
π΄π΄π΄
Sudah beberapa bulan ini Devan menjadi sangat kacau, penampilan yang tidak serapi biasanya, rambut yang hanya di sisir asal, dia juga membiarkan bulu jambangnya tumbuh hingga menutupi dagu dan rahangnya.
Sampai saat ini Devan masih mencari keberadaan Delima, yang dia sesalkan adalah kenapa dia tidak mempunyai foto Delima.
Sudah larut malam Devan masih menatap kejauhan dari balkon kamarnya, dia berdiri hanya dengan mengenakan boxer dan kaos pendek padahal hari ini turun hujan membuat udara menjadi dingin hingga menusuk tulang.
Setelah bercerai dengan Karin, Devan memang kembali kerumah orang tuanya.
Padahal sebelum menikah Devan tinggal di apartemen untuk mencari kebebasan, berbeda dengan sekarang, Devan sudah tidak lagi bermain perempuan, dia merasa kesepian di apartemen dan memutuskan untuk tinggal bersama orang tuanya lagi meskipun kadang dia jengah ketika melihat kedua orang tuanya selalu berdebat hanya karena masalah sepele.
"Kamu dimana Delima?" Lirihnya, dengan otak yang terus berfikir mencari cara untuk menemukan Delima nya lagi.
"Mau sampai kapan kamu seperti itu Dev?" Suara Ezra dari ambang pintu balkon.
Devan menoleh dan mendapati Papi Mami nya sudah berada di ambang pintu. "Papi Mami kok belum tidur?"
Aleza mendekati putranya dan berdiri di samping Devan. "Kamu sendiri kok belum tidur?"
"Belum ngantuk Mi." Jawab Devan.
Ezra memilih duduk di kursi panjang sebelah pintu. "Kamu jangan seperti itu Dev, carilah wanita lain! Papi Mami juga pengen punya penerus."
Aleza menoleh ke belakang menatap suaminya. "Papi jangan menekan Devan seperti itu dong!"
"Tapi Papi juga pengen cucu Mi."
"Mami juga pengen Pi, tapi kita tidak boleh memaksa Devan juga. Kasian dia, kalau dia jadi terburu-buru dan salah pilih gimana?"
"Mami itu dari dulu selalu manjain Devan." Dengus Ezra.
Devan menatap jengah kedua orangtuanya. "Devan ngantuk, Mami Papi silahkan keluar."
Sebelum keluar dari kamar Devan, Aleza mencium pipi putranya. "Cepet tidur jangan bergadang!"
Devan hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah Papi Mami keluar, Devan segera mengunci pintu dan naik ke ranjang untuk istirahat.
Devan menatap langit-langit kamarnya, pikirannya melayang entah kemana perlahan matanya mulai terpejam dan Devan memasuki alam mimpi.
π΄π΄π΄
Hari-hari Delisha di sibukkan dengan pekerjaannya, semakin hari semakin banyak pelanggan yang datang dan itu membuat Delisha kewalahan, akhir-akhir ini Delisha pulang larut malam karena harus mengejar pesanan pelanggannya.
Delisha keluar dari butik kecilnya beserta Indah penjahitnya, Delisha menutup pintu sedangkan Indah menunggu di kursi.
Delisha telah selesai mengunci pintu dan memasukkan kunci tersebut ke dalam tasnya.
Indah mengangguk dan mereka berjalan menuju pinggir jalan untuk mencari kendaraan untuk pulang.
Delisha dan Indah berdiri di pinggir jalan sambil berbincang-bincang, mereka asik berbincang sampai tidak menyadari kalau ada sebuah mobil BMW 8 Series warna Alpine White berhenti tepat di depan mereka.
Sebelum si pengemudi keluar dari mobilnya, Delisha sudah bisa menebak siapa pemilik mobil itu, siapa lagi kalau bukan Alvino, Delisha sudah hafal betul dengan mobil itu.
Alvin keluar dari mobil itu dan berjalan hingga di samping Delisha. "Ayo aku anter pulang."
Delisha belum menjawab, dia menatap Indah.
"Sekalian aku anter teman kamu." ujar Alvin seolah dia tau apa yang ada di fikiran Delisha.
Indah segera menggeleng. "Tidak usah, aku bisa pulang sendiri."
Delisha menarik lengan Indah. "Ayolah Ndah, masa kita berpisah disini dan pulang sendiri-sendiri."
Indah menghembuskan nafasnya berat. "Baiklah." ujar Indah pasrah.
Mereka memasuki mobil dan pulang.
Alvin mengantar Indah terlebih dahulu setelah itu barulah dia akan mengantar Delisha.
"Sudah makan malam?" Tanya Alvin setelah menurunkan Indah dan melajukan mobilnya kembali.
"Sudah."Jawab Delisha singkat.
"Mau makan sesuatu? biasanya wanita hamil kan suka ngidam." Tanya Alvin lagi sembari tetap fokus menyetir.
Delisha menggeleng sebagai jawaban.
Alvin menepikan mobilnya di pinggir jalan dekat kontrakan Delisha, dia mematikan mesin mobil dan tangannya bergerak hendak membuka pintu namun langsung di tahan oleh Delisha.
Kedua alis Alvin menyatu. "Kenapa Sha?"
"Tidak usah turun Dok! Ini sudah malam sebaiknya anda pulang."
Alvin terkekeh. "Ini juga mau pulang tapi aku mau bukain pintu dulu buat kamu."
Delisha menggeleng. "Aku bisa sendiri, emm aku boleh tanya sesuatu Dok?"
"Silahkan." Jawab Alvin.
Delisha menatap Alvin dan tatapan dari Delisha membuat Alvin sedikit gugup dan jantungnya bekerja lebih cepat. "Kenapa Dokter baik sekali denganku?"
Hanya satu pertanyaan dari Delisha namun itu sukses membuat Alvin kelabakan mencari jawabannya.
Jawaban Alvin apa ya kira-kira???