
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan dan Delisha telah sampai rumah dan saat ini mereka sedang di kamar untuk beristirahat, namun sebelum kantuk menyerang mereka menyempatkan diri untuk ngobrol membahas yang terjadi di pesta pernikahannya Aisyah.
Devan duduk berselonjor serta bersandar di kepala ranjang dan Delisha dalam dekapannya, mendekapnya erat seakan takut kalau Delisha akan pergi meninggalkannya.
"Jangan kenceng-kenceng Dev!" protes Delisha.
Devan terkekeh. "Aku tuh gemes sama kamu." elaknya lalu mendaratkan satu kecupan di kening Delisha.
"Kalau aku nggak bisa nafas gimana?"
"Aku yang akan kasih nafas buatan buat kamu." jawab Devan lalu melonggarkan pelukannya. "Katanya mau cerita yang tadi."
Delisha bergerak mencari posisi ternyaman, setelah menemukan posisi yang pas ia mendongak untuk mengecup pipi Devan lalu kembali ke posisi semula dan mulai bercerita.
Flashback
Delisha memasuki toilet wanita, setelah selesai dengan urusannya ia melangkah ke arah wastafel untuk bercermin kemudian ia merapikan penampilan, setelah dirasa sudah rapi semua Delisha memutar tubuhnya lalu melangkah kembali untuk menyusul Devan.
"Delima.."
Langkah Delisha terhenti saat ada pria lain selain Devan menyebut nama itu, ia memang sudah lama tidak mendengar suara itu namun ia masih ingat dengan jelas siapa pemilik suara itu.
Delisha mencoba melanjutkan langkahnya, berusaha untuk berpura-pura tidak mengenali pria itu, namun pria itu malah memeluknya dari belakang.
Delisha berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dekapan pria itu. "Lepas!!! Anda siapa? Aku tidak mengenal anda?!!"
Pria itu tidak melepaskan Delisha ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada Delisha." Kamu kemana aja Delima? Aku mencarimu."
"Aku bukan Delima!!!"
Pria itu melepas pelukannya lalu memutar tubuh Delisha, ia meneliti wajah dan bentuk tubuh Delisha dari bawah ke atas. "Kamu Delima."
"Aku bukan Delima!!! Anda salah orang!!"
"Kamu Delima aku tidak mungkin salah orang, wajahmu dan suaramu tidak bisa membohongi aku."
"Bentuk tubuhku?!" tantang Delisha, ia tahu kalau bentuk tubuhnya berbeda dengan yang dulu.
Pria itu kembali mengamati tubuh Delisha dari bawah ke atas. "Kamu lebih kurusan." jawab pria itu. "Tapi siapa tau kamu memang agak kurusan karena diet mungkin."
"Maaf, saya tidak punya waktu, suami saya sudah menunggu."
Pria itu mencekal lengan Delisha lalu menariknya ke dalam pelukannya lagi, tangan kanannya untuk memeluk erat tubuh Delisha dan tangan kirinya mencengkram tengkuk Delisha lalu mendaratkan bibirnya di atas bibir Delisha serta menghisapnya sesaat. "Kamu tidak bisa membohongi aku Delima." ucapnya setelah menjauhkan bibirnya.
Delisha memalingkan wajahnya. "Cuih..!!" ia meludah lalu menginjak kasar kaki pria itu.
Refleks pria itu melepas pelukannya dan Delisha menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari pria itu.
Flashback end
Devan mengepalkan tangannya, mendengar cerita dari Delisha membuatnya emosi. "Jadi dia sempat nyium kamu?!"
Delisha mengangguk samar ia takut jika Devan akan terbawa emosi.
"BRENGSEKK!!" umpat Devan. "Awas kalau ketemu aku akan merobek bibirnya!!"
"Dev.. sudah jangan di pikirkan, semoga kita tidak bertemu dengan dia lagi."
Devan beranjak dari ranjang lalu mengangkat tubuh Delisha.
"Mau kemana Dev? Aku bisa jalan sendiri."
Devan tidak mempedulikan pertanyaan dari Delisha, ia terus melanjutkan langkahnya sampai di wastafel lalu menurunkan Delisha disana. "Nunduk!" titahnya sembari menyalakan kran.
Delisha mengikuti perintah Devan, kemudian Devan mulai membersihkan wajah dan bibir Delisha.
Delisha mengangkat kepalanya. "Aku tadi udah cuci muka Dev."
"Belum bersih, aku nggak mau bekas dia ada di bibirmu."
"Buka mulutnya!!"
"Aku tadi udah gosok gigi."
