
*
*
Mereka akhirnya duduk dengan tenang untuk memperjelas keadaan.
Delisha duduk di ujung sofa, Devan duduk di ujung satunya lagi, Delisha masih menjaga jarak takutnya Devan akan menerjang dirinya lagi.
Aleza duduk bersama Delvin berseberangan dengan Devan dan Delisha.
Aleza menatap Devan dan Delisha bergantian. "Kalian saling kenal?"
"Mami kenal Delima?"
"Tante kenal Devan?"
Devan dan Delisha tidak menjawab pertanyaan dari Aleza, namun mereka malah kompak mengajukan pertanyaan yang sama, bersamaan pula.
Aleza menghembuskan nafasnya berat. "Kalian jawab dulu pertanyaanku tadi!"
Devan dan Delisha kembali kompak mengangguk.
"Tante kenal Devan?" Tanya Delisha.
Aleza terkekeh. "Sebelum Devan mengenal dirinya sendiri tante lebih dulu mengenalnya."
Delisha mengernyit. "Maksud tante?"
"Dia Mamiku, kamu kenal Mami?" sahut Devan.
Delisha menatap Aleza dan Devan bergantian. "Kenapa dunia ini sempit sekali?" batin Delisha.
"Aku kenal tante Leza di kenalin Alvin." Jawab Delisha.
Devan terkejut dan hampir lompat dari tempatnya. "Kamu kenal Alvin?"
Delisha mengangguk.
"Jadi yang di maksud Alvin 'Delisha' itu kamu Delima?" Tanya Devan.
"Kamu kenal Alvin?" Delisha tidak menjawab pertanyaan Devan namun malah balik bertanya.
"Alvin dan Devan bersahabat." sahut Aleza.
Delisha kembali terkejut lalu menutup mulutnya dengan telapak tangannya sendiri. "Dunia ini benar-benar sempit." batin Delisha.
Devan mendekati Delisha. "Jawab aku Delima! Delisha itu kamu?"
Delisha mengangguk. "Namaku memang Delisha."
Devan melebarkan matanya. "Kenapa bisa? Jadi wanita yang aku cari selama ini bersama Alvin?" batin Devan. "Arrghhhh.." Devan mengacak rambutnya sendiri.
Delisha sampai berjengkit kaget. "Emm, tante tolong bawa Delvin jalan-jalan sebentar ya. Ada yang mau aku bicarakan sama Devan."
Aleza menatap Devan dan Delisha bergantian. Lalu menatap Delvin kemudian senyumnya mengembang. "Jangan-jangan?" batin Aleza.
"Dengar nggak sih Mih?" tegur Devan, karena Maminya tidak beranjak dari tempatnya malah senyum-senyum sendiri.
"Devan!! Yang sopan sama orang tua." tegur Delisha terhadap Devan.
Aleza segera mengangkat tubuh gembul Delvin. "Delvin jalan-jalan sama Oma dulu ya?"
Delvin mengalungkan kedua tangannya di leher Aleza. "Nanti beli esklim ya Oma?" Ujar Delvin dengan suara cadelnya.
"Iyaaa." jawab Aleza sembari berjalan meninggalkan Devan dan Delisha.
Delisha langsung melotot tajam. "Jangan dekat-dekat Devan! Aku bukan wanita malam lagi."
Devan mengerucutkan bibirnya. "Tapi aku sangat merindukanmu Delima."
Sebenarnya Delisha ingin sekali mengecup bibir Devan yang mengerucut lucu itu, seperti dulu namun Delisha menahannya. "Namaku bukan Delima, namaku Delisha, jadi tolong jangan panggil aku dengan nama itu lagi!"
"Bagiku kamu adalah Delimaku, Delima yang selalu membangkitkan gairahku sampai menggebu-gebu, Delima yang selalu bisa membuatku melayang tinggi hingga aku bisa melupakan segalanya." Ujar Devan.
"Tapi aku tidak akan melayanimu seperti dulu lagi!" sahut Delisha.
Devan beranjak dari sofa serta berjalan hingga di depan Delisha lalu mencondongkan tubuhnya. "Aku tidak akan meminta kamu melayaniku sebagai pelangganmu, tapi aku akan meminta kamu melayaniku sebagai suami."
"Tidak bisa!" jawab Delisha cepat.
Devan mengernyit. "Kenapa?"
"Aku sudah punya Delvin."
Bertemu dengan Delima membuat Devan hampir melupakan Delvin. "Delvin? Dia?"
Delisha mengangguk. "Iya, Delvin anakku."
"Kamu sudah menikah?"
Delisha menggeleng.
"Terus Delvin? Siapa ayah Delvin?"
Delisha menggeleng lalu menunduk di sertai mengalirnya air mata, Delisha jadi teringat kembali pertanyaan itu. 'Siapa ayah Delvin'
Devan mengangkat dagu Delisha dengan jari telunjuk serta ibu jarinya. "Hei, kenapa menangis?"
"Aku tidak tau siapa ayahnya Delvin." jawab Delisha dengan suara pelan bahkan hampir tidak terdengar.
Devan menghapus air mata Delisha dengan ibu jarinya. "Aku bersedia menerima Delvin seperti anakku sendiri."
Delisha kembali menggeleng. "Bukan hanya Delvin."
Satu alis Devan terangkat. "Terus?"
"Alvino Bimantara." jawab Delisha.
Devan juga hampir melupakan Alvin sahabatnya. "kenapa semua jadi rumit begini?" batin Devan.
Devan berjongkok di depan Delisha. "Aku akan cari cara."
"Aku tidak mau menyakiti hati Alvin." sahut Delisha.
*
*
Maaf ya, author tidak mempertemukan Devan dan Delisha di tempat yang romantis. itu karena Devan selalu lupa tempat jika bersama Delimanya. Tidak lucu kan kalau tiba-tiba Devan akan menerjang Delisha di tempat umum.
*
*
Bagaimana nasib Dokter Alvino Bimantara??
Kita main kucing-kucingan dulu asik kali ya🤣🤣🤣