
*
*
π΄π΄π΄
*
Setelah akad nikah selesai keluarga Devan tidak langsung pulang, mereka kerumah Bambang terlebih dahulu karena disana ada syukuran kecil-kecilan.
Alvin menatap Devan dan Delisha yang sedang berjalan menuju kamar karena mereka telah selesai bersalaman dengan beberapa sanak saudara yang datang, mungkin untuk ganti pakaian pengantin mereka. Tak bisa di pungkiri kalau hati Alvin masih sakit meskipun dia sudah merelakan Delisha bersama Devan.
Alvin melangkah keluar rumah Bambang dia ingin jalan-jalan di sekitar rumah tersebut, langkah Alvin terhenti saat melihat Delvin dan Lestari sedang memakan es krim di bangku tepi jalan dekat supermarket, Alvin melanjutkan langkahnya hingga di depan mereka. "Delvin?"
Delvin langsung mendongak. "Ayah?"
"Boleh ikut gabung?" tanya Alvin pada Lestari.
Lestari hanya mengangguk lalu Alvin duduk di sebelah Delvin. Delvin di tengah-tengah antara Alvin dan Lestari.
Lestari sedikit memiringkan kepalanya. "Kok Delvin manggil anda Ayah?"
Alvin tersenyum tipis. "Karena aku memang sudah menganggap Delvin seperti anakku sendiri begitupun sebaliknya."
Lestari kembali mengangguk lalu menatap lurus kedepan sembari memakan es krim yang tersisa di cup nya.
Alvin mengulurkan tangannya ke arah Lestari. "Boleh kenalan."
Lestari menoleh, tangannya terangkat lalu menerima uluran tangan Alvin. "Lestari, panggil Tari aja."
"Alvino, panggil aja Alvin." jawab Alvin lalu melepas jabatan tangan mereka.
Delvin telah menghabiskan es krim di tangannya lalu mendongak sembari menarik ujung kemeja Alvin. "Ayah, Apin mau naik mobil." rengeknya.
Alvin terkekeh lalu mengusap puncak kepala Delvin. "Ayah tidak membawa mobil sayang."
Bibir Delvin langsung mengerucut lucu. "Bulek tidak pernah ajak Apin naik mobil." adu bocah gembul itu.
"Bulek tidak punya mobil Vin, lagian Bulek tidak bisa nyetir." jawab Lestari.
Alvin merogoh handphonenya yang berada di dalam saku celana lalu membuka layarnya. "Kita pesan Grab aja ya?"
Mata Delvin langsung berbinar lalu bertepuk tangan. "Asiiikk..."
Setelah memesan Grab Alvin memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celana, mereka tinggal menunggu mobil Grab datang.
Tak butuh waktu lama, mobil yang di tunggu-tunggu akhirnya sampai di depan mereka, Alvin segera mengangkat tubuh Delvin lalu membuka pintu penumpang. "Apin nggak mau duduk di situ." protes Delvin.
"Delvin maunya duduk dimana?" tanya Lestari.
Delvin menunjuk kursi kemudi. "Apin maunya duduk disitu sama Ayah."
Dulu memang Alvin selalu memangku Delvin ketika sedang menyetir.
Alvin terkekeh lalu menggigit pelan pipi gembulnya Delvin, Alvin gemas dengan bocah itu, dirinya tidak membawa mobil tapi bocah itu malah meminta duduk di depan. "Kamu tuh anaknya siapa sih? Hmm? Gemesin banget."
Senyum Lestari terbit di sudut bibirnya saat melihat sifat kebapak-bapakan nya Alvin.
Alvin menutup pintu penumpang lalu berjalan menuju pintu samping kemudi. "Boleh saya yang mengemudikan mobil ini pak?" tanya Alvin pada sang sopir.
"Tidak boleh mas!" jawab sang sopir.
Sang sopir menerima dompet Alvin lalu keluar dari mobil dan kembali masuk ke kursi penumpang.
Lestari duduk di kursi samping kemudi, sedangkan Delvin duduk dikursi kemudi di pangku Alvin.
Alvin mencondongkan tubuhnya lalu meletakkan dagunya di puncak kepala Delvin. "Kamu kalau sudah besar mau jadi pembalap ya?"
Delvin mengangguk dengan cepat, ketertarikan bocah itu terhadap mobil memang sangatlah besar.
Alvin menyalakan mesin mobilnya. "Siap?"
"Let's go." seru Delvin, membuat Alvin terkekeh lalu mengacak rambut Delvin.
Alvin mulai melajukannya mobilnya. "Ayah tidak tau daerah sini loh, nanti kalau kita nyasar gimana?"
"Tenang aja mas, kan ada Tari ada pak sopir juga." ujar Lestari dan di angguki oleh Alvin.
Mereka tidak jauh-jauh hanya mengelilingi di sekitar daerah situ.
*
*
π΄π΄π΄
Devan dan Delisha memasuki kamar, mereka sudah gerah dengan pakaian pengantin yang mereka kenakan. Delisha duduk di kursi depan meja rias sembari melepas aksesoris yang menempel di kepalanya.
Devan melepas jas nya lalu menggulung lengan kemejanya hingga sebatas siku kemudian berdiri di belakang Delisha untuk membantunya melepas aksesoris yang menempel di kepalanya.
Karena Devan telah membantunya melepas aksesoris di kepalanya, Delisha beralih membersihkan make-up di wajahnya lalu menatap Devan lewat pantulan di cermin. "Kenapa tadi emasnya 26 gram? Kenapa tidak 30 gram atau 50 sekalian?"
Devan telah berhasil melepas beberapa aksesoris lalu meletakkannya di atas meja. "Emangnya kamu maunya segitu?" Devan tidak menjawab pertanyaan dari Delisha namun malah balik bertanya. "Kalau kamu maunya segitu, besok kalau kita sudah pulang aku akan belikan emas yang kamu mau."
Delisha menghentikan kegiatannya lalu menggeleng cepat. "Bukan begitu, aku hanya penasaran aja kenapa emasnya 26 gram."
Devan berjalan beberapa langkah lalu duduk di atas meja rias, berhadapan dengan Delisha. "Kenapa emasnya 26? Karena umur kamu sekarang 26 tahun dan karena kita menikah juga di tanggal 26."
Delisha meringis. "Oh, gitu ya? Aku tidak terlalu memperhatikan." Delisha telah selesai membersihkan wajahnya lalu meletakkan beberapa kapas di atas meja. "Kamu keluar dulu! Aku mau ganti baju."
"Kenapa aku harus keluar?" protes Devan.
Delisha memutar bola matanya malas. "Kalau kamu disini terus liatin aku ganti baju, nanti kamu kepengen!"
"Enggak!" jawab Devan cepat.
Delisha membuang napas berat. "Ya sudah." ujar Delisha pasrah lalu dia mulai membuka kancing kebayanya, namun baru dapat dua kancing bagian atas yang terbuka Devan langsung meraih pundak Delisha lalu menariknya hingga Delisha berdiri di hadapan Devan yang duduk di atas meja rias. Devan menarik dagu Delisha lalu mengecup singkat bibirnya lalu kecupan Devan turun di tengah buah dada Delisha yang sudah terlihat bagian atasnya. "Aku sudah boleh meminta jatahku sekarang kan?"
Delisha menjauhkan wajah Devan yang berada di depan buah dadanya. "Di luar masih ada banyak orang Dev! Tadi katanya nggak pengen?"
"Emang, tadi nggak pengen tapi sekarang pengen, pengen banget malah."
"Tuh kan bener dugaan aku, tadinya kamu nggak pengen, sekarang jadi pengen karena lihat aku buka baju. Nanti malam aja ya? Kita nginep di hotel kan?"
Devan mengangguk lalu melepaskan Delisha kemudian tersenyum menyeringai. "Okey nanti malam, kalau aku minta sekarang paling kamu ngasih jatah satu, kalau nanti malam bisa lebih. Aku keluar dulu."
*
*
Jika sewaktu-waktu ada 21++ lewat jangan kaget ya! π€£π€£π€£