
*
*
π΄π΄π΄
*
Flashback
Delisha memasuki ruang tindakan yang berada di sebelah unit apartemen milik Jericho.
Jericho membaringkan tubuh Delisha di ranjang kemudian di susul beberapa orang perawat dan seorang dokter muda, setelah membaringkan tubuh Delisha Jericho melangkah menuju pintu keluar.
"Aku mau kamu membuang bayi itu!!" ujar Jericho pada sang dokter sebelum sampai di pintu.
"Loh. Kenapa jadi aborsi?! Tadi kamu bilang kalau calon istri kamu sedang sakit?!"
"Turuti saja perintah ku!!!"
"Enggak!!!"
Delisha masih bisa mendengar percakapan mereka karena posisi mereka tidak jauh dari Delisha, Delisha bisa menyimpulkan bahwa sang dokter adalah temannya Jericho.
Mendengar penolakan dari sang dokter membuat Delisha bisa sedikit bernapas lega, setidaknya ia memiliki harapan untuk mempertahankan bayinya.
Seorang dokter pasti sudah di sumpah dan Delisha yakin bahwa sang dokter pasti tidak akan mau melakukan aborsi begitu saja tanpa alasan yang kuat.
Setelah perdebatan panjang akhirnya Jericho keluar dari ruangan tersebut dan sang dokter melangkah mendekati ranjang Delisha. "Maaf, terpaksa saya harus melakukannya." ucapnya lesu.
Delisha menatap iba pada sang dokter, mungkin Jericho telah mengancam sang dokter. "Dok... tolong jangan lakukan! Aku mohon."
"Tapi kalau saya tidak melakukannya maka nyawa anak dan istri saya yang terancam."
Delisha beringsut duduk. "Kita bisa berpura-pura dok."
"Maksud anda?" tanya sang dokter bingung.
"Dokter bisa bilang kalau dokter sudah menjalankan perintah Jericho, dan begitu pun denganku, aku akan berpura-pura lemah seolah habis aborsi."
"Tapi bagaimana dengan kedepannya, wanita hamil tidak bisa di sembunyikan semakin lama perutnya akan semakin membesar."
"Dokter tidak perlu khawatir tentang itu, biar itu menjadi urusanku."
"Maaf, saya tidak berani. Kalau sampai ketahuan Jericho maka anak dan istri saya taruhannya."
"Sebentar lagi pasti ada seseorang yang akan membebaskan aku dari sini dok. jadi sebelum rahasia kita terbongkar kita sudah aman."
"Apa anda bisa di percaya?!"
"Sangat bisa. Atau anda mau jika ketahuan telah menggugurkan kandungan seorang wanita dan anda tidak akan mendapatkan pekerjaan selamanya?!"
"Saya tidak mau, saya masih ingin menghidupi anak dan istri saya."
"Kalau begitu kita deal kerja sama?!" ujar Delisha sembari mengulurkan tangannya.
Dokter menerima uluran tangan Delisha. "Deal."
Flashback end
*
π΄π΄π΄
*
Sudah tiga bulan Devan koma dan sudah tiga bulan pula Delisha tidak pulang ke rumah, ia akan pulang jika ia sudah sangat merindukan anaknya itupun hanya sebentar saja di rumah setelah itu ia akan kembali lagi ke rumah sakit.
Sesekali Delisha akan video call pada anaknya di sebelah Devan dan di saat anaknya memanggil ayahnya, Devan selalu merespon dengan mengeluarkan air matanya.
Delisha duduk di kursi sebelah ranjang Devan, ia menatap wajah Devan, pria yang selalu melindunginya, menyayanginya serta memanjakannya.
Delisha beralih mengusap lembut pipi Devan. "Kamu nggak kangen sama Delvin? Dia nanyain kamu terus, aku sampe bingung jawabnya, bantuin aku jawab Dev!"
Delisha kembali menumpahkan air matanya, ia tidak tahu lagi dengan cara apa membangunkan Devan dari tidur panjangnya.
Delisha menyeka air matanya kemudian mengelus perutnya yang sudah membuncit, bahkan janin itu sudah mulai bergerak aktif di dalam rahimnya dan di saat janin itu bergerak, Delisha mengangkat tangan Devan kemudian membawanya untuk menyentuh perutnya. "Perut aku sudah gendut Dev, bangun! Katanya kamu pengen lihat perut aku yang gendut. Apa kamu mau melewatkan masa ini lagi?!"