"Di ulang lagi!!"
Delisha akhirnya membuka mulutnya dan Devan menyalakan sikat gigi elektrik lalu mulai menyikati gigi Delisha.
"Sekarang kumur-kumur!!"
Delisha masih menuruti perintah Devan.
Setelah selesai, Devan kembali mengangkat tubuh Delisha. "Lebay!!" dengus Delisha.
"Aku udah bilang kalau aku tidak mau ada bekas dia!!"
Devan menurunkan tubuh Delisha di atas kasur. "Masih ada satu lagi untuk menghilangkan bekas dia."
Delisha terbelalak kaget, setelah apa yang sudah di lakukan Devan tadi ternyata masih belum bersih juga. "Kurang apa lagi?" tanyanya malas.
Devan menaiki ranjang lalu memposisikan tubuhnya di atas tubuh Delisha dengan lutut dan siku sebagai tumpuan karena ia tidak mau Delisha menahan bobot tubuhnya.
"Ka--kamu mau ngapain Dev?"
"Menghilangkan bekas dia." jawab Devan kemudian memagut bibir Delisha seolah sedang membersihkan sisa minuman yang menempel di sekitar bibir Delisha.
"Dasar modus!!" ucap Delisha setelah Devan melepas pagutannya lalu keduanya terkekeh.
*
π΄π΄π΄
*
Sudah beberapa bulan ini Delisha menjalani pengobatan, Devan dan Delisha memang sepakat untuk meneruskan kemoterapi karena hasilnya menunjukkan peningkatan dan Delisha juga kuat menjalaninya.
Keluar masuk rumah sakit? Itu pasti.
Keluar biaya banyak? Itu juga pasti.
Dan menguras banyak waktu dan tenaga.
Sampai saat ini Delisha masih semangat menjalani rangkaian pengobatan, meskipun ia merasakan efek dari pengobatan itu sangat menyiksa dirinya, namun ia selalu kuat karena Devan selalu menemaninya dan keluarga Devan juga selalu menyemangatinya.
Bahkan Devan sudah beberapa bulan tidak masuk kantor, ia membantu pekerjaan papinya dari rumah, dengan begitu ia bisa selalu mengawasi anak dan istrinya, siap siaga jika sewaktu-waktu istrinya mengeluh kesakitan maka dialah orang pertama yang akan memberinya pertolongan atau jika sewaktu-waktu butuh ke rumah sakit, Devan selalu siap.
Di usianya yang ke empat tahun Delvin sudah mulai memasuki sekolah, Delvin berangkat sekolah bersama oma nya dan di antar oleh supir pribadinya.
Selama Delisha menjalani pengobatan Aleza memang berperan penuh dalam mengurus Delvin, mulai dari mandi, makan, tidur, bermain dan semuanya bahkan sekarang sekolah pun Aleza yang mengurusnya.
Hari sudah malam namun Devan masih berada di ruang kerjanya, akhir-akhir ini kerjaan kantor memang menumpuk.
Delisha sedang duduk berseberangan meja dengan Devan, ia menatap Devan yang sedang fokus dengan layar laptop di depannya, Delisha menopang dagu dengan telapak tangannya ia terus menatap Devan seolah tidak ada bosannya menatap lelaki di depannya ini.
Devan menghentikan kegiatannya, tanganya terulur untuk meraup wajah istrinya. "Napas! Segitunya ngelihatin aku sampe lupa napas."
"Kalau aku nggak napas mati dong." dengus Delisha karena lamunannya buyar gara-gara Devan.
"Kamu tidur aja duluan, nanti kalau udah selesai aku nyusul."
Delisha menyeret kursinya sampai di sebelah Devan lalu meletakkan kepala di atas meja sembari menatap Devan. "Aku tunggu kamu sampai selesai."
Devan menghela napas pelan, istrinya memang keras kepala dan kadang masih manja.
Devan melanjutkan kegiatannya, ia kembali fokus ke layar laptop di depannya dan sesekali melirik Delisha yang berada di sampingnya.
Delisha terus menatap Devan yang sedang sibuk dengan dokumen dan laptopnya, namun perlahan matanya terasa berat dan terpejam.
Devan yang melihat itu pun tersenyum kecil, tangannya terangkat untuk mengelus pipi istrinya, ia beranjak dari kursinya lalu mengangkat tubuh istrinya untuk di pindahkan ke kamar, setelah itu dirinya akan kembali melanjutkan tugasnya yang tertunda.
*
*
Duh telat update nih, gara-gara nonton drakor sampai lupa waktu dan lupa kewajiban. π€π€π€