanita tadi.
Devan duduk di sofa beserta Delvin di pangkuannya. "Maksud lo apaan ngajak anak kecil ke kantor?" tanya Devan pada Alvin.
"Gue kan sudah nggak ada kerjaan jadi gue ngajak Delvin buat nemenin gue." jawab Alvin sembari ikut duduk di sofa.
"Lo berangkat lusa bersama Leo."
*
*
Bahasa Author tuh mudah di mengerti nggak sih menurut kalian?? Kasih saran dongπ
Sebenarnya aku tuh bukan Author, hanya suka mengkhayal aja, sayangkan kalau khayalanku cuma buat aku pribadi jadi aku ketik deh di Mangatoon agar kalian bisa menikmati khayalanku juga.ππ