Because Baby

Because Baby
Part 6



🌴🌴🌴


Beberapa hari kemudian Delima sudah di perbolehkan pulang, Delima akan tetap keluar dari rumah sakit itu meskipun belum tau tujuannya.


Dia terus berjalan hendak keluar dari rumah sakit tersebut namun langkahnya terhenti saat sampai di depan ruang Mushola. "Masih bolehkah diriku masuk?" gumamnya pelan, Delima menunduk dan air matanya kembali tumpah.


Sampai ada usapan di bahunya yang membuat Delima tersentak kaget. "Dokter?"


Dokter mengusap lembut bahu Delima. "Kenapa tidak masuk?"


Delima menggeleng. "Aku tidak pantas untuk masuk Dok." lirihnya di iringi derai air mata.


Dokter menuntun Delima untuk duduk di kursi tunggu. "Siapa yang bilang tidak pantas? sebesar apapun dosa kita asalkan kita mau bertaubat Tuhan pasti akan menerima kita."


Delima kini menatap Dokter muda itu. "Terima kasih Dok, anda banyak membantu saya."


"Jangan panggil saya Dok terus, nama saya Alvino kamu bisa panggil saya dengan sebutan Alvin. Nama kamu siapa?"


"Saya Delim-- eh, nama saya Delisha." jawab Delima agak kaku, karena dia sudah lama tidak menggunakan nama aslinya 'Delisha Maharani' bertahun-tahun dia menggunakan nama samaran dalam pekerjaannya sehingga dirinya tidak terbiasa dengan nama aslinya sendiri.


Alvin tersenyum. "Nama yang cantik."


Delisha beranjak dari kursi tersebut. "Saya pamit dulu Dok- eh, emm Alvin. Terima kasih banyak atas semua bantuannya."


"Sama-sama Sha, aku panggil kamu Sha aja ya?"


Delisha tersenyum. "Terserah anda."


Delisha meninggalkan Alvin yang masih duduk di kursi tersebut.


Mumpung masih pagi Delisha harus segera mencari kontrakan untuk tempat tinggalnya.


Uang hasil jual kalung itu mau dia pakai buat modal usaha, agar dirinya bisa tetap bertahan hidup dan membesarkan anak dalam kandungannya.


🌴🌴🌴


Devan sudah kembali, seperti biasa dia akan segera menemui Delima, wanita yang satu bulan penuh berputar-putar di otaknya.


Devan memicingkan matanya. "Kok di tolak?"


Reno menggeleng. "Delima sudah tidak kerja lagi disini."


Devan langsung menarik kerah baju Reno. "Kasih tau gue, dimana Delima sekarang?"


Reno berusaha melepaskan tangan Devan, Devan ngeri kalau sudah marah."Terakhir gue meninggalkannya di rumah sakit."


Devan menghempaskan kasar tubuh Reno. "Brengsekk!!! dia sakit terus lo tinggalin!!"


"Dia sendiri yang minta."


Devan mengepalkan tangannya kuat dan mendaratkannya di pipi Reno. 'Bukk' "Sialan!!!! Sekarang kasih tau gue dimana rumah sakit itu?"


"Rumah sakit**** ****" jawab Reno sembari mengusap sudut bibirnya yang berdarah.


Devan segera meninggalkan Reno dan menuju rumah sakit, dia berharap semoga masih bisa bertemu Delima.


Setelah sampai di rumah sakit Devan berjalan terburu-buru menelusuri setiap lorong rumah sakit mencari keberadaan Delima, namun nihil Devan sudah mengelilingi rumah sakit dan bertanya pada suster ataupun Dokter, bahwa tidak ada nama Delima yang terdaftar di rumah sakit itu, Devan sudah kehilangan jejak Delima.


"Kamu dimana Delima?" gumam Devan.


Devan memasuki mobilnya dan pulang kerumah karena memang Devan tadi tidak langsung pulang kerumah, dia lebih memilih buat ketemu Delima dulu, tapi apa yang dia dapatkan hanya lah kekecewaan.


Devan memasuki rumah dan langsung ke ruang kerjanya, seperti biasanya Leo sudah berada di ruangan itu sejak tadi.


Devan duduk di kursi kebesarannya. "Leo. Ada tugas baru buat kamu."


Leo membungkuk. "Siap tuan."


"Cari tau semua data wanita bernama Delima di seluruh kota ini, kalau perlu sampai di luar kota!"


Leo kembali membungkuk. "Saya akan segera mencarinya sesegera mungkin."


Ketemu nggak tuh Delima nya Devan??