Because Baby

Because Baby
Part 74



*


*


🌴🌴🌴


*


Hari ini Devan masuk ke kantor karena ada beberapa hal yang mengharuskan dirinya terlibat dalam penyusunan proyek-proyek selanjutnya, lagi pula Delisha sudah pulang dari rumah sakit jadi ada maminya dan pembantu rumahnya yang menjaganya.


"Sudah selesai Dev?" tanya Ezra, ia telah selesai meeting dan sekarang masuk ke ruang kerja anaknya.


"Sudah pih." jawab Devan tanpa menatap papinya karena tatapannya fokus ke layar laptop di depannya.


"Kalau bicara tuh menatap lawan bicaranya Dev!" dengus Ezra.


"Nanggung pih, dikit lagi selesai."


"Kamu mau pulang?"


"Iya, ini kan hampir jam makan siang."


"Tinggu sebentar." ujar Ezra kemudian keluar dari ruangan Devan menuju ruangannya.


Tak butuh waktu lama, Ezra sudah kembali beserta paper bag di tangannya


"Apa itu pih?"


"Robot buat cucu papi, beberapa hari yang lalu temen papi mengurus bisnis ke luar negeri, dan dia tau kalau papi punya cucu laki-laki terus dia bawain ini dari sana." jawab Ezra sembari meletakkan paper bag di atas meja kerjanya Devan.


Devan menaikan satu alisnya. "Kenapa di titipin ke Devan? Kan nanti papi pulang, kenapa nggak ngasih sendiri aja?"


"Apa bedanya? Semakin cepat sampai rumah, bukankah Delvin akan semakin senang?"


"Iya, terserah papi." jawab Devan lalu menutup layar laptopnya serta membereskan meja kerjanya.


"Papi mau makan siang dulu."


Ezra keluar dari ruangan anaknya untuk makan siang.


Setelah kepergian papinya, Devan juga keluar dari ruangannya beserta paper bag pemberian papinya di tangannya.


Devan berjalan menuju lift pribadinya, hanya orang-orang tertentu yang menggunakan lift tersebut, ia memencet tombol lalu pintu lift terbuka, Devan melangkah memasuki lift tersebut.


'Ting' Pintu lift terbuka, Devan telah sampai di lantai dasar, ia melanjutkan langkahnya menuju lobby. Sebelum sampai lobby, mobilnya sudah berhenti di depan pintu lobby membuat Devan mempercepat langkahnya, ia sudah tidak sabar ingin segera pulang untuk bertemu dengan bocah gembulnya apalagi anaknya pasti suka dengan mainan yang ia bawa.


"Silahkan tuan." ujar salah satu supir di perusahaan sembari menyerahkan kunci mobil pada Devan.


"Terima kasih." balas Devan setelah menerima kunci tersebut, Devan membuka pintu penumpang lalu meletakkan paper bag yang ia bawa tadi, setelah meletakkan paper bag, Devan menutup pintu mobilnya lalu berjalan beberapa langkah sampai di pintu kemudi kemudian membuka pintu kemudinya dan memasuki mobilnya,


Devan melajukan mobilnya membelah jalan menuju rumah.


***


Devan memasuki rumahnya dan langsung menuju ruang makan karena ini jam makan siang, sudah pasti anaknya sedang makan siang bersama oma nya.


"Delvin..." panggilannya sembari terus melangkah menuju ruang makan.


Delvin menoleh ke arah sumber suara. "Daddy..."


Devan meletakkan paper bag di atas meja lalu menciumi anaknya.


"Itu apa Dev?" tanya Aleza yang duduk di sebelah Delvin.


"Robot, oleh-oleh dari temen pap--"


Kalimat Devan terpotong saat melihat anaknya berdiri di kursi hendak meraih paper bag yang ia letakkan.


"Delvin, jangan berdiri di kursi nanti jatuh." Devan meraih paper bag yang ia letakkan lalu menyerahkannya pada Delvin. "Nih daddy ambilkan."


Delvin membuka mainannya dengan antusias dan Aleza menggunakan kesempatan itu untuk menyuapi Delvin.


Devan beranjak dari tempatnya ia menyempatkan diri untuk mencium anaknya lagi sebelum melangkah menuju kamarnya.


Namun Devan terperanjat kaget saat melihat Delisha sedang duduk di depan cermin sambil menangis, ia mempercepat langkahnya sampai di sebelah Delisha. "Delima, kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanyanya panik.


Delisha menoleh, pipinya basah karena air mata. "Lihat aku Dev! Sekarang aku jelek, aku tidak cantik lagi." keluhnya.


Devan menghapus air mata di pipi Delisha. "Tidak ada yang bilang kamu jelek sayang... kamu cantik dan selalu cantik di mataku, kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku temui."


Delisha kembali menatap pantulan dirinya di cermin sembari menyentuh pipinya yang tirus. "Sekarang aku kurus, tidak seksi lagi, nanti lama-lama kamu tidak mau denganku la--"


"Ssttt...!!!" Devan menempelkan jari telunjuknya di bibir Delisha. "Jangan pernah punya pikiran seperti itu!! Aku sadar kalau aku dulu suka main perempuan, aku mengerti ketakutanmu. Tapi tolong percaya padaku! Aku tidak akan berpaling darimu apapun keadaanmu. Kamu tau sendiri kan semenjak aku bertemu denganmu, aku telah menyerahkan seluruh hatiku padamu."


"Tapi aku yang dulu dan aku yang sekarang beda Dev."


Devan sedikit membungkuk lalu mengangkat tubuh Delisha, setelah itu ia mengambil alih tempat duduk yang di duduki Delisha barusan kemudian memangku Delisha di atas pahanya yang kokoh. "Percayalah padaku Delima, percayalah bahwa tidak ada ruang di hatiku untuk perempuan lain, hanya kamu pemilik hatiku dan kamu satu-satunya ratu di hatiku."


Delisha melingkarkan kedua tangannya di leher Devan serta menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Devan.


Tangan Devan terangkat untuk mengusap lembut belakang kepala Delisha. "Mana mungkin aku akan berpaling dengan wanita lain Delima, sedangkan aku tau kalau kamu berkorban seperti ini demi aku, demi kebahagiaan kita semua."


Setelah Delisha tenang, Devan kembali mengangkat tubuh Delisha untuk di pindahkan ke ranjang. "Tidur siang dulu, nanti malam kita jadi ke pernikahannya Aisyah kan?"


"Jadi lah, masa kita tidak kesana?! Aku maunya tidur siang sama kamu."


Devan menaiki ranjang lalu membaringkan tubuhnya di sebelah istrinya. "Manja banget sih istriku." ucapnya sembari menarik tubuh Delisha ke dalam pelukannya.


"Kamu udah makan siang?" tanya Delisha, ia sedang mencari posisi ternyaman dalam dekapan Devan.


"Belum." jawab Devan singkat.


Delisha langsung menjauhkan tubuhnya. "Makan siang dulu Dev!"


Devan menarik tubuh Delisha lagi. "Nanti aja kalau kamu udah tidur."


"Sana! Aku bisa tidur sendiri."


"Iya ya." Devan bangkit dari posisinya lalu menuruni ranjang.


***


Delisha sedang memoles wajahnya di depan cermin sambil menunggu Devan yang sedang mandi, ia dan Devan akan menghadiri pesta pernikahannya Aisyah.


Delisha memakai pakaian yang tertutup, mengingat kondisinya saat ini.


Devan keluar dari kamar mandi sembari mengeringkan rambutnya dan handuk yang melilit di pinggangnya.


Devan melangkah sembari terus mengeringkan rambutnya sampai di belakang Delisha, ia menatap Delisha lewat pantulan di cermin. "Cantik banget sih."


Delisha memutar bola matanya malas.


Devan mencondongkan tubuhnya lalu mencium pipi Delisha.


"DEVAN!!!!" protes Delisha. "Tuh kan jadi rusak."


"Tinggal poles lagi apa susahnya sih?!" jawab Devan lalu terkekeh.


Delisha mengerucutkan bibirnya, ia jengkel dengan Devan karena make-upnya sudah selesai malah di rusak oleh Devan.


"Bibirnya nggak usah di maju-majuin gitu! Minta di cium? Biar lipstikny---"


Kalimat Devan terpotong karena cubitan di pinggangnya, jangan tanya dari siapa! Dari siapa lagi kalau bukan dari Delisha. Devan mencekal tangan Delisha yang sedang mencubit lalu menariknya sampai ke dalam pelukannya.


Delisha memberontak dalam dekapan Devan. "DEVAN!!" Kamu nyebelin sih??!! Bukan cuma riasan wajahku yang kamu rusak, tapi pakaianku juga." protes Delisha. "Aku jelek ya?" tanya Delisha sedih.


Devan melepas pelukannya dan beralih menangkup wajah Delisha. "Kenapa nanya kayak gitu lagi sih?! Kan aku udah bilang, kalau kamu tuh cantik. Emang badan kamu kurusan, tapi kamu tetep cantik kok, buktinya aku mau nyium kamu, meluk kamu."


"Gak usah gombal! Sana ganti baju terus berangkat!"


*


*


Maaf ya, yang nikah Aisyah dulu bukan Alvin. 🤭🤭🤭