Because Baby

Because Baby
Part 69



*


*


🌴🌴🌴


*


Sudah beberapa minggu ini Devan berada di luar kota, setiap pintu kamar Delima terbuka ia selalu berdo'a kalau yang membuka pintu tersebut adalah Devan, lelaki yang selalu memperlakukan dirinya seperti putri, lelaki yang selalu bermanja-manja dengannya, lelaki yang mau menuruti semua keinginannya seperti ayahnya, bersama Devan, Delima bisa bermanja-manja seperti pada ayahnya dulu, Delima merindukan Devan.


Hari sudah mulai gelap itu tandanya akan ada seorang pria yang akan memasuki kamarnya, Delima mulai cemas jantungnya berdetak lebih cepat bahkan keringat dingin mulai keluar.


Bagaimana jika yang memasuki kamarnya adalah pria tua yang akan memperlakukan dengan kasar? "Cepat pulang Dev." kata Delima dalam hati.


Akhirnya pintu kamarnya benar-benar terbuka dan munculah seorang pria muda, mungkin umurnya lebih tua dari Delima selisih sedikit.


"Huftt... dia lagi." Delima mendengkus sebal ternyata pria yang kemarin mendatanginya lagi, semenjak Devan pergi pria itu selalu mendatanginya.


"Delima." ucap pria itu setelah memasuki kamar Delima.


Delima hanya menatap pria yang sedang berjalan mendekatinya.


Pria itu mengeluarkan setangkai bunga dari balik tubuhnya. "Untukmu." ucapnya sembari menyerahkan bunga tersebut pada Delima.


"Aku tidak butuh itu Jer!"


"Ayolah Delima, diterima bunga ini dan pergilah bersamaku, aku akan membebaskanmu dari tempat kotor ini." ujar Jeri.


"Aku tidak bisa!" tolak Delima.


"Andai Devan tidak beristri dan Devan yang mengajakku pergi dari sini aku tidak akan berpikir dua kali." batin Delima.


Jeri berdiri di depan Delima yang sedang duduk di tepi ranjang kemudian mencondongkan tubuhnya, tangannya terangkat untuk mengelus pipi Delima. "Aku mencintaimu Delima."


"Tapi aku tidak!" tolak Delima.


"Meskipun kamu tidak mencintaiku tapi aku tetap bisa menikmati tubuhmu." ucap Jeri kemudian mengecup pipi Delima.


Delima memalingkan wajahnya ke samping kanan dan Jeri pun duduk di sebelah kanan Delima. "Puaskan aku malam ini Delima." bisiknya membuat Delima merinding.


"Aku akan terus kesini sampai kamu mau menerimaku, aku tidak rela jika ada pria lain yang menyentuh tubuhmu. Kamu hanya milikku Delima, pria lain tidak boleh menyentuhmu sedikit pun."


"Kenapa kamu tidak mencari wanita lain jer? Bukankah di luar sana banyak wanita lain yang lebih cantik, lebih terhormat dan pastinya lebih bersih, tidak kotor seperti diriku."


"Tapi tubuhmu candu bagiku."


"....." Delima tidak menanggapi perkataan Jeri.


"Kamu mau uang berapa? Katakan! Aku akan membayar berapapun yang kamu mau." ujar Jeri.


Delima hanya menggeleng, dirinya tidak bisa pergi dari sini, kalau dirinya pergi dari sini pasti tidak akan bertemu dengan Devan lagi.


Jeri beranjak dari ranjang kemudian menarik tangan Delima. "Lupakan perkataanku barusan! Aku mau kita bersenang-senang malam ini." ucapnya kemudian menarik tubuh Delima ke dalam pelukannya.


Delima hanya bisa diam membisu dalam pelukan Jeri, memberontak pun percuma karena akibatnya pasti berakhir dengan pukulan.


"Dimana pria yang selalu boking kamu itu Delima? Udah bangkrut?"


"Siapa?"


"Itu yang di bilang Reno, katanya kamu punya pelanggan tetap."


"Oh..." Delima hanya menjawab dengan ber oh ria.


"Kok cuma oh?"


Delima mengedikkan bahu.


"Mulai sekarang tidak ada yang boleh menyewa kamu lagi selain aku!"


Delima membulatkan matanya. "Kenapa gitu??!!"


"Karena aku tidak mau ada pria lain yang menyentuhmu." jawab Jeri.


Delima hanya menatap Jeri dengan tatapan tidak suka.


Sudah cukup lama Jeri mengajak Delima bicara sekarang waktunya bergulat di atas ranjang.


*


🌴🌴🌴


*


Sudah menjadi kebiasaan Delima selalu gelisah di setiap malam tiba, dia selalu was-was jika pintu kamarnya terbuka berharap dan selalu berharap jika yang membuka pintu kamarnya adalah Devan.


Pintu kamarnya terbuka membuat jantung Delima berdetak lebih kencang, rasa takut selalu menghampirinya.


Kali ini yang datang bukan pelanggannya melainkan Reno sang mucikari, dia mengantarkan makan malam untuk Delima.


"Tuh makan malam buat lo." kata Reno setelah meletakkan bungkusan makanan di atas meja. "Ada dua pria yang mau boking lo, lo pilih siapa?"


"Siapa?"


"Kedua pelanggan lo lah, siapa lagi!"


"Itu tau, mereka tadi menghubungi gue mau boking lo."


"Devan, suruh Devan yang masuk."


"Okey." jawab Reno kemudian melangkah menuju pintu, sebelum membuka pintu Reno kembali menoleh. "Siapa yang berani bayar mahal dia yang masuk."


Delima langsung lari menyusul Reno. "Tolong jangan lakukan itu, biarkan Devan yang masuk."


"Lo main hati sama dia?"


Delima terdiam sejenak. "Karena dia baik." jawab Delima.


"Keputusan di tangan gue!" kata Reno kemudian membuka pintu dan keluar dari kamar Delima.


Delima Kembali ke ranjang lalu duduk di tepi ranjang. "Bagaimana jika Jeri yang membayar Reno lebih mahal?" tanyanya dalam hati.


Delima masih enggan untuk memakan makanannya dia masih terus memikirkan Devan. "Berarti Devan sudah kembali?" gumamnya.


Akhirnya pintu terbuka membuat Delima takut untuk melihat siapa yang memasuki kamarnya.


"Delima..."


Suara Devan membuat Delima menoleh ke arah pintu. "Devan?" Delima langsung beranjak dari tempatnya lalu lari menuju pintu untuk memeluk Devan.


Devan sedikit membungkuk kemudian meletakkan kedua tangannya di bawah pantat Delima lalu mengangkat tubuh Delima. "Kangen?"


"Enggak!" jawab Delima sembari memindahkan kedua tangannya dari pinggang beralih ke leher Devan.


"Kok peluk-peluk?"


"Kangen oleh-olehnya." jawab Delima beralasan.


"Tapi aku lupa membawa oleh-olehnya Delima."


Delima langsung merosotkan tubuhnya dari gendongan Devan. "Ah kamu mah gitu! Nyebelin!!" rajuknya kemudian duduk di kursi.


"Ngambek??"


"....." Delima tidak merespon Devan.


Devan terkekeh, wanita di depannya ini seperti memiliki kepribadian ganda, kadang dewasa tapi kadang juga kekanak-kanakan.


Delima memalingkan wajahnya ke samping. "Malam ini nggak boleh deket-deket!!"


"Kamu nggak kangen si emprit?"


"Nggak!!" jawab Delima.


"Tapi dia kangen kamu loh."


"Bodokk!!"


Devan mengangkat tubuh Delima dari kursi lalu memindahkannya ke ranjang. "Aku bawa sesuatu buat kamu."


Delima langsung mendongak. "Apa?"


Devan mengeluarkan kotak kecil dari dalam saku jaketnya. "Menghadap sana dulu aku pakein."


Delima menuruti perintah Devan, Delima memutar tubuhnya membelakangi Devan.


Devan membuka kotak kecil itu lalu mengambil isinya kemudian memasangnya di leher Delima. "Sekarang boleh menghadap sini." ujar Devan setelah selesai memasangkan kalung di leher Delima.


Delima beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju lemari untuk bercermin. "Ini cantik sekali Dev."


"Kalung itu terlihat cantik karena yang memakainya juga cantik."


Delima kembali ke ranjang lalu memeluk erat tubuh Devan. "Makasih Dev, seharusnya kamu tidak usah membelikan barang sebagus ini, kamu sering kesini aja aku sudah sangat bahagia."


"Andai kamu tidak beristri Dev" batin Delima.


"Aku udah kasih kamu oleh-oleh, sekarang aku minta imbalannya."


"Imbalan apa?"


"Aku merindukanmu Delima." bisik Devan lalu mengecup ceruk leher Delima.


Delima melepas pelukannya. "Tapi aku maunya kamu merayu aku dulu!"


"Minta yang lain aja Delima, aku tidak bisa merayu." Devan mencoba peruntungan.


"Pokoknya aku mau kamu merayu aku dulu!!" kekeuh Delima.


Delima meminta seperti itu karena beberapa hari yang lalu ada pria yang pandai merayu dirinya.


"Oke.. oke.." jawab Devan, lalu dia mengeluarkan handphonenya untuk meminta pertolongan pada mbah Google.


*


*


Untung di masa itu sudah ada mbah Google coba kalau belum?


Si emprit bakal ngambek karena kedinginan. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