Air mata Delisha kembali mengalir di pipinya. "Bangun Dev! Bangun!" pintanya di sertai isak tangis.
Delisha berhenti menangis saat merasakan gerakan di perutnya, ia menatap perutnya untuk memastikan yang bergerak janinnya atau tangan Devan. Dan detik itu juga Delisha di buat terkejut sekaligus bahagia ternyata yang bergerak adalah tangan Devan.
Delisha menatap Devan yang mulai membuka matanya perlahan. "Kamu sudah sadar Dev? Aku panggil dokter ya?"
Devan menahan tangan Delisha yang masih menggenggam tangannya. "Kamu siapa?" tanya Devan.
'DEG' tubuh Delisha langsung membeku, tiga bulan koma membuat Devan tidak mengenali dirinya? Padahal tidak ada yang berubah dari dirinya selain perutnya yang kian membuncit, itupun karena ulah Devan.
Baru saja ia merasa bahagia karena Devan telah bangun dari tidur panjangnya namun ternyata ia harus menelan pil pahit lagi karena Devan tidak mengingat dirinya, mungkin pukulan di kepalanya membuat Devan amnesia.
"Kamu nggak inget aku Dev?" tanya Delisha di sertai mengalirnya air mata lagi, entah sudah berapa banyak air mata yang sudah di keluarkan Delisha untuk menangisi Devan.
Devan menggerakkan jari telunjuknya, mengisyaratkan pada Delisha untuk mendekat padanya.
Delisha mendekatkan telinganya di bibir Devan, mungkin Devan ingin membisikkan sesuatu kalau untuk berbicara lantang mungkin ia belum mampu.
'CUP' Devan tidak membisikkan apapun pada Delisha, ia malah mencium pipi Delisha.
"DEVAN!!! Kamu ngerjain aku ya?! Tadi pura-pura tidak mengenali aku?!"
Devan hanya tersenyum tipis membenarkan tebakan Delisha.
Delisha kembali membungkuk kemudian ia meratakan kecupannya di seluruh wajah Devan, ia terlalu bahagia.
Tangan kiri Devan terangkat untuk memeluk Delisha, Delisha menghentikan kecupannya kemudian menatap Devan. "Kamu tidurnya kelamaan tahu nggak?!!!" ucap Delisha sembari mengerucutkan bibirnya.
Devan menatap Delisha, sebenarnya ia gemas dengan bibir Delisha yang lucu dan ia juga tidak tahan ingin mencium bibir yang mengerucut lucu itu, namun ia belum bisa melakukannya, dirinya belum bisa banyak bergerak.
Delisha menegakkan tubuhnya kemudian membawa tangan Devan untuk menyentuh perutnya. "Perut aku udah gendut Dev."
Devan kembali tersenyum dan kali ini lebih lebar, ingin rasanya ia mencium perut gendut istrinya namun ia belum bisa melakukannya ia harus bersabar ia harus menunggu sampai kondisinya membaik.
Devan menjauhkan tanganya dari perut Delisha, ia menggerakkan jari telunjuknya lagi, mengisyaratkan supaya Delisha mendekat padanya lagi.
Delisha mendekatkan telinganya di bibir Devan. "I love you mommy." bisik Devan.
Delisha tersenyum. "I love you too daddy." balas Delisha juga berbisik kemudian mengecup singkat dan pelan bibir Devan.
*
END
*
*
Ini end beneran loh nggak bercanda π π π
Kisah sepasang anak manusia yang penuh dosa telah selesai.
Terima kasih buat semua yang telah mengikuti cerita ini sampai akhir, maaf apabila banyak kesalahan dan maaf juga kadang Authornya baperran. πππ
Author manusia biasa yang pastinya banyak kesalahan dan banyak kekurangan, harap di maklumi, ini hanyalah sebuah cerita khayalan pengarangnya semata.
Ada beberapa hikmah yang bisa kalian ambil dari cerita ini, ambil yang positifnya aja yang negatif hempaskan!!
*****
Di tunggu extra part nya ya okay πππ