
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan dan Delisha sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju hotel dimana Devan akan menghadiri meeting disana.
Seperti rencana sebelumnya Devan meeting dan Delisha akan makan siang.
Devan memarkirkan mobilnya di basement hotel kemudian ia melihat jam di pergelangan tangannya. "Ayo turun, aku anter kamu ke resto dulu setelah itu aku akan meeting."
"Aku bisa sendiri Dev."
"Aku anter, aku harus memastikan kalau kamu aman disana." ujar Devan kemudian ia membuka pintu mobil.
Delisha pun melakukan hal yang sama, ia menuruni mobil, Devan menggandeng tangan Delisha melangkah menuju resto.
"Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya!" Devan berujar sembari menarik kursi untuk Delisha. "Pesan makanan sendiri, sebentar lagi meeting di mulai."
"Iyaa..."
Devan meninggalkan Delisha di resto, ia melangkah menuju lift, setelah lift terbuka ia segera masuk menuju dimana ballroom berada.
Delisha membuka buku menu kemudian ia melambaikan tangannya memanggil waitress untuk memesan makanan.
Setelah memesan makan siangnya Delisha menunggu makanannya datang sembari mengedarkan pandangannya di sekitar resto, resto tersebut memang outdoor jadi ia bisa melihat pemandangan di luar dan kendaraan yang berlalu lalang tidak jauh dari tempat dirinya duduk, namun pandangannya terhenti pada seorang pria yang sedang berjalan terburu-buru, Delisha langsung menunduk menyembunyikan wajahnya dengan buku menu. "Kenapa sih ada Jeri disini?" batin Delisha.
Setelah beberapa saat Delisha mengangkat wajahnya ia melihat di sekitar dengan ragu, takut kalau Jeri masih di sekitar resto, ternyata sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan pria itu, Delisha bernapas lega, bukan tanpa alasan Delisha menghindari Jeri, pria itu terobsesi pada dirinya dan waktu di pernikahan Aisyah jelas-jelas pria itu masih menginginkan dirinya, ternyata pria itu belum bisa move on.
"Silahkan.." suara seorang waitress yang telah selesai meletakkan pesanannya mengagetkan Delisha. "Terima kasih."
Seorang waitress tersebut meninggalkan Delisha dan Delisha mulai memakan makan siangnya dalam diam sembari sesekali melihat pemandangan di sekitar.
Makanan Delisha telah habis dan ia masih duduk di kursi sampai Devan datang, ia memainkan handphonenya untuk mengisi waktunya supaya ia tidak jenuh menunggu kedatangan Devan.
Setelah menunggu cukup lama akhirnya Devan datang, namun di luar dugaan Devan tidak datang sendiri melainkan bersama seorang pria dan pria itu adalah Jeri.
Delisha kembali menyembunyikan wajahnya dengan buku menu dan berharap Jeri akan berpisah dengan Devan sebelum sampai di sebelahnya.
"Sayang..." Devan telah sampai di sebelahnya mau tidak mau Delisha mengangkat kepalanya kemudian menoleh dengan ragu-ragu dan yang ia takutkan menjadi kenyataan Jeri masih bersama Devan.
"Delima?"
Devan langsung menyadari panggilan itu, pria yang menyebut nama itu berarti adalah pria yang pernah menjadi pelanggan Delisha. "Maaf pak Jericho, dia istri saya namanya Delisha bukan Delima."
Jericho tidak menghiraukan perkataan Devan ia menatap Delisha dalam, ia sangat yakin wanita yang sedang duduk berseberangan meja denganya adalah Delima, wanita yang dulunya menjadi candu baginya.
"Kenalkan pak, dia Delisha istri saya." ucap Devan pada Jericho lalu beralih menatap istrinya. "Kenalkan sayang, dia pak Jericho, seorang pengusaha muda yang sekarang ini sedang bekerja sama dengan perusahaan kita." Devan mencoba biasa saja dan seformal mungkin supaya tidak menimbulkan kecurigaan Jericho.
Jericho masih belum bisa merespon perkataan Devan, ia masih tenggelam dalam keterkejutannya dan belum kembali ke alam sadarnya.
Merasa tidak ada respon dari Jericho, Devan menepuk bahu Jericho. "Anda baik-baik saja?"
