
*
*
๐ด๐ด๐ด
Semalam penuh Devan mengelilingi kota ini, namun belum menemukan tanda-tanda keberadaan Delisha, bahkan di gang-gang sempit dan kumuh pun ia datangi.
Matahari sudah mulai menampakkan sinarnya, tubuh Devan sudah letih matanya juga berat. Devan memutuskan untuk pulang, beristirahat sejenak mengisi tenaga untuk mencari Delimanya lagi.
Devan memutuskan pulang ke rumah Delisha untuk mencari petunjuk keberadaan Delimanya.
Devan menepikan mobilnya di dekat jalan rumah Delisha, dia keluar dari mobil lalu masuk gang dan berjalan sebentar hingga sampai di depan rumah Delisha.
Devan membuka pintu lalu membaringkan tubuh lelahnya di sofa lalu memejamkan matanya sembari memikirkan cara untuk menemukan Delimanya.
Baru sesaat Devan memejamkan mata, namun tiba-tiba pintu terbuka.
"Alvin?"
Alvin mengernyit. "Lo ngapain disini Dev? Sepagi ini?"
"Lo sendiri ngapain?" Devan tidak tidak menjawab pertanyaan Alvin, namun malah balik bertanya.
Alvin meletakkan susu segar yang ia bawa di atas meja lalu duduk di sofa. "Gue emang setiap pagi mampir kesini bawain susu buat Delvin. Loh kok sepi, Delisha sama Delvin mana?"
Devan beringsut duduk. "Delvin dirumah gue sama Mami, dan Mommynya Delvin-." Devan menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Di bawa kabur orang."
Alvin langsung berdiri lalu memegang kedua bahu Devan sembari menggoyang-goyangkannya. "LO BILANG APA??!!" tanya Alvin panik.
"Mommynya Delvin dibawa kabur orang." Devan mengulang kata-katanya.
Alvin menghempaskan tubuh Devan. "Terus lo dengan santainya tiduran disini?! Dan lo nggak ngasih tau gue!!"
"Gue juga baru sampai disini Vin, semalaman gue juga sudah nyari keberadaan Mommynya Delvin tapi belum ketemu, dan maaf gue nggak kepikiran buat ngasih tau lo tentang hilangnya Mommynya Delvin, gue juga panik. Saat ini bukan waktunya untuk saling menyalahkan, kita harus segera mencari cara untuk menemukan Mommynya Delvin secepatnya sebelum terjadi apa-apa."
"Lo benar." ujar Alvin. "Handphone, kita bisa melacak keberadaan Delisha jika dia membawa handphone."
"Dari semalam handphonenya sudah tidak aktif." jawab Devan.
Alvin berjalan cepat ke arah kamar Delisha dan di ikuti oleh Devan.
Alvin membuka pintu kamar. "Sial!" umpat Alvin setelah melihat handphone Delisha di atas kasur. "Handphonenya di tinggal Dev."
Devan meraih handphone Delisha lalu memeriksanya. "Pantes semalam panggilan Delima terputus, ternyata handphonenya lowbat." batin Devan.
Devan keluar kamar mencari petunjuk di ruangan lain.
Sedangkan Alvin mengobrak-abrik isi kamar Delisha mencari apapun yang bisa jadi petunjuk. Mata Alvin tertuju pada secarik kertas yang di tindih sebuah kotak kecil.
"Tolong aku, Ayah tiriku sudah menemukan aku."
Alvin langsung lari keluar dari kamar Delisha. "DEVAN!!" Alvin berteriak kencang sembari melangkah cepat mencari keberadaan Devan.
"Ada apa Vin?" jawab Devan dari ruang sebelah. "Apa lo menemukan sesuatu?"
Alvin menunjukkan kertas itu pada Devan.
Devan langsung membacanya. "Gue tau harus mencari Mommynya Delvin kemana."
Alvin mengernyit. "Kemana?"
"Ikut gue." ujar Devan, lalu dia berlari menuju mobilnya, dan di ikuti oleh Alvin di belakangnya.
"Kita bawa mobil masing-masing aja Vin!" ujar Devan sembari membuka pintu mobilnya.
Devan lebih dulu melajukan mobilnya, di ikuti Alvin di belakangnya.
Alvin tidak tau kemana Devan akan membawanya, yang jadi pertanyaan Alvin saat ini adalah. Kenapa Devan bisa tau tentang masalah ini? Kenapa Devan bisa sepeduli ini pada Delisha? Kenapa Devan lebih tau tentang hilangnya Delisha? Alvin akan menyimpan pertanyaan-pertanyaannya sendiri, menunggu sampai Delisha ketemu barulah dia akan mempertanyakannya pada Devan.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh akhirnya Devan dan Alvin sampai di sebuah gedung.
Gedung dimana Delisha dulu menjadi wanita malam.
Devan memakirkan mobilnya lalu dia turun menghampiri Alvin. "Lo tunggu disini dulu Vin! Biar gue yang masuk."
Devan memang sengaja menyuruh Alvin menunggu di luar, tidak mungkin kan kalau nanti Alvin akan mendengar percakapannya dengan Reno mucikari itu, karena Devan masih merahasiakan tentang Delima dari Alvin.
Alvin hanya menurut, meskipun banyak pertanyaan yang dia simpan dalam hati, termasuk gedung ini, Alvin memang tidak pernah ke tempat seperti ini jadi Alvin tidak tau menau tentang tempat seperti ini.
Devan memasuki gedung itu dan langsung mencari keberadaan Reno.
"RENO!!" Devan berteriak kencang.
Devan kalau sudah emosi memang mengerikan apalagi jika menyangkut tentang Delimanya.
*
*
Maaf ya Author update nya dikit-dikit ๐
Menjelang lebaran kerjaan Author mulai menggunung, tapi Author akan usahakan rajin update kok๐
Terima kasih buat yang sudah like, komentar dan vote๐๐
makin banyak Author bakal makin rajin update ๐คญ๐คญ