Because Baby

Because Baby
Part 28



*


*


Devan langsung menarik kerah jaket Reno. "Dimana Delima??!!"


"Gue tidak tau." jawab Reno.


"BUKK!!"


Devan melayangkan kepalan tangannya di pipi Reno hingga sudut bibirnya berdarah. "KASIH TAU GUE DIMANA DELIMA!!"


"Ampun ampun, gue beneran tidak tau dimana Delima berada."


Devan menghempaskan tubuh Reno kasar. "Kalau gitu lo harus nganter gue ke tempat persembunyiannya Ayah Delima!"


"Gue nggak bisa, gue lagi kerja."


Devan kembali menarik kerah jaket Reno. "Antar gue atau tempat lo ini gue bakar?!!"


"Oke, gue antar." ujar Reno pasrah, dia tidak mau kalau sampai Devan nekat membakar tempat ini.


Devan menarik kasar lengan Reno untuk mengikuti langkahnya keluar dari gedung tersebut.


Devan sampai di tempat parkiran tadi bersama Reno di belakangnya. "Masuk!!" titah Devan pada Reno setelah membuka pintu mobilnya.


Mau tidak mau Reno tetap masuk.


Alvin mengernyit, dia bingung kenapa yang di bawa Devan bukan Delisha tapi seorang pria. "Delisha mana Dev?" tanya Alvin.


Devan menyandarkan tubuhnya di dekat pintu mobil, jaga-jaga jika Reno mau kabur. "Dia tidak disini, mungkin dia masih di tempat Ayah tirinya."


"Terus kita mau kesana?" tanya Alvin lagi.


"Iya, bersama dia." ujar Devan sembari menunjuk Reno dengan dagunya.


Devan mengeluarkan handphonenya lalu mengaktifkan GPS nya. "Kita berpisah disini, lo cari bantuan pada polisi, tapi ingat kita bermain halus disini jangan sampai kedatangan polisi malah akan menyelakai Mommynya Delvin. Gue yang ketempat itu sama dia, dan GPS gue sudah aktif, lo bisa melacak gue dimana pun gue berada."


"Kenapa harus pakai polisi Dev?" tanya Alvin.


"Biar tuntas sekalian, lo mau jika suatu saat nanti si tua bangka itu akan membawa kabur Mommynya Delvin lagi?" jawab Devan.


"Okay, gue setuju kita berangkat sekarang." ujar Alvin lalu dia memasuki mobilnya.


Devan juga segera memasuki mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju tempat persembunyian Rey Ayah tirinya Delisha.


*


*


🌴🌴🌴


"Jon, ini si Remon kemana sih? Lama banget, tanganku sudah gatal ingin segera menghitung pundi-pundi rupiah darinya." ujar Rey pada Joni anak buahnya.


"Sebentar lagi Bos." jawab Joni.


"Lepaskan aku!!!" teriak Delisha dengan sisa-sisa tenaganya.


Rey mencengkram rahang Delisha dengan tangannya. "Heh!! Bisa diem nggak!! Sebentar lagi aku akan kirim kamu ke luar negeri biar nggak bisa kabur sekalian!"


Delisha menggeleng. "Aku mohon jangan lakukan itu, aku tidak bisa berpisah dengan anakku."


"Dimana wanita cantik itu?" tanya seorang pria bertubuh besar, membuat Delisha bergidik ngeri.


"Hai, Remon lama banget sih?" tanya Rey.


"Biasa lah, orang penting selalu sibuk." jawab Remon pria bertubuh besar itu. "Mana wanitanya?"


Rey menoleh ke arah Delisha. "Waow ini mah bukan cantik lagi tapi ini bidadari."


"Aku mau kamu bawa dia jauh dari sini dan jangan sampai kabur!!" ujar Rey.


Remon mendekati Delisha sembari menatapnya dari atas sampai bawah. "Ini mah sayang kalau di kasih ke pelanggan, mending buat gue pribadi aja."


Tatapan Remon membuat bulu kuduk Delisha merinding, tatapan dari Remon seolah menelanjanginya hidup-hidup.


Remon melempar segepok uang kepada Rey. "Gue mau mencobanya dulu, lo berdua keluar!"


Dengan senang hati Rey dan Joni keluar dari kamar tersebut.


Air mata Delisha mengalir deras, Delisha beringsut mundur dan terus mundur hingga di sudut ranjang. "Tolong jangan lakukan, kumohon." pinta Delisha.


"BRAKK!!"


Suara dobrakan pintu utama. Remon langsung membekap mulut Delisha.


*


Devan sudah berhasil mendobrak pintu. "Delimaaa." teriak Devan.


"BUKK!!" satu pukulan di layangkan Devan ke hidung Rey, membuat hidung Rey mengalir darah segar.


Rey menghapus darah yang mengalir di hidungnya. "SIALAN!!" Rey akhirnya membalas pukulan dari Devan.


Terjadilah perkelahian panjang Devan melawan Rey dan Reno melawan Joni.


"Tolooooong..."


"PLAKK!!"


Devan mendengar suara Delimanya minta tolong dan suara tamparan membuat Devan membabi buta lalu memukul Rey habis-habisan hingga terkulai lemas tak berdaya.


"BUKK!" Satu pukulan terakhir Devan layangkan di perut Rey.


"Lo jaga mereka berdua! Tunggu sampai polisi datang." titah Devan pada Reno.


Reno mengangguk lalu Devan kembali mendobrak pintu.


Satu


Dua


Tiga


Tiga kali dobrakan pintu berhasil terbuka.


"Lepasin dia! Atau mau gue pukul habis-habisan kayak teman-teman lo yang di luar?"


Remon mengangkat kedua tangannya. "Ampun ampun, gue nyerah."


"Pergi lo!!!" usir Devan.


Remon berjalan menuju pintu sedangkan Devan berjalan mendekati ranjang.


"BUKK!!"


Tiba-tiba Remon berbalik lalu menendang punggung Devan hingga Devan jatuh tersungkur.


"DEVAANN.." Delisha menjerit histeris.


Devan menegakkan tubuhnya. "SIALAN!!! LO NANTANGIN GUE??!!"


"BUKK BUKK BUKK BUKK BUKK!" Devan memukul Remon membabi buta lagi.


Delisha memejamkan matanya rapat-rapat dia ngeri melihat perkelahian itu.


Devan menyeret Remon keluar kamar dan mengikatnya menjadi satu mereka bertiga.


"Lo tetap harus jaga mereka bertiga." titah Devan lagi pada Reno.


Devan kembali ke kamar menyusul Delisha lalu membuka tali yang mengikat tangan Delisha.


'Cup'


'Cup'


'Cup'


'Cup'


'Cup'


Devan menghujani wajah Delisha dengan kecupan lalu berakhir dengan memeluk tubuh Delisha erat seerat-eratnya. "Kamu baik-baik saja kan Delima?"


"Aku takut Devan." adu Delisha pada Devan.


Devan mengusap belakang kepala Delisha. "Jangan takut lagi, kamu sekarang sudah aman."


Delisha membalas pelukan Devan tak kalah erat.


"Sha."


Suara Alvin membuat tubuh Devan menegang, dengan berat hati Devan melepas pelukannya pada Delimanya.


*


*


Yang penasaran dengan visual Alvin dan Delvin bisa langsung buka di grub Author ya😍


*


Ini hanya khayalan semata jadi jika ada beberapa hal yang tidak masuk akal harap maklum πŸ™πŸ™


*


Jangan lupa budayakan klik jempol setelah membaca, karena energi Author ada disitu.