Jericho tersentak kaget. "Oh iya pak."
Delisha beranjak dari kursi kemudian menggandeng lengan Devan. "Ayo kita berangkat."
"Saya duluan pak."
"Oh iya." Jericho masih belum bisa berkata apa-apa selain mengiyakan apapun perkataan Devan, ia sangat yakin wanita itu adalah Delima namun ia belum bisa berbuat apa-apa karena ada Devan yang mengaku sebagai suaminya.
Devan dan Delisha meninggalkan Jericho yang masih tenggelam dalam keterkejutannya, mereka melangkah menuju basement tempat mobilnya tadi terparkir disana.
"Jadi Jericho itu adalah mantan pelangganmu? Laki-laki yang bertemu denganmu waktu di pernikahan Aisyah?" tanya Devan setelah memasang seatbelt nya.
Mereka telah memasuki mobil dan bersiap menuju rumah sakit.
"Iya." jawab Delisha. "Aku tidak menyangka akan bertemu dengannya lagi dan dia adalah rekan kerjamu?!"
Devan membuang napas kasar, bisa ribet urusannya jika Jericho mengetahui bahwa Delisha adalah Delima, mengingat mereka sekarang sedang menjalin kerja sama.
Jika Jericho mau menerima kenyataan bahwa Delima sudah menjadi miliknya itu tidak masalah, tetapi masalahnya Jericho terang-terangan masih menginginkan Delima dan itu bisa berimbas dengan perusahaannya jika Jericho bermain licik.
"Kamu benar."
Devan mobilnya membelah jalan menuju rumah sakit.
*
π΄π΄π΄
*
"Bagaimana perkembangan pengobatan Delisha?" tanya Ezra.
Mereka sedang berkumpul di kamar Delvin, sekedar ngobrol dan menemani bocah gembul itu bermain sebelum tidur.
"Kemajuan yang pesat pih dan semoga sebentar lagi Delisha sembuh." jawab Devan sembari merangkul Delisha.
"Syukurlah." sahut Aleza.
"Berarti kita bisa nambah cucu lagi mih." kelakar Ezra.
"Do'a in ya pih." pinta Delisha.
"Itu pasti, tanpa kamu minta pun kami selalu mendoakan kesembuhanmu."
Devan menarik lengan Delisha. "Kita ke kamar yuk."
"Delvin?"
"Kan ada opa dan oma nya."
"Biar Delvin tidur bersama kami, kalian istirahat duluan." sahut Aleza.
"Ya sudah." ujar Delisha pasrah kemudian ia melangkah menuju ranjang anaknya beserta Devan di sampingnya. "Bunda ke kamar ya, nanti Delvin bobo sama opa dan oma."
"Ya bunda.."
Delisha mencium pipi gembulnya Delvin lalu bergantian Devan yang melakukan hal tersebut.
Setelah puas menciumi anaknya Devan dan Delisha keluar dari kamar anaknya menuju kamar mereka.
Devan membuka pintu kamarnya kemudian mereka memasuki kamar tersebut dan langsung menuju ranjang.
"Sejauh apa dulu kamu dan Jeri memiliki hubungan." tanya Devan, ia masih penasaran tentang Jericho, jika di lihat sekilas sepertinya Jericho adalah seorang pria baik-baik, rasanya tidak mungkin ia menyewa wanita malam untuk menyalurkan hasratnya.
Delisha menarik selimut untuk mereka berdua hingga sebatas pinggang. "Dia sama seperti kamu, selalu berlangganan menyewa aku."
"Hanya itu?!"
"Dia juga pernah menyatakan perasaannya padaku. Aku mengira dia sudah melupakan aku dan sudah memiliki kehidupan sendiri bersama wanita lain."
"Tetapi dia masih menginginkanmu sayang."
"Aku juga tidak menyangka Dev."
"Kita harus pandai menyimpan rahasia ini, jangan sampai dia mengetahui kebenarannya."
"Itu pasti."
Devan menarik tubuh Delisha ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan membiarkan dia mengambil kamu dariku!"
Delisha mendongak kemudian mengecup rahang Devan. "Aku juga tidak akan membiarkan diriku di ambil olehnya."
"Tidurlah, i love you."
"I love you too."
*
*
I love you semua... kok jadi ketularan Devan dan Delisha ya wak wak wak. π π π