
*
*
"Lo berangkat lusa bersama Leo." ujar Devan membuat Alvin bernapas lega karena dirinya tidak perlu menganggur lama-lama. Sebenarnya kalau Alvin mau dia bisa memegang perusahaan milik Papanya, namun Alvin belum mau memegang tanggung jawab sebesar itu apalagi dulu dia kuliahnya mengambil jurusan kedokteran jadi butuh waktu buat belajar jika ingin meneruskan perusahaan Papanya.
"Siap." jawab Alvin lalu menatap Leo. "Kali ini petualanganmu denganku Leo."
Leo mengangguk. "Baik Tuan." jawab Leo lalu dia duduk di kursi dekat meja kerja Devan.
"Sebentar lagi meeting terakhir kita bersama kolega mengenai proyek kita yang baru, kali ini lo yang memimpin meeting itu." ujar Devan lalu dia beranjak dari sofa beserta Delvin dalam gendongannya.
Alvin langsung menarik lengan Devan. "Gue belum bisa, kenapa jadi gue yang di suruh memimpin meeting?"
"Itu di ajak." Devan menggerakkan sedikit kepalanya menunjuk Leo dengan dagunya.
Alvin masih menahan lengan Devan. "Elo sendiri ngapain kalau gue yang memimpin meeting itu?"
Devan menarik lengannya yang di tahan oleh Alvin. "Gue mau bersama Delvin dong, salah lo sendiri ngajak Delvin kesini segala, kan gue jadi malas ikut meeting."
"Kok gitu?" protes Alvin.
Devan tidak memperdulikan protesnya Alvin, dirinya melangkah menuju kamar pribadinya, namun Alvin tetap mengekorinya hingga masuk ke dalam kamar pribadi Devan.
Devan mendudukkan Delvin di ranjang. "Delvin tunggu disini sebentar ya."
"Iya Dad." jawab Delvin.
Devan menarik lengan Alvin menuju ruang kerjanya lagi. Devan memilih beberapa berkas lalu menyerahkannya pada Alvin. "Nih berkasnya." Lalu Devan menepuk bahu Alvin. "Good luck."
Alvin dan Leo keluar dari ruang kerja Devan menuju ruang meeting.
Setelah menepuk bahu Alvin, Devan meraih laptop dan beberapa berkas lalu membawanya ke kamar pribadi untuk dikerjakan disana di temani Delvin.
Devan menaiki ranjang serta duduk di sebelah Delvin, Devan memangku laptopnya jemarinya bergerak lincah di atas keyboard setelah menemukan apa yang ia cari Devan mengarahkan layar laptopnya pada Delvin. "Delvin mau mainan yang mana?"
Mata Delvin langsung berbinar. "Yang ini Daddy." tunjuk Delvin dengan antusias pada sebuah mobil-mobilan dan robot.
"Okey." Jemari Devan kembali bergerak lalu mengarahkannya pada Delvin lagi. "Sekarang Delvin pilih mau makan yang mana?"
Delvin nampak berpikir sejenak sepertinya dia bingung dengan menu yang diperlihatkan oleh Daddy-nya. "Emm, ini Dad."
"Okey." jemari Devan bergerak kembali beberapa saat lalu menutup laptopnya. "Sudah beres, kita tinggal menunggu mainan dan makanan Delvin datang." ujar Devan sembari meletakkan laptopnya di atas meja.
Devan belum meninggalkan Delvin untuk mengerjakan tugasnya sebelum mainan dan makanan Delvin datang.
*
*
π΄π΄π΄
*
Devan mengantar Delvin pulang sudah malam, bahkan Delvin sudah tertidur semenjak perjalanan ke rumahnya.
Devan mematikan mesin mobilnya lalu keluar beserta Delvin yang sudah terlelap dalam gendongannya. Devan berjalan sebentar memasuki gang menuju rumah Delisha.
Delisha yang sedari tadi sedang makan malam segera meletakkan sendoknya lalu berjalan menuju pintu serta membukanya. "Devan. Langsung masuk kamar saja!" ujar Delisha sembari membuka pintu lebar-lebar lalu menutupnya kembali setelah Devan masuk. Delisha mengekori Devan sampai depan pintu kamar lalu membukanya.
Devan masuk kamar dan Delisha kembali ke ruang makan untuk menyelesaikan makan malamnya.
Devan membaringkan Delvin serta menyelimutinya, sebelum keluar kamar Devan menciumi pipi gembul Delvin. Setelah puas mencium anaknya Devan berjalan keluar kamar menyusul Delisha di ruang makan.
Devan berdiri di belakang Delisha lalu mencondongkan tubuhnya. "Aaaa..." Devan membuka mulutnya tepat di samping Delisha. Delisha menoleh, Devan langsung mengecup pipinya. "Devan ih!!"
Devan terkekeh lalu menarik kursi sebelah Delisha dan duduk di kursi tersebut.
"Mau makan?" tanya Delisha.
Devan menggeleng. "Tadi sudah makan sama Delvin."
Delisha telah selesai makan malam dia meletakkan sendoknya lalu meneguk air putih, kemudian Delisha beranjak dari kursi lalu membereskan meja makannya. Devan juga beranjak lalu berjalan menuju sofa.
Setelah semua sudah beres Delisha menyusul Devan di sofa lalu duduk di sebelah Devan. "Lain kali kalau kalau ngajak Delvin pergi jangan sampai malam ya! Aku kesepian dirumah sendirian."
"Iyaa." jawab Devan lalu membaringkan tubuhnya di sofa serta memakai paha Delisha sebagai bantalan.
"Devan. Kamu ngapain sih?!!" protes Delisha.
Bibir Devan mencebik. "Kenapa sih gini aja nggak boleh? Sekarang nyium kamu juga nggak boleh, apa-apa nggak boleh." protesnya.
Delisha menunduk menatap wajah Devan yang berada di atas pahanya. "Karena aku tau, kalau kita berdekatan apalagi ciuman kamu tidak akan bisa menahan diri kamu."
"Emang kenapa kalau kita melakukan itu lagi? Toh dulu kita juga sering melakukannya bahkan sampai menghasilkan Delvin." ujar Devan tanpa dosa.
Delisha melotot tajam ke arah Devan. "Aku nggak mau melakukan itu lagi Dev, itu dosa."
Devan bangkit dari posisinya lalu duduk di sebelah Delisha. "Tapi kalau nyium ini bolehkan?" tanya Devan sembari menyentuh bibir Delisha.
Delisha menggeleng lalu Devan mendekatkan wajahnya. "Aku janji hanya sebatas bibir nggak turun."
"Janji?" tanya Delisha memastikan.
"Iyaa."
"Awas kalau berani tur--." ucapan Delisha terpotong karena Devan sudah membungkam mulut Delisha dengan bibirnya.
Devan mencium serta menghisap bibir Delisha dengan agresif karena Devan sudah lama merindukan bibir manis itu.
Tangan Delisha terangkat untuk memainkan kancing kemeja Devan. Devan meraih tangan Delisha yang memainkan kancing kemejanya lalu mengalungkannya di lehernya sendiri, Devan melepas pagutan mereka sesaat. "Jangan di buka! Kalau kamu buka kancing kemejaku aku nggak yakin akan bisa menahan diriku lagi." ujar Devan lalu kembali memagut bibir Delisha, tangan kanan Devan berada di pinggang Delisha serta menariknya supaya tubuh mereka semakin rapat, sedangkan tangan kirinya berada di tengkuk Delisha lalu menekannya pelan untuk memperdalam ciuman mereka.
*
*
Delisha-Delisha, melakukan itu tidak boleh dengan alasan kalau itu dosa. Tapi kalau ciuman boleh, emang kalau ciuman tidak dosa?? π€£π€£π€£
Sama aja keless, cuma beda besar kecilnya dosa tersebut.
Itu kenapa jadi tangan Delisha yang nakal? Bukan tangan Devan? π€¦ππ
Karena mereka sama-sama hilang kendali ketika mereka sedang berdua